Aku hanya ingin
menulis, menulis apapun yang kuinginkan, yang berdawai menghasilkan
melodi obsesi di otakku, menulis apapun yang kumau, menulis tanpa harus
terikat oleh aksara apapun, diksi ataupun sastra, serta istilah-istilah
planet, dan menulis hanya untuk memenuhi tuntutan adrenalin yang semakin
mendidih...
Aku Cuma mau menulis, menulis tentang mereka, tentang apa yang kubaca, kualami dan kurasakan. Menulis sesuatu yang membuatku bahagia dan tersenyum, menulis untuk menghidupi hidup yang terasa makin mencekik, menulis untuk kebutuhan pribadi...
Aku punya banyak kisah, kisah yang sangat ingin kujadikan melodi-melodi inspirasi, not not penyemangat, aku Cuma mau menulis, menulis hidup ini. Menulis untuk mereka yang akan membaca tulisanku, dan aku memang hanya ingin menulis.
Kau tahu, dengan menulis...aku merasa tidak pernah sendiri, aku bahagia melihat huruf yang menari-nari, aku senang melihat rantai-rantai kalimat yang kudelegasikan untuk berbicara, dan aku tidak ingin terikat oleh peraturan apapun.
Aku memang sudah gila, gila akan suatu tulisan yang selalu membuatku sesak nafas karena tak bisa menghasilkan karya seperti itu. Aku sering berjanji pada diriku, entah detik kemudian, menit ataupun jam dan hari yang berganti kelak, aku akan mempelajari, dan menghasilkan sebuah karya besar yang menggugah banyak orang. Aku hanya ingin dikenang lewat tulisanku, dan aku sungguh sangat ingin menulis lagi.
Tapi ketika isi kepala yang sudah di ciptakan secara dramatis untuk berpikir dan mengeja kata-kata ini tak dapat berkompromi, seketika semua itu seperti terkikis, bagai kejamnya sebuah buldoser yang memotong pohon mangga di pesantrenku, bagai air dari pipa yang habis di kamar mandi asramaku sehingga membuat tangan dan kaki ini kerja bakti, semuanya seperti tersumbat begitu saja, tak ada solusi, tak ada jawaban, dan yang tinggal hanyalah tatapan sayu mataku, dan jemari yang seolah tak punya kontraksi....
Bagaimana aku bisa menulis, aku sungguh kelimpungan, sehingga terasa seperti tertindih bongkahan batu desa keluargaku di gandrang batu, Jeneponto. Atau seperti gersangnya aspal di perapatan kampusku samata, atau setidaknya seperti gulungan pasir kasar di daerah peliharaan kuda, Jeneponto.
Ini seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan inspirasi, atau muse dalam menciptakan sebuah lagu. Aku takut, suatu kelak...rasa malasku ini akan menggunung, dan aku tak mampu mengingat satu katapun untuk diabadikan dalam sebuah rantai tulisan
Aku, meninggalkan blog, novel serta artikel yang setengah jadi. Aku membiarkan semua milikku, karyaku itu menjadi berjamur, tak berpenghuni, serta menjadi mimik kalimat memuakkan, aku tak tahu bagaimana melanjutkannya, karena aku sungguh kehabisan ide, rasa malasku yang menjadi-jadi. Malahan aku Cuma bisa membaca karya-karya masyhur orang lain, tanpa sedikitpun merasa berpotensi, berpeluang, untuk menulis karya seperti itu.
Ada satu titik dalam kehidupan kita, dimana semuanya terasa membosankan, memuakkan. Disuguhkan makanan dari surga pun kau akan berpaling, tenggorokan terasa haus, namun minum air segalon pun bukan solusi mujarab. Saat dimana semua terasa hambar, sisa memandang pelan dan lamat serta perlahan awan-awan kamar yang mulai berpulau-pulau, hape kau utak-atik berharap itu dapat berbunyi meski hanya sekedar alarm. Angry bird pun benar-benar akan menjadi burung yang marah, namun bukan karena ingin menghancurkan bongkahan batu ataupun bangunan, tapi melihatmu menekan-nekan keyboard tak henti-henti. Sampai kau merasa seperti menjadi binatang buas, mau hiu, paus, harimau, singa liar..terserah apa bahasamu, kau sadar kau sudah lebih kejam dari seekor monster lepas dari kandang
Dengan itu kau perlahan-lahan melangkah keluar rumah, membawa kamera beberapa megapikselmu, setidaknya kau dapat memotret beberapa pemandangan menakjubkan, namun yang kau dapati Cuma sesaknya jalan, hunusnya kendaraan klakson sana-sini, pusat perbelanjaan yang seperti isinya tak akan habis meski dijamahi seribu orang dalam sejam, kau tahu semua itu terasa membosankan, dan kau mulai mengasingkan diri dalam sebuah Gramedia, ataupun toko pakaian dan sepatu, atau kau akan memilih ke supermarket mencari snack atau minuman kesukaanmu, setelah melihat harganya yang akan segera menguras kantongmu, kau diam-diam umpet-umpetan keluar dari sana, mencari tempat yang bisa menurunkan tensimu saat itu juga, kau dapati sebuah kursi hijau tua panjang dekat sebuah pohon ilustrasi di dalam sebuah mal, kau duduk disitu, memandang lamat-lamat mobil yaris yang terparkir megah, sebagai bahan pajangan untuk sales yang mencari nafkah. Kau mengkhayalkan suatu saat, kau mengendarai mobil itu sambil memakai kacamata hitam mengantar anakmu ke sekolah, atau kau memarkirnya di gedung perusahaanmu, dibawah naungan seorang supir berjas yang siap kau panggil kapan saja.
