“Koran, pak!”
“Koran, pak!”
seruku hangat
“Fajar ya dek!”
seru bapak bersafari dari balik kaca mobil hitam miliknya yang menjadi sasaran
jualanku
“3000 rupiah
pak!” jawabku memasang harga tanpa ditanya.
Bapak itu
menyodorkan uang sepuluh ribu, yah! Bapak-bapak bersafari seperti itu jangan
diharap menyimpan uang seribuan ataupun logam dalam dompetnya, paling-paling
hanya uang merah dan biru, masih beruntung ia bisa mengeluarkan uang ungu.
“Ini pak,
kembaliannya” kupasang tampang senyum pada bapak bersafari
“Makasih ya
dek”, balasnya hangat
Klakson sudah
berbunyi sana-sini, pertanda aku harus segera minggir dari tepi jalan untuk
melihat lampu hijau yang akan menyala sebagai tanda jeda untukku berjualan
Koran hingga lampu merah berikutnya. Bapak bersafari tersenyum tipis menutup
kaca, melaju cepat meninggalkanku bersama debu jalanan.
Aku kembali
menyelinap ke trotoar, menunggu lampu merah berikutnya sambil memeluk erat
koran-koran yang mulai melengket dengan betisku yang menghitam dimakan debu
jalanan, koran ini menjadi tugasku hingga malam hari menjajajakannya, kalau
tidak aku akan dapat muncratan marah dari mandor ullang dan sebagai imbasnya
jatahku akan dikurangi 50 persen dari semestinya, meski begitu aku tak pernah
membenci mandor ullang, ia sekali-kali baik mentraktir kami nasi kuning dingin
3000-an jika dapat rejeki berlebih, namun ia akan sangat galak ketika tugas
jajanan koran kami tidak habis terjual, paling-paling ia hanya akan mengumpat
kasar dan mengatakan kami tak bisa diandalkan, bahkan ancaman memecat kami dari
anggota lopernya pun kerap kali terdengar, namun entah kenapa itu tak urung
juga ia lakukan. . Oh, ya, kami….aku memang tak sendiri menjadi anggota loper
mandor ullang, 3 orang lainnya yang senasib denganku mengadu rezeki juga
menjadi anggotanya, udin, sampar, moncel, serta aku.. Empat tahun lalu semenjak
ditinggal bapak, ibu menjadi stress dan sakit-sakitan sehingga seluruh harta
benda kami habis digadai untuk pengobatannya, tapi ibu juga tak kunjung sembuh.
Hingga sekarang harus tinggal rumah kardus buatan kami dibawah jembatan yang
menjadi satu-satunya tempat pelindung dari hujan dan sengatan matahari, juga
sebagai alas untuk tidur jika lelah. Sepeninggalan bapak, Aku dan ibu diusir
dari rumah kontrakan karena tunggakan 3 bulan, dan juga karena kami kedapatan
mencuri air dari saluran yang telah ditutup karena kami tak mampu membayar. Aku
terpaksa berhenti sekolah. Kami pindah ke rumah kardus, disitu juga aku bertemu
dengan sampar dan moncel, udin sendiri kami bertemu di jalanan pada saat
menjajakan koran.
Senja mulai
nampak, matahari meninggalkan peraduan. Azan magrib mulai berkumandang dimana-mana. Koran masih
ada di tanganku., masih tersisa 3 buah. Kuputuskan berjalan ke mesjid untuk
solat terlebih dahulu.
*****
“nak, kau harus
terus sekolah”
Semburan asap
rokok bapak menyentuh pemadanganku yang menatap lekat matanya ketka aku
dipangkunya malam itu. Kami berdua duduk di teras rumah kontrakan.
“Waktu bapak kecil dulu, saat umur bapak 6
tahun…” Ia kembali menghisap rokoknya
“dato laki-laki
dan perempuanmu juga tak mampu membiayai bapak, hingga suatu hari bapak bersama
teman-teman bapak numpang mobil truk buat pergi ke kantor dinas, bapak ingin
ketemu kapala dinas” ujarnya
Rokok di tangan
bapak mulai memendek, ia menghisapnya sekali lagi, bumbungan asap tebal hitam
bersama pekatnya malam mulai nampak lagi di pemandanganku, bapak menghisapnya
sekali lagi. Sebelum kemudian menaruhnya pada asbak kecil di meja.
“bapak ingin
minta uang sekolah”, lanjutnya mengambil rokok baru.
Aku tetap tak
bergidik. Lebih kupilih menatap lekat matanya dalam-dalam,dengan tangannya yang
mulai tak merangkulku erat karena harus membakar rokok barunya, menciptakan asap baru yang akan
kembali kuhirup sambil mendengar ceritanya.
