Kuliah dimanaqi???
_di unhas....
_di UNM...
_di UIN...
_di UMI...
_di UVRI...
_di Poltekkes...
_di Stikes panakukang..
_di Stikper gunung sari..._di Stikes angin mammiri...
_di Stikes angin topan (hahahahah..kalo yang ini asal...)
ataau apalah nama perguruan tinggi di i indo...
ada lagi...
_Di UGM (Cieh..cieh, pasti pintar)
_Di ITB (Pasti palla bikin robot...)
dlll..apaakantu mae..
Waktu penerimaan MABA 2009, saya sempat sedikit menguping cerita di angkot jurusan unhas...
waktu itu, disamping saya....duduk seorang mahasiswi berjilbab, tingginya semampai, kulitnya sawo matang...
disampingya
lagi duduk seorang mahasiswi juga..tapi kontras...rambutnya tergerai
lurus, bajunya sempit, dan rok selutut...kulitnya putih, sepertinya
cina...
lalu seorang ibu yang duduk di depan kami tiba2 buka suara...
"Nak kuliah dimanaqi??"
Gadis berjilbab senyum-senyum, kemudian...
"Iya bu, sayaa kuliah di UNHAS.."
"Jurusan apaqi nak??"si ibu terlihat makin penasaran...
"Pertanian semester 3 bu..."
"Owh..." si ibu mengangguk paham, diiringi anggukanku dalam hati.
"Kalo qt nak??" si ibu mengalihkan ke arah gadis cina...gadis cina cuma pasang ekspresi standar....
"Kedokteran bu..." sepertinya si gadis cina sudah tahu maksud si ibu...
"Owh, semester berapameqi nak?" waktu bertanya pada gadis berjilbab tadi, si ibu tidak bertanya seperti ini...
"Semester 5 bu.."
selanjutnya aksi tanya jawab terus berlangsung antara si ibu dan gadis cina...
kulihat
ekspresi gadis berjilbab sedikit cemburu, mungkin pada dasarnya ia
adalah orang yang cerewet, namun karena tak ada lagi pertanyaan, maka ia
diam-diam saja...
beda dengan gadis cina yang kuliah dikedokteran, ia terus ditanya padahal sebenarnya mungkin ia orang yang pendiam..
berapa kali sudah aku menemukan kejadian seperti ini...
bahkan aku sendiri pernah mengalaminya....
sewaktu
ke UNHAS naik angkot buat kuliah anatomi (numpang karena lab UIN belum
lengkap), aku pernah menjadi korban pertanyaan seperti itu, tapi kali
ini berbeda...yang bertanya adalah seorang mahasiswi juga, begitu si
penanya tahu saya kuliah di UIN, ia tidak melanjutkannya..ia melanjutkan
cerita ke temannya sesama UNHAS...
Tapi, saya punya pengalaman yang mengasyikkan kawand...
hahaha, ini sewaktu akan FINAL parasitologi di UNHAS..Waktu itu saya berangkat sendiri, ada yang menemani...
dengan
entengnya menjinjin tas ransel, saya naik angkot jurusan unhas, waktu
itu banyak juga mahasiswa UNHAS yang naik angkot, tapi semuanya turun
sebelum fak.kedokteran, ada yang turun di peternakan, ada yang di
teknik, dll.Hingga tinggal saya sendiri dan seorang ibu dosen...serta
seorang Mahasiswi POLTEK UP..
begitu bilang KIRI, semua mata tertuju sama saya....(hahahaha, yang ini saya emng yang asli narsis)
mungkin krn sy memberhentikan angkot tepat di depan "FAKULTAS KEDOKTERAN", (hahahaha)
tidak sengaja nah...mank nyatanyaa saya kuliah disitu kok...
hehehee
Kawand, apa sih perbedaan kita kuliah dimanaapun???
okelah
kalo masalah jurusan ...mungkin seperti saya yang kuliah di keperwatan,
kalian mungkin ada yang kuliah di teknik, ada yang kuliah di ekonomi,
pendidikan, bahkan jurusan agaama....
Perbedaan yang kedua, mata kuliah yang didapatkan, kalo yang ini dah pasti beda..hehehe
yang ketiga, perbedaan UNiversitas....apa dengan berbeda kampus, kita tak bisa jadi sarjana..??
apa dengan saya kuliah di UIN, dan mereka yang kuliah di UGM,...Saya tak bisa jadi sarjana...???
apa dengan sayaa yang kuliah di keperwatan, dan mereka yang kuliah di teknik,,,kita tak bisa jadi sarjana???
apa kuliah selain di UNHAS, bukan hal yang baik dan ngetren....