Atau kau lebih memilih diam dirumah, kembali menatap awan-awab kamar yang menguning karena pulau hujan, buku dan kitab tebal kuliah yang terparkir di rak bukumu, novel-novel berserakan penuh garis lipatan yang kau sisipkan di bawah bantalmu, kau rapikan lemari yang tidak terbongkar, kau lap rak bukumu yang tidak berdebu, dan kau akan mengucir rambutmu yang sedari tadi sudah terkucir, dan kau berdehem pelan, duduk di pinggir ranjang sambil menarik nafas panjang. Lamat-lamat tanganmu mengambil gitar lalu memetik senarnya pelan karena tak satupun nada yang kau tahu, lama-lama kau memetiknya dan itu kembali akan terasa membosankan. Kau letakkan gitar kasar, dan kau akan mulai resah...
Hidup di dunia ini, sebagai manusia...yang katanya sempurna dari makhluk lain, apa sebenarnya yang dicari, apa sebenarnya yang diinginkan, dan apa sebenarnya yang ingin diwujudkan, dan ketika semua itu telah tercapai, apa lagi yang akan kau lakukan...
Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita tidak pernah tahu dan betul-betul sadar apa yang akan terjadi esok hari. Mengapa waktu yang diberikan untuk kita hari ini begitu dimanfaatkan untuk hal yang berbau hura-hura, apa karena hanya ingin menikmati masa muda...ataupun hanya sekedar pelampiasan biadab belaka.
Dan kau tahu, dari cerita kecil tentang kehidupan itulah yang memaksaku mengabadikannya dalam sebuah catatan publik ataupun pribadi, karena aku sungguh khawatir, jika saja serentetan kejadian dalam hidupku tak dapat aku simpan untuk dikenang esok hari. Namun survei membuktikan, ternyata aku juga manusia...
(Akidah, 9-9-12 at 21.19)
Aku Cuma mau menulis, menulis tentang mereka, tentang apa yang kubaca, kualami dan kurasakan. Menulis sesuatu yang membuatku bahagia dan tersenyum, menulis untuk menghidupi hidup yang terasa makin mencekik, menulis untuk kebutuhan pribadi...
Aku punya banyak kisah, kisah yang sangat ingin kujadikan melodi-melodi inspirasi, not not penyemangat, aku Cuma mau menulis, menulis hidup ini. Menulis untuk mereka yang akan membaca tulisanku, dan aku memang hanya ingin menulis.
Kau tahu, dengan menulis...aku merasa tidak pernah sendiri, aku bahagia melihat huruf yang menari-nari, aku senang melihat rantai-rantai kalimat yang kudelegasikan untuk berbicara, dan aku tidak ingin terikat oleh peraturan apapun.
Aku memang sudah gila, gila akan suatu tulisan yang selalu membuatku sesak nafas karena tak bisa menghasilkan karya seperti itu. Aku sering berjanji pada diriku, entah detik kemudian, menit ataupun jam dan hari yang berganti kelak, aku akan mempelajari, dan menghasilkan sebuah karya besar yang menggugah banyak orang. Aku hanya ingin dikenang lewat tulisanku, dan aku sungguh sangat ingin menulis lagi.
Tapi ketika isi kepala yang sudah di ciptakan secara dramatis untuk berpikir dan mengeja kata-kata ini tak dapat berkompromi, seketika semua itu seperti terkikis, bagai kejamnya sebuah buldoser yang memotong pohon mangga di pesantrenku, bagai air dari pipa yang habis di kamar mandi asramaku sehingga membuat tangan dan kaki ini kerja bakti, semuanya seperti tersumbat begitu saja, tak ada solusi, tak ada jawaban, dan yang tinggal hanyalah tatapan sayu mataku, dan jemari yang seolah tak punya kontraksi....
Bagaimana aku bisa menulis, aku sungguh kelimpungan, sehingga terasa seperti tertindih bongkahan batu desa keluargaku di gandrang batu, Jeneponto. Atau seperti gersangnya aspal di perapatan kampusku samata, atau setidaknya seperti gulungan pasir kasar di daerah peliharaan kuda, Jeneponto.