“betapa gigih
perjuangan bapak bersama teman bapak saat itu, polisi menghadang kami di pintu
gerbang, namun badan kami yang kecil bisa lolos dari lingkaran tangkapan
telapak tangan tebal pak polisi saat itu, polisinya terlalu gemuk, hingga tak
bisa menangkap bapak, khahahaha” bapak mulai tertawa, bumbungan asap kembali
tercipta, aku juga ikut tersenyum.
“kau harus terus
sekolah, nak! hingga kelak kau bisa jadi kepala dinas”, bapak melepas rokoknya
dari mulut kmudian tersenyum kepadaku penuh arti. “dan kelak, jangan kau
biarkan ada anak yang terlantar tak sekolah karena tak mampu, kita harus bisa
jadi pintar dengan sekolah, nak!”. Aku tersenyum lagi mendengar bapak,
kunaikkan bokongku agak tak terlepas dari rangkulannya, aku masih ingin
dipangku bersama seribu kunang-kunang yang berkeliaran di bohlam 5 watt teras
kami. Kucengkram tangan bapak kuat-kuat.
“kelak, kau
harus jadi anak yang kuat, tak boleh cengeng, tak boleh menangis” lanjut bapak
dengan semangat.
“dan kau harus
melindungi ibumu setiap saat, karena kita tak akan tahu apa yang terjadi besok
lusa” lanjutnya.
Sejak hari itu,
jadwal bapak menarikku keluar teras serta memangkuku hangat tak pernah ia
lupakan. Tak lupa pula dengan sebungkus rokok yang akan ia hisap sambil
bercerita. Kalau bukan bercerita pengalaman masa kecilnya yang bersemangat,
bapak akan mengajariku membaca dari buku angka dan huruf yang telah di belikan dari hasil gajinya
sebagai kuli bangunan. Bapakku memang bapak terbaik sedunia.
Hingga saatnya
hari itu,. Saat aku duduk di kelas 3 SD, bapak juga masih bekerja sebagai kuli
bangunan, aku tetap menjalani semua aktivitas seperti biasa. Kesekolah bersama
teman-teman, mendapat pelajaran dari guru, serta belajar dengan sungguh-sungguh
agar bisa jadi kepala dinas sesuai dengan impian bapak. Ketika aku pulang
sekolah, disitulah kejadian naas itu menimpa keluarga kami, aku melihat rumahku
ramai didatangi orang, ada bendera putih terpasang di pagar. Aku belum mengerti
betul apa yang sedang terjadi, sehingga aku masuk ke halaman rumah dan semua
kursi berderet rapi, tenda biru telah dipasang.
“Njo minjo
kodonk bura’nenna, masi ca’di kasiang, namatemi bapakna” seru seorang ibu
berbisik ribut dapat terdengar olehku kapada wanita disebelahnya. Aku bahkan
tak mengerti apa artinya. Aku masuk ke dalam rumah. Kulihat ibu menangis
memeluk sesorang yang terbaring di tutupi kain putih di depannnya. Aku langung
masuk, duduk di samping ibu yang sepertinya tak menyadari kehadiranku.
“Bu, bapak mana?
kenapa ibu menangis?” ujarku menarik baju ibu.
“Ibu, bapak mana? Acara apa ini?” ulangku.
“bapakmu sudah
pergi nak!” air mata ibu tambah deras, aku makin bingung.
“pergi kemana
bu?” tanyaku penasaran. Biasanya jika ada acara besar di rumah, seperti
pengajian ataupun sunatanku dulu, bapak akan menunggu di pintu pagar menantiku pulang
sekolah. Hingga jika ia melihat siluetku, ia akan berlari ke arahku dan
menggendongku hangat dan erat di pelukannnya hingga masuk rumah. Kalau tidak ia
akan mengangkatku ke punggungya sambil menyanyikan lagu balonku ada 5 hingga
semua tamu iri melihat kemesraan ayah-anak kami. Aku memang anak satu-satu yang
dimiliki bapak dari hasil perkawinannya dengan ibu. Bapak sangat menyayangiku.
Sudah kubilang dia bapak terhebat di dunia.
“Pergi ke surga,
nak! Meninggalkan kita” ibu mulai mengelap air mata dengan ujung kerudung hitam
tipis miliknya, sebelum orang-orang yang kebanyakan lelaki datang untuk membungkus orang yang terbaring itu dengan
tikar lalu mengangkatnya pergi. Ibu juga
mulai berdiri, hingga pada akhirnya menarikku, aku masih menatap lekat mata
ibu. Ia mencengkeram tanganku untuk pergi bersamanya mengkuti arah lelaki yang
banyak itu.
