Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hujan di luar masih sangat deras. Malam ini tepat malam terakhir dari liburan idul adha selama seminggu. Itu sudah bisa dikategorikan libur panjang bagi kami, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan yang bisa dikatakan miskin libur. Namun, hal itu bukanlah suatu hal yang dapat memudarkan semangat untuk kembali masuk kuliah. Buktinya saja, hari ini entah sudah beberapa pesan singkat yang masuk di HP butut kesayanganku, sesuatu yang menjadi pemberian bapak 2 tahun lalu…yah, tak bisa dipungkiri, pesan singkat itu hanya untuk menanyakan tentang kepastian perkuliahan besok. Memang benar, aku sebagai mahasiswi yang berasal dari Makassar yang menjadi daerah berdirinya UIN Alauddin harus selalu membiasakan diri dengan berbagai pesan singkat seperti itu. Sepertinya teman-teman masih malas kembali ke Makassar, kebiasaan seperti ini juga terbentuk dari kebiasan dosen sendiri, dosen yang notabene super sibuk sampai harus mengorbankan kami, mahasiswanya jika saja pada kuliah-kuliah perdana mereka tidak masuk.
Guntur menggelegar, namun ini tidak boleh membuyarkan rencanaku untuk nongkrong di warnet dekat rumah. Memang benar, dan tidak terlepas dari kebiasaan anak seusiaku, cuma ingin menambah postingan FB dan mencari info-info kuliah dari grup yang sudah ada. Kupakai jaket “warnet” ku yang mulai kumal serta kerudung pasang yang masih setia tergantung di pojok kamar. Melihat aku bersiap-siap, ibu yang asyik menonton sinetron kesukaannya akhirnya buka suara,
“Nurul, mau kemana nak??”
Ibuku sepertinya sudah hafal betul semua kebiasaanku, melihat aku memakai jaket “Warnet” serta kerudungnya akan membuatnya menebak bahwa malam ini aku pasti berencana untuk menghabiskan malam dingin ini di tempat itu, ditambah lagi dengan aku yang tidak menghiraukan pertanyaannya karena sibuk mencari flashdisk yang entah kutaruh dimana terakhir kali.
“Mau ke warnet lagi?”, ibuku bertanya tapi tatapannya tetap ada TV
“Iye bu, mau cari tugas”, jawabku singkat
“Jangan lama-lama rul, udah jam setengah 9, nanti hujan tambah deras”, ujar ibu khawatir
Aku sudah hafal pesan ibu ini, ia tak pernah lelah berpesan seperti ini setiap kali ia melihatku akan keluar rumah pada malam hari. Aku tidak menjawab, segera kucari payung lipat favoritku, aku pun berlalu.
Jarak warnet dari rumahku sangat dekat, mungkin hanya jarak 3 rumah saja. Aku emang tidak seberuntung mahasiswa lainnya yang punya laptop ataupun modem sendiri, then, whereever, mereka bisa internetan dimana saja. Bagiku, asal aku sudah dapat sedikit menyisihkan uang belanja harian pemberian bapak untuk internetan di warnet, itu sudah cukup membuatku senang bukan kepalang. Perangkat komputer biasa di rumah saja sudah cukup membuatku bersyukur memilikinya, karena dengan itu, aku dapat menyelesaikan tugas kuliah seperti teman-teman yang lain. Jadi, semuanya bukan halangan sama sekali untuk belajar.
Aku sudah duduk depan monitor, kuambil tempat paling strategis, dekat kipas angin. Hehehe, meski hujan membuat semuanya dingin, namun kegerahan di warnet cukup tidak bisa berkompromi dan membuatku tidak nyaman, tempat ini juga jauh dari polusi asap rokok anak-anak muda yang juga memakai fasilitas warnet ini di ujung sana yang biasanya hampir membuat dadaku sesak. Kubuka facebook, ternyata sudah banyak notify baru yang belum kulihat. Keasyikan membaca notify, aku hampir tak sadar sejak tadi sudah ada chat yang belum terjawab, hehehe..ternyata dari jenk fika, teman sekelas kuliah di keperawatan.
