Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hujan masih turun, butiran-butirannya membasahi tanah dan gundukan pasir meski curam, sisa-sisanya masih Nampak semburat dijejak-jejak alas kaki para pejuang islam di kota ini. Nampaknya jejak-jejak itu masih akan terus merogoh dalamnya tanah sekitar 2 cm ke bawah sampai beberapa waktu ke depan semenjak aku menginjakkan kaki di Negara ini atas nama kemanusiaan, aku telah menjadi saksi yang sengaja bisu melihat sebuah kemajuan peradaban yang luar biasa, namun entah karena apa, peradaban itu hancur lebur hanya karena sebuah perselisihan sepele, katanya. Ahh, sudahlah, aku juga tak mau ambil pusing, toh! Aku kesini hanya karena mengemban sebuah amanah dan misi dari negaraku,
“diah, hal akalti ukhti?”[1].
Lamunanku akan buliran hujan dibuyarkan oleh suara lembut temanku,yah!kupikir suara ini menyamai halusnya suara hujan sedari tadi.
Uh, afwan ukhti, lam! Lam akul[2]
Aku menatap temanku, yang menemaniku bicara sedari tadi, mungkin kerutan di wajahnya bukan menampakkan tanda tanya mengapa aku belum makan, tapi kenapa sedari tadi aku terus merenung tanpa maksud disini.
Nama Negara ini adalah Andalusia. Setahuku, agama yang pesat dan mempunyai peradaban yang maju disini adalah Islam. Aku sendiri, aku berasal dari baghdad, sebuah Negara yang juga mayoritas islam, tapi aku atheis[3], karena sampai saat ini dalam syaraf-sayaraf kabel aliran darah yang menjalar di cerebrum[4] dan cerebellumku [5], aku tidak memahami apa maksud agama, yang katanya sebuah tiang kehidupan, pengarah hidup, tujuan hidup. Tetapi entah kenapa aku masih keras kepala meyakini bahwa tanpa agama pun, kita akan tetap hidup karena kita punya akal.