“Bu, yang
dibungkus itu siapa, kenapa harus diikuti?” tanyaku memberontak
Ibu tetap saja
menarik tanpa menyadari diriku yang mulai mengeraskan badan. Aku ingin mencari
bapak. Aku tak mau ikut rombongan ini.
Tapi cengkraman
tangan ibu tak sanggup menyaingi kekuatanku. Hingga akhirnya ia menjawab lemah,
“ Itu bapakmu, nak!”
Tiba di
pekuburan, ibu berdiri di samping sebuah lubang besar dengan banyak orang yang
tadi juga berasal dari rumahku. Bapak (yang menurut ibu ada di dalam
bungkusan), kemudian diturunkan dan di timbun oleh lelaki yang banyak tadi.
“Bu, kenapa
bapak di kubur?” tanyaku heran.
“bapakmu sudah
meninggal nak, meninggalkan kita”, sekali lagi jawaban ibu masih sama,
meninggalkan kita, bukannya bapak memang setiap hari meninggalkanku untuk
bekerja, kemudian akan pulang pada siang hari membawakan buku bergambar
untukku. Apa pekerjaan bapak dipindahkan ke dalam tanah?, tapi kenapa harus
dibungkus?, kenapa harus dikubur? Pertanyaan yang masih berputar-putar di
kepalaku hingga pada akhirnya ibu kembali menarikku pulang yang meronta-ronta
ingin tinggal bersama bapak di tempat itu.
*****
Seusai sholat
maghrib, dengan air mata berlinang aku memohon pada tuhan agar ibuku segera
sembuh. Ini juga adalah alah satu rutinitas yang kulakukan seusai sholat. Aku
hanya berdoa agar ibuku cepat sembuh, tak ada doa terbaik selain itu di
pikiranku saat ini.
Kuganti kembali
pakaian sholatku dengan kaos putih kumal tadi. Kulanjutkan perjalanan kembali
ka arah lampu merah untuk menjajakan 3 sisa dagangan koran agar mandor ullang
tak marah-marah dan kembali mengancamku. Namun sayangnya, 3 koran itu tak
kunjung laku segera setelah 5 kali lampu merah hingga malam larut. Kuputuskan untuk
ke tempat pengumpulan.
“Ras, kau sudah berapa kali ku beri tahu,
hah?, kenapa juga kau tak pernah menghabiskan dagangan setiap hari? Apa kau
pikir koran itu tak susah dapatnya? Apa kau mau dipecat?” lagi-lagi suara pekak
mandor ullang harus masuk ditelingaku malam ini.
“Maaf bos, besok
akan kuusahakan” bujukku rapuh agar ia segera membebaskanku.
“Kau ini, janji
terus setiap hari, awas kalau besok tak laku lagi, kupecat betul kau ras!”
bentaknya keras.
“Iya bos, saya
janji”. Lega
Akhirnya aku
diijinkan pulang lebih awal oleh mandor ullang, hal yang sama ia lakukan malam
sebelumnya, ini karena aku beralasan aku ingin segera menemui ibuku yang sakit
dan sendiri di rumah kardus.
*****
Bapak!
Aku tiba-tba
melihat bapak, bapak yang berpakain putih, dan berada di tempat yang sangat
sejuk sama seperti tempatku berdiri sekarang. Bapak kembali berlari ke arahku
seperti dulu, namun tak menggendongku, karena aku sudah besar. Aku sendiri
heran, mengapa dari tempat mandor ullang, aku berencana pulang melihat ibu, dan
tiba di tempat ini, di samping taman yang sejuk dan gedung mewah bertingkat di
belakangnya.
Bapak menarik
tanganku seperti ia akan bercerita untukku ke sebuah kursi panjang depan taman.
Namun kali ini tak ada rokok, tak ada kunang-kunang, dan tak ada bohlam 5 watt,
dan aku tak lagi di pangkunya. Aku hanya duduk disampingnya. Kali ini meja
panjang juga ada di hadapan kami, disana tersuguh berbagai macam makanan yang
aku bahkan bermimpi ingin makan tak pernah. Entah jenis apa makanannya, yang
jelasnya bapak kemudian mengambilkan makanan dalam sebuah piring besar, lalu ia
menyuruhku makan di tempat itu.
“Kau belum makan
kan nak, sehabis berjualan koran dan di marahi, kau pasti lapar. Makanlah!”
“Bapak, ini
dimana?” tanyaku sambil mengunyah renyah.
“Makanlah dulu, kemudian
bapak akan membawamu mengunjungi seseorang!”
Setelah
mengahbiskan makanan lezat itu, bapak membawaku berjalan-jalan mengelilingi
gedung mewah itu dan memasukinya. Belum pernah aku masuk ke gedung sebesar ini.
intriornya sangat indah seperti istana kerajaan. Hingga ia membawaku memasuki
sebuah ruangan.
