Ns. Kidah Adzkaaunnisa
Rumahku, 3 November 2011

Dokter itu tampak lemas, jas putihnya sudah berntakan...
disela handscoon yang masih dipakainya, terdapat bekas-bekas cipratan darah manusia masih merah kental,
Tuhan..lindungilah ibuku...ujarku dengan tangan gemetaran....
kutau dokter itu pasti mau bilang sesuatu ke bapak...aku yakin sekali,

"Keluarga pasien....???"
Segera sja bapak berdiri...
"Ini keluarganya ibu ...... yang didalam??"
"iya dok, saya suaminya" ketegasan bapak masih dapat terlihat, urat-urat cemas masih bersemayam didahinya...aku yakin dia pasti tak bisa tenang dri tadi...

'Mari pak, ada yang saya ingin bicarakan sebentar"

Dokter itu membawa bapak masuk ke kamar rahasia, aku juga tak tahu itu ruangan apa....tapi yang jelas, mereka menutup pintu...apa yang sebenarnya terjadi???rasa penasaranku malah makin dalam, kucoba melangkah perlahan ke dekat pintu, ku dngar pembicaraan mereka....

"Ada apa dok?" itu pasti suara bapak, pikirku...
"begini pak, tanpa mengurangi rasa peduli kami terhadap ibunya, dan juga bayinya..kami sudah berusaha sekuattenaga, tapi bayinya terlalu besar, ia tak bisa lahir hanya dengan mengandalkan kontraksi ibunyaa, kami juga tidk bisa melakukan sectio cesaria karena riwayat kesehatan ibu yang kurang baik untuk operasi....
janinnya sudah lama di pintu pak, ia sudah terminum sedikit air ketuban..., tapi jika tidak segera diambil tindakan darurat, maka kami tak bisa menjamin keselamatan bayi, kita serahkan saja semua sama yang diatas....

"Lalu, apa yang bisa dilakukan dok??" kudengar samarr-samar suara bapak mulai parau...ia mungkin tak bisa berdaptasi dengan apa yang baru saja didengarnya...aku sendiri bingung apa maksud dokter itu...

"satu2nya jalan, bayinya harus divakum pak!"
Kudengar lama sekali spasi pembicaraan mereka setelah dokter mengatakan tentang vakum itu, mungkin bapak juga bingung apa maksud dokter, sama seperti diriku yang menguping diluar....

"ada sebuah alat yang kami punya, berupa penyedot kepala bayi, dengan tarikan menggunakan masing, mungkin alat ini bisa membantu bayinya untuk keluar"

"apa hal itu bisa membantu, dok??"

"kami sudah melakukan ini pada kasus yang sama sebelumnya, alhamdulillah, ada yang selamat, ada juga yang tidak"

"karena apa dok??"

"kebanyakan bayi yang divakum, sebagian besar sudah terminum cairan ketuban yang sifatnya racun untuk pertahanan tubuh bayi yang masih sensitif dan rendah, jadi itu yang menyebabkan ia tak dapat bertahan...., adapun yang selamat....

Pembicaraan dokter tersebut terhenti....

"kalaupun selamat, sangat beresiko mengalami kegagalan pertumbuhan dan perkembangan yang normal seperti anak-anak lainnya, dn resiko keterbelekangan mental dapt terjdi"

"Namun kami juga tak bisa diam saja pak, takutnya bayi akan terminum cairan ketuban terlalu banyak yang akan menyulitkan kami mengaspirasinya, dan ibu yang sudah tak mampu berkontraksi juga mengkhwatirkan kami"

"Lalu dok? yang terbaik seperti apa?" bapak sudh pasrah, akupun tak dpat menahan lelehan yang sudah sejak tadi membasahi pipiku....

"Kami tetap harus minta persetujuan bapak, untuk melakukan vakum, agar resikonya kelak juga sudah bisa bapak antisipasi"

"lakukan yang terbaik buat ibunya dan anakku dok"

"silahkan bapak tanda tangan"

Apa itu vakum, apa itu persetujuan, apa ekspresi bapak didalam, aku sudah menghilang dari pintu semenjak mendengar adikku kritis, air mata anak2 ini tk dapat dibendung, meski aku belum mengerti, aku tahu...ibu dan adikku sudah berjuang keras didalam sana untuk dapat melihat dunia....

Dokter itu kembali masuk didalam ruang persalinan, maskernya terpasang kembali,, ,sesaat kudengar suara seperti mesin genset alfa mart dpan rumahku berbunyi, apa itu mesin vakum adikku....


 15 menit kemudian,

Dokter keluar membawa adikku yang masih merah....
Bapak terburu2 menyusulnya, aku masuk ke kamar ibu, kuliahat ibu sudah tek berdaya, darah bertumpahan dilantai....para suster sibuk membersihkan dan merawat ibu yang sudah sempoyongan, aku menyusul bapak...

Kulihat adikku yang masih basah, dibantu dengan oksigen.....apa yang sebenarnya terjadi tuhan???apa semua ini???
Adikkku gemuk, badannya besar,,,dokter setengah mati mencubit badannya....hanya satu yang diinginkan orang-orang diruanagan itu.....
mendengarkan suara tangisan dan azan untuknya...

Tapi kawan, adikku tidak menangis, tidak seperti bayi yang kaget melihat dunia maka akan menangis keras...
Adikku diam saja....tali pusatnya sudah dipotong, ia diam saja....matanya tertutup, bibir kecilnya masih mengatup...

tak berapa lama setelahnya, masker oksigen dilepas....adikku dibungkus....

Innalilahi wa inna ilaihi raajiun....

"Maaf pak, kami sudah berusaha semampu kami, namun sepertinya tuhan lebih menyayanginya, ia terlalu banyak minum air ketuban....."

bapak belalu sedih ke kamar ibu, dokter juga..aku masih terbujur kaku depan manusia kecil yang sudah tak bernyawa itu..

"Dek, kau gagah sekali, badanmu bagus, gigimu juga sudah tumbuh...tapi...kenapa kau tak dapat tersenyum sama kakakmu ini??"

"Dek, sewaktu kau masih di perutnya ibu, tak pernahkah kau dengar aku ingin mengajakmu bermain lompat tali ketika kau besar nanti??"

"Dek, apa kau tak pernah mendengar aku ingin mengajarimu membuat dende bulan sabit di pasir lalu kita melompat bersama???

Tangisku pecah....

9 tahun kemudian,
Seminggu lalu, dosen maternitas ibu hasnah memberikan bahan diskusi kelompokku dengan judul "Kelahran Vakum Ekstraksi"

Dan aku membuat makalah itu sambil mengenang adikku

Aku hrus menjelaskan bahwa teknik vakum ekstraksi adlah metode darurat penyelematan bayi yang dapat dipakai agar ia dapat lahir,
Aku harus menjelaskan betapa perawat harus dapat meyakinkan pasien bahwa metode ini bisa digunakan tanpa resiko...
Dan aku harus menjelaskan, bahwa dengan metode ini semuanya akan baik-baik saja....

Tapi tuhan emang Maha penyayang, maha baik....
Kelompokku hanya disuruh mengumpul makalah, tidak untuk persentasi karena keterbatasan waktu...
dan aku.........
.....
0 Responses

Posting Komentar