uh, kazalik!Izan, hayya nazhab ma’an lil akli ilal matbakh, ukhti!”[6]
 Ana ashif, ukhti!faltatafaddhali awwalan!”[7]
Kutampakkan senyum manis pada sahabatku ini untuk menolak halus ajakan makannya, ia adalah seorang muslimah, dan dia adalah guru sebuah madrasah di Andalusia, aku menemuinya di bis saat akan mencari flat untuk kutinggali di Negara ini. Dia asli Andalusia, namanya Sarimah Binti Al-Khadeed.
uh, laba’sa ukhti!, izan, ana awwalan[8]
Ia segera beranjak, satu hal dari sarimah, setiap ia akan bepergian keluar flat, dia menggunakan secarik kain untuk menutupi kepala hingga dadanya, sarimah pernah bilang itu adalah “jilbab”, hijab untuk wanita.
Sarimah berlalu. Aku sendiri kehilangan selera makan sejak tadi, mungkin karena hujan yang membuat cuaca makin dingin, hingga rasa lapar tak hinggap di perutku.
Hujan reda, namun bulir air masih membasahi tanah, aku bergegas keluar flat, kupakai jaketku yang sudah agak kusam sambil mengucir rambutku seperti biasa, hanya satu tujuanku saat ini. Perpustakaan.
Perpustakaan letaknya tak jauh dari flatku, aku sengaja mengambil flat di dekatnya, agar aku bisa sering berkunjung ke tempat itu, disana banyak sekali referensi kesehatan yang bagus dan aktual. Suasananya sangat tenang dan bersahaja.
Di jalan, ketika hampir sampai ke perpustakaan,
Bruuuukkkk…..
Serentetan buku-buku jatuh bertebaran dihadapanku. Astaga, ternyata tanpa melihat ke depan aku telah menabrak seseorang yang membawa buku-buku ini. Aku  bergegas menunduk dan merapikan buku-buku yang jatuh itu.
ana ashif jiddan, la anzuruka amami, akhi![9].
laba’sa
Aku kembali berdiri, memberikan buku-buku padanya, sejenak ia menatapku tajam, kembali menunduk, kemudian berlalu setelah sebelumnya telah berucap “syukran[10] padaku meski kedengaran samar dan malu-malu.
afwan!”[11] lirihku.
Aku rasa dia baru disini, mungkin saja pegawai perpusatakaan yang baru,. Wajahnya bercahaya, Nampak teduh dan tenang, mungkin saja di seorang agamawan.
Ahh! Kenapa aku jadi mendeskripsikannya seperti ini, aku sampai lupa tujuan awalku kesini.
 tisma’i…[12], saya akan meminjam buku-buku ini!”
Ahh! Dia lagi, lelaki tadi. Ternyata dia memang pegawai baru disini.
hal anta andulisiyi?” [13]sapaku membuka pembicaraan.
Ia menatapku heran. Tiba-tiba saja ia menjawab,
can you speak English please[14]?”
Ohh, rupanya ia tak menguasai bahasa arab, pantas saja ketika bertabrakan denganku tadi, ia hanya mengucapkan beberapa kata.
oh, yes! I can...” sigapku. Untung saja, sebelum aku dikirim ke negeri ini, aku diwajibkan untuk meguasai beberapa bahasa .
Are you andalusian?” tanyaku lagi
Not, I’m Indonesian” ujarnya tersenyum tipis.
Ternyata dia adalah orang Indonesia, setahuku orang Indonesia juga mayoritas islam, mungkin dia diantaranya.
and you?” ia bertanya balik.
I come from Baghdad” ujarku pelan.
Ia kembali menunduk.
Hening.
My name is Ardiah” ujarku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan padanya.
Ia kembali menatapku heran, apakah ada yang salah pada diriku, ia tak juga ia membalas uluran tanganku sampai akhirnya ia mengatupkan kedua belah tangannya.
My name is Mohammed Yusuf, and you can call me yusuf!”
afwan, didalam islam, diharamkan bagi seorang pria untuk menyentuh wanita selain muhrimnya, dan saya tak dapat membalas uluran tangan anda” lanjutnya dengan English yang fasih.
“Nevermind![15]”, sanggahku. Aku sedikit malu, ternyata islam mepunyai beberapa aturan tertutup seperti ini.
******
            “Ardiaaaahhhh…..”
Dibalik pintu, sarmiah terlihat sangat panik histeris, nafasnya tersengal-sengal.
limadza sarmiah?[16]
“Zihabul’Aan..zihabul’an…!” [17]
“Walakin limadza, ukhti???” [18]
“Zihabul’an ma’aniy, bisur’ah!”[19]
Sarmiah memegang tanganku erat, ia menarikku turun keluar flat.
Apa yang telah terjadi, apa yang sedang aku saksikan saat ini. Ribuan manusia membawa senjata perang, apakah akan terjadi pertumpahan darah lagi?
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Teriakan takbir menjuru, Tidak! Tidak!
Yusuf!yusuf! dimana dia sekarang, apakah dia ada diantara ribuan orang itu, apakah dia ikut berperang?? Aku melepas tangan sarmiah, menerobos lari diantara kawanan tentara bersenjata. Pusatku hanya satu! Yusuf..
“Yusuf!!”
Mataku tertuju pada seorang pemuda dihadapanku sekarang.
“Yusuuufff! What are you doing now, please! don’t!” aku tergesa menghampiri yusuf.
“Ardiaaahhh…”
“Yusuuuff! Please! Don’t!” ujarku memohon. Air mataku mengalir.
“Demi Allah dan RasulNya, aku tak akan pernah melepas jihad ini”
“Demi Allah dan RasulNya, demi Allah dan RasulNyaaa….”
Hatiku serasa terkoyak, yusuf sama sekali tak mendengar pintaku.
“Yusuf, please! Jangan kau korbankan dirimu untuk hal seperti ini!, ikutlah aku! Ikutlah aku! Ikutlah aku ke Baghdad, disana mayoritas muslim, kau bisa hidup dengan damai, tanpa pertempuran, tanpa pertumpahan darah” isakku.
“Demi Allah dan RasulNya!!Aku akan tetap berada disini, diah!”
Aku menjauh dari yusuf, karena dia tahu aku non muslim.
Asssyyyha…du..allaaa…ilaaaha’…illlaLllah.., wa Asssyyyha…du…an..na Muhammmadarrrr….Rasuuulullah
Dan alam pun menjadi saksi.


[1] Sudah makan?
[2] Maaf, saya belum makan
[3] Tidak beragama
[4] Otak besar
[5] Otak kecil
[6] Kalau begitu, mari makan bersama!
[7] Maaf! Kamu duluan saja!
[8] Tidak apa-apa! Saya duluan
[9] Maaf, saya tak melihatmu di depanku!
[10] Terima kasih
[11] Sama-sama
[12] Permisi
[13] Apakah kamu orang Andalusia?
[14] Bisakah kamu berbahasa inggris?
[15] Tidak apa-apa!
[16] Apa yang terjadi?
[17] Kita pergi sekarang
[18] Tapi, kenapa?
[19] Pergilah bersamaku sekarang, cepatlah!

(Cerpen ini diikut sertakan dalam lomba "Cipta essai dan cerpen" yang diadakan oleh sinovia (Lembaga Pers FK Unhas, 2010. Dan alhamdulillah, tidak masuk nominasi apapun)
0 Responses

Posting Komentar