“Nak, tunggulah
aku disini, aku akan kembali. Temuilah orang yang ada di ruangan itu! Ia yang
akan membangun hidupmu kembali dan menyekolahkanmu, dia adalah bapak kepala
dinas pendidikan” bapak berujar lembut.
Bapak kemudian
pergi dengan cahaya putih kemudian menghilang dari pandanganku, aku mencari
bapak mengelilingi ruangan itu. Tak kudapat. Aku berterak memanggilnya, namun
ia juga tak kembali muncul. Hingga seseorang menepuk pundakku.
“Nak, apa yang
kau lakukan disini?mengapa kau bisa masuk ke sini”
Wajahnya lembut,
bersahaja. Tba-tiba saja aku ingat dia adalah bapak bersafari yang membeli
koranku kemarin di balik kaca mobilnya, dan kenapa dia yang ada disini. Bukan
bapak.
“Aku mencari
bapakku, pak! Dia tadi membawaku kesini” aku menjawab sambil menangis.
“Nak, apa pesan
bapakmu sebelum meninggalkanmu?” ia kembali bertanya lembut sekali.
“Bapak bilang,
aku harus menemui orang di ruangan itu agar dapat kembal bersekolah.” Ujarku
“Akulah orang
itu nak, akulah orang yang ada di ruangan itu kemudian keluar mendapatimu
disini, siapa namamu?” ia kembali bertanya.
“Rasyad pak!”
jawabku sambil masih tengok kanan-kiri mencari siluet bapak.
“Apa kau benar
ingin kembali bersekolah?”
“Iya pak, ingin
sekali” kutatap matanya lekat, seperti aku biasa menatap bapak ketika ia
bercerita untukku.
“Kalau begitu,
tulislah sebuah cerita untukku. Dan aku akan menyekolahkanmu”
Mataku
berbinar-binar, aku sungguh tak menyangka akan bertemu orang sebaik ini. Namun,
itu tetap saja tak menggoyahkan keinginanku untuk mencari bapak yang
menghilang.
“tak usah kau
cari bapakmu nak, suatu hari pasti dia akan menemuimu kembali jika saat itu
tiba!” bapak itu sepertinya tahu keinginanku untuk segera minggat dari
hadapannnya mencari bapak
“Kembalilah, dan
buatkan cerita untukku, aku akan menunggunya” bapak itu kembali memegang
pundakku dan memelukkku seperti pelukan bapak.
Bapaaakkkkk….
Aku terbangun
dari mimpi sambil melihat ibu yang sudah pulas di sampingku. Ya Allah, ternyata
semua ini cuma mimpi. Berada di tempat yang sejuk, makan makanan yang lezat,
ketemu bapak dan bapak kepala dinas, semuanya cuma mimpi. Kuambil air wudhu,
kutunaikan sholat isya sebelum azan subuh.
*****
“Koran, pak!”
“Koran, pak”
Kulaksanakan
rutinitasku pagi ini seperti biasa sebagi loper koran mandor ullang. Hingga
akhirnya lampu merah menghentikan semua mobil. Sebuah kaca mobil hitam yang
sudah tak asing bagiku terbuka dan bapak bersafari kemarin sudah kembali
tersenyum lebar, ini kan juga bapak yang ada di dalam mimpiku, pikirku.
“Koran apa,
pak!” Basa-basi aku menawarkan…
“tak usah koran,
apa sudah kau buatkan cerita untukku nak?”
Aku tersenyum.
TAMAT
(Cerpen ini saya buat dalam satu malam, sehari sebelum deadline untuk diikutkan dalam lomba cipta cerpen dalam rangka menyambut HARDIKNAS 2012, yang diadakan oleh FLP sulsel, dan alhamdulillah, tidak masuk nominasi apapun)



2017 ford fusion hybrid titanium - Titanium
2017 titanium fitness ford fusion hybrid babyliss nano titanium flat iron titanium. black titanium wedding band Made in Italy. Material. Metal. Graphite. Carbon. Carbon. A new and toaks titanium amazing finish. Rating: 5 · 1 vote snow peak titanium spork
h692a8ruqgt447 dildo,dildos,double dildos,dildos,wolf dildo,vibrators,horse dildo,dildo,glass dildos h838t0lenus477
l275k3paqrd062 dog dildo,cheap sex toys,wholesale sex toys,finger vibrator,vibrators,Rabbit Vibrators,dog dildo,horse dildos,dog dildo m032q7jgxow333
av882 scarpemizuno,asicsskor,mizuno brasil,keen botas,asics runners ireland,on running schweiz,caterpillar boots ireland,scarpe on cloud,asicsmujer mp367