“Maaf sodari!” balasku lama
“Dak apa-apaji kawand, BTW jadi kuliah besok??”
Aduh, lagi-lagi pertanyaan yang sama untuk sekian kalinya harus kujawab, entah berapa kali sudah aku  mendapat pertanyaan yang sama hari ini.
“Datang saja jenk, kan gak ada ruginya”, balasku
“Sudah ada jadwal keluar yah?”, ia kembali bertanya.
“Sepertinya belum, entahlah! Saya juga belum pernah ke kampus”, jawabku meyakinkan.
“Kalo begitu, jam berapa mau datang besok jenk?”, ia bertanya balik
“Jam 8”, kujawab seperti ini karena memang pada semester sebelumnya, jadwal kuliahku dimulai dari jam 8 pagi tepat, kali ini sudah masuk semester 2, mungkin saja jadwalnya masih sama.
Cepat amat, jam 9 saja!”, sarannya di chat.
“Mmm, biar jam 8 saja, hitung-hitung mewanti-wanti”, ujarku membalas chatnya terakhir kali sebelum dia off. Temanku ini biasa disapa fika, lengkapnya Nurfika Arwiyanti. Ia biasa ku panggil “jenk”, mungkin saja ini karena dirinya betul-betul unik. Hehehe.
Setelah Fika off, aku juga segera beranjak, tak terasa sudah pukul 10 malam, orang-orang di warnet juga sudah mulai berkurang. Hujan sudah berhenti, tapi rintik kecil masih terdengar, mudah-mudahan di luar tidak banjir, harapku dalam hati.
Kututup penjelajahan mayaku malam mini dengan sebuah status “ Semoga semuanya baik-baik saja”, mudah-mudahan ini bisa menjadi doa yang baik untuk aktifitasku berikutnya. Amin.
******
Dengan diantar kakak, aku berangkat ke kampus tepat pukul 07.15, pagi-pagi benar aku sudah sampai di sana. Kampus masih sepi. Memang benar, suasana libur masih jadi parasit di kalangan mahasiswa, meski semuanya sudah tahu, hari ini adalah kuliah perdana semester genap. Satu persatu motor melintasiku, ternyata bebarapa mahasiswa di fakultas lain juga sudah mulai menampakkan batang hidungnya, tapi lain halnya dengan fakultas yang ada di depanku sekarang , aku mulai merinding jika pada akhirnya aku harus mengetahui bahwa aku masih sendiri di fakultas ini.
Pukul 07.45, kuambil langkah pelan ke arah fakultas. Kualihkan pandanganku ke arah parkiran, sudah ada sebuah motor disana. Hfft…aku lega karena akhirnya tahu aku tak sendiri.
Suasana sepi ini makin mencekam saja, sipakah gerangan pemilik sepeda motor misterius itu. Aneh. Aku tetap memberanikan diri untuk masuk sampai depan ruang jurusanku sendiri, keperawatan. Tak ada seorangpun beraktivitas di dalamnya, namun yang lebih ironis roster semester genap sudah melekat rapi di jendela. Ternyata benar, jadwal kuliah keperawatan semester 2 masih sama, jam 08.00. Belum sempat hilang keterkejutanku, tiba-tiba sebuah suara menyelinap tegas di telingaku,
“Mahasiwa semester berapa?”, sorotan matanya tajam, seolah hendak menerkam diriku yang berdiri terpaku di tempat itu.
“Se..se…se…semester 2 keperawatan bu”, aku tiba-tiba gugup setengah mati.
“Dimana temannya yang lain?”, ia sama sekali tak mengedipkan mata, terus menatap ke arahku yang sudah mulai pucat.
“Mmm, ma..ma…masih di jalan bu”. Tuhan!!kali ini aku harus berbohong, apa jadinya jika aku bilang rata-rata temanku masih di daerahnya masing-masing, mungkin saja aku akan habis digilas amarah di tempat ini.
“Kalo gitu cepat hubungi, jam 08.00 saya sudah mau masuk kelas, lewat 15 menit saya sudah tidak hitung di kehadiran”.