Apa
yang kuliah selain di UNHAS, UGM, atau apalah...kita tidak bisa dapaat
IP yang tinggi???kita tidak bisa menjadi mahasiswaa yang berprestasi???
Mengapa seolah-olah LEBEL menjadi kunci utama kekaguman dan keyakinan seseorang...
kalo kita selesai, yang ada gelarnya juga sama kan..
misal:la becce S.E Yang kuliah di UNHAS, dan La bacco S.E yang kuliah di UIN...kenapa bukan (S.E., UH) atau (S.E.,UIN)...
Kenapa daak sekalian di kasi seperti itu...
Hmm, mungkin bukan cuma sayaa yang pernah mengalami hal seperti ini..masih banyaak kawand2 yang lain...
Kawand, dimanapun kita melanjutkan pendidikan kita, bukan menjadi sebuah masalah untuk kita lebih maju dan mengembangkan diri...
Mau protes soal standar???
emangnya standar yang seperti apa???
la
wong banyak kok para ilmuan2 kita yang dak sekolah dan berpendidikan
tinggi bisa sukses...contohnya Nabi Muhammad sajaa yang cuma diajar
membaca oleh jibril di Gua Hira, bisa menjadi sosok paling kharismatik
pertama di dunia...
Albert einstein yang dak sekolah..thomas alva edison...
Itu semua bukan penghalang bagi kitaa untuk bisa sukses...
Hmm, pernaah dak kalian melihat acara wisuda dikampus kalian masing2...
Tidak lain dan tidak bukan halaman parkirnya akan dipenuhi oleh berbagai mobil...
kalo
kalian mencoba menelusuri mobil2 itu, dibagian belakang ppasti terbuka
dan biasanya duduk seorang nenek paruh baya, ataupun keluarga lainnya
yang juga tidak mau ketinggalan dengan moment spesial itu, mereka tidak
bisaa masuk melihat langsung anak dan cucu mereka meraih sarjana...namun
meskipun panas dengan lelehan keringat, mereka tetap adaa meerasa
bangga ada di tempat itu, mereka tetap setia menunggu..hanya untuk
menoreh kebahagian sepuluh jemari mereka dengan seorang sarjana,,,mau
sarjan pendidkan, pertaniann, kedokteran ataupun teknik...
itu bukan menjadi suatu masalah bagi mereka, ...yang penting pewaris mereka ada yang sudah sarjana...
"Kodonk, sarjanami tawwa anakku"
"Sarjanami cucuku"
"Sarjanami kemenakanku"
"Kullemi pa'bunting njo" (hahahah, kalo yang ini pemikiran yang menurutku agak ekstrim..hehe)
Ndak
usah lagi liat yang sarjana..anak2 miskin yang terlantar dijalan....apa
mereka punya cita2 jadi sarjana???yah kawand, mereka punya cita2, merek
juga mau seperti kaliand, duduk dibangku pendidikan mengeja huruf dan
angka2....tapi...
Mereka sadaar , mereka tidak punya kemampuan materi untuk Zaman keMATERIan seperti sekarang....
Mereka
belajar bersyukur dengan apa yang mereka punya...tapi mereka tetap
bahagia, karena mereka punya kasih sayang dari keluarga dan tuhan..
Tidakkah sedikit terlintas di pikiran kita untuk memperhatikan hal-hal sekecil itu untuk disyukuri,,,??
Kawand, Hidup adalah pilihan, tapi bukan untuk dipilih2....
Dengan
belajar menerima dan menghargai hal kecil, hal itu akan memberi
motivasi kita untuk terus membuat sesuatu yang baru, dan sesuatu yang
lebih besar....
At UIN Library, 28 Juni 2011
By : Kidah tak lagi "Adzka"




Bener banget. Paradigma di masyarakat Indonesia kalau sudah punya gelar sudah hebat, dihormati padahal menurut saya kl sudah punya gelar justru tanggung jawabnya lebih tinggi,Misalnya sudah M.Kom tp g bisa mengopersikan MS.Office. Perlu dipertanyakan kan gelarnya, sedangkan anak yang kuliah di Politeknik dsb yang meski lulus g dapet gelar jauh lebih bisa. Sekarang malah banyak sarjana yang nganggur g bisa menerapkan apa yang sudah dia dapatkan.