Ini seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan inspirasi, atau muse dalam menciptakan sebuah lagu. Aku takut, suatu kelak...rasa malasku ini akan menggunung, dan aku tak mampu mengingat satu katapun untuk diabadikan dalam sebuah rantai tulisan
Aku, meninggalkan blog, novel serta artikel yang setengah jadi. Aku membiarkan semua milikku, karyaku itu menjadi berjamur, tak berpenghuni, serta menjadi mimik kalimat memuakkan, aku tak tahu bagaimana melanjutkannya, karena aku sungguh kehabisan ide, rasa malasku yang menjadi-jadi. Malahan aku Cuma bisa membaca karya-karya masyhur orang lain, tanpa sedikitpun merasa berpotensi, berpeluang, untuk menulis karya seperti itu.
Ada satu titik dalam kehidupan kita, dimana semuanya terasa membosankan, memuakkan. Disuguhkan makanan dari surga pun kau akan berpaling, tenggorokan terasa haus, namun minum air segalon pun bukan solusi mujarab. Saat dimana semua terasa hambar, sisa memandang pelan dan lamat serta perlahan awan-awan kamar yang mulai berpulau-pulau, hape kau utak-atik berharap itu dapat berbunyi meski hanya sekedar alarm. Angry bird pun benar-benar akan menjadi burung yang marah, namun bukan karena ingin menghancurkan bongkahan batu ataupun bangunan, tapi melihatmu menekan-nekan keyboard tak henti-henti. Sampai kau merasa seperti menjadi binatang buas, mau hiu, paus, harimau, singa liar..terserah apa bahasamu, kau sadar kau sudah lebih kejam dari seekor monster lepas dari kandang
Dengan itu kau perlahan-lahan melangkah keluar rumah, membawa kamera beberapa megapikselmu, setidaknya kau dapat memotret beberapa pemandangan menakjubkan, namun yang kau dapati Cuma sesaknya jalan, hunusnya kendaraan klakson sana-sini, pusat perbelanjaan yang seperti isinya tak akan habis meski dijamahi seribu orang dalam sejam, kau tahu semua itu terasa membosankan, dan kau mulai mengasingkan diri dalam sebuah Gramedia, ataupun toko pakaian dan sepatu, atau kau akan memilih ke supermarket mencari snack atau minuman kesukaanmu, setelah melihat harganya yang akan segera menguras kantongmu, kau diam-diam umpet-umpetan keluar dari sana, mencari tempat yang bisa menurunkan tensimu saat itu juga, kau dapati sebuah kursi hijau tua panjang dekat sebuah pohon ilustrasi di dalam sebuah mal, kau duduk disitu, memandang lamat-lamat mobil yaris yang terparkir megah, sebagai bahan pajangan untuk sales yang mencari nafkah. Kau mengkhayalkan suatu saat, kau mengendarai mobil itu sambil memakai kacamata hitam mengantar anakmu ke sekolah, atau kau memarkirnya di gedung perusahaanmu, dibawah naungan seorang supir berjas yang siap kau panggil kapan saja.
Atau kau lebih memilih diam dirumah, kembali menatap awan-awab kamar yang menguning karena pulau hujan, buku dan kitab tebal kuliah yang terparkir di rak bukumu, novel-novel berserakan penuh garis lipatan yang kau sisipkan di bawah bantalmu, kau rapikan lemari yang tidak terbongkar, kau lap rak bukumu yang tidak berdebu, dan kau akan mengucir rambutmu yang sedari tadi sudah terkucir, dan kau berdehem pelan, duduk di pinggir ranjang sambil menarik nafas panjang. Lamat-lamat tanganmu mengambil gitar lalu memetik senarnya pelan karena tak satupun nada yang kau tahu, lama-lama kau memetiknya dan itu kembali akan terasa membosankan. Kau letakkan gitar kasar, dan kau akan mulai resah...
Hidup di dunia ini, sebagai manusia...yang katanya sempurna dari makhluk lain, apa sebenarnya yang dicari, apa sebenarnya yang diinginkan, dan apa sebenarnya yang ingin diwujudkan, dan ketika semua itu telah tercapai, apa lagi yang akan kau lakukan...
Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita tidak pernah tahu dan betul-betul sadar apa yang akan terjadi esok hari. Mengapa waktu yang diberikan untuk kita hari ini begitu dimanfaatkan untuk hal yang berbau hura-hura, apa karena hanya ingin menikmati masa muda...ataupun hanya sekedar pelampiasan biadab belaka.
Dan kau tahu, dari cerita kecil tentang kehidupan itulah yang memaksaku mengabadikannya dalam sebuah catatan publik ataupun pribadi, karena aku sungguh khawatir, jika saja serentetan kejadian dalam hidupku tak dapat aku simpan untuk dikenang esok hari. Namun survei membuktikan, ternyata aku juga manusia...
(Akidah, 9-9-12 at 21.19)




Posting Komentar