MAMPUS, ini seperti durian runtuh yang sipa menerkam kepala siapa saja yang ada dibawahnya, mungkin bagiku baik-baik saja, tapi bagi yang lain, mana bisa secepat kilat ada di tempat ini. Sepertinya di adalah dosen jam pertama di kelasku, tanpa banyak omong, kuambil segera HP milikku.
First, ketua tingkat…..
OMG, mengapa pada saat-saat genting seperti ini sinyal malah tak bisa di ajak kompromi, tanpa pamit pada ibu itu, aku berlari keluar mencari sinyal. Alhamdulillah dapat.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi, the number…..
Ahhh.. sepertinya aku tak dapat menuda beberapa saat lagi. Kucoba hubungi teman yang lain, tanpa ku tahu siapa sudah yang kuhubungi, aku hanya berkata,
“Kawan, cepatko! adami dosen, alfa yang terlambat”, ujarku cepat. Pulsaku hampir habis, segera ku sms yang lain sebisaku.
Aku kembali masuk, aku yakin urat-urat cemas masih nampak di wajahku, bagaiamana ini?
“Sudah ada temannya?” pertanyaan ibu itu mengiringi bunyi langkah sepatu miliknya, menghampiriku yang kembali pucat.
“Sudah saya telfon, bu!”. Urat cemas, tolong! Kali ini jangan nampak dulu…harapku dalam hati.
“Kalo begitu, kita masuk kelas saja, kalau sudah datang temannya, biar saja terlambat”. Ibu itu membalikkan badan, ku ikuti dia dari belakang, bagaimana jadinya kalo cuma aku sendiri yang diajar.
Kali ini aku betul-betul hanya berdua dengan dosen itu, ia mulai menjelaskan kontrak-kontrak kuliah yang membuatku seakan tercekik.
Tok.tok.tok.
“Ya…masuk”, si ibu dosen menjawab ketus
2 orang terdakwa jam 9 masuk perlahan-lahan, ibu dosen berhenti menjelaskan kontrak.
“Sekarang jam berapa?” ibu dosen kembali bertanya, tapi kali ini aku bersyukur, sorotan tajam itu tidak ke arahku, tapi ke arah para terdakwa di belakangku.
“08.15 bu”, terdakwa juga menjawab gugup.
Ibu dosen tidak merespon, ia kembali menjelaskan kontrak. Aku kembali lega.
“Nurul, nurul….”, Lia, terdakwa jam 9 pertama, memanggilku dari belakang.
“Apa?”, ujarku membalikkan badan.
“Ada pulpenmu?”. Lia bertanya polos. Seakan tak sadar si dosen killer tengah menjelaskan di depannya.
Anak ini sudah terlambat, tidak bawa pulpen pula. Hfffttt.
“Pulpenku saja kudapat di lantai tadi”, kuakui aku juga lupa membawa pulpen, tapi sepertinya aku masih lebih beruntung dari anak ini. Nama temanku yang satu ini Syahrulia, ia akrab di sapa Lia, ia salah satunya yang mengirim pesan singkat di HPku kemarin akan datang hari ini jam 9.
Beberapa menit berlalu, akhirnya pulsaku habis tak sia-sia. Satu persatu terdakwa jam 9 yang lain mulai berdatangan, ada yang datang sambil memasang senyum termanisnya, Mia contohnya, ada juga yang pucat seperti diriku, ada yang santai saja seakan tak ada yang salah pada dirinya, dan terakhir…Jenk Fika, terdakwa jam 9 terkahir masuk setelah mengetuk pintu sambil jalan mengisyaratkan malu-malu, “Kidah..makasih nah!Ampunma….”, wkwkwkwk. Kali ini aku ingin sekali tertawa di dalam hati, melihat tingkah aneh semua temanku yang terlambat hari ini.
Dasar Mahasiswa jam 9.

(Cerpen ini terinspiratif dari peristiwa tragis yang menimpa saya dan teman-teman kuliah sewaktu semester 2, tahun 2010 silam, kemudian direnovasi dalam bingkai cerpen serta catatan pribadi di FB saya, diikutkan dalam lomba cipta cerpen tahun 2011 yang dalam porseni yang diadakan oleh BEM FIKES UIN 2010-2011)
0 Responses

Posting Komentar