Tenang, aku tidak mengopas dari karya tere liye yang berjudul daun yang jatuh tak pernah membenci angin......
tapi aku memodifikasi menjadi daun yang basah tak pernah membenci hujan....
Tahukah kau hujan?pasti kau tahu, karena sekarang sedang musim hujan, maka kau akan menjadi korban basahnya ketika kau tak punya senjata seperti payung besar, jas hujan, ataupun mentel tebal yang melindungimu...
Hujan, kau tahu dia begitu egois bukan? dia pernah hampir membuatku terlambat dinas di rumah sakit berapa minggu lalu hanya untuk menunggunya reda, dia...Hujan, tak perduli kau punya urusan apa, tak perduli kau seorang presiden, atau pejabat TERAS yang suka duduk di teras....(hahahaha), tak perduli kau adalah selebritis korupsi wisma atlet seperti M.Nazaruddin dan Anggelina Sondakh, tak perduli kau adalah pengantin baru ussy dan andhika, dia akan tetap membasahimu ketika dia diperintah untuk turun, dia sangat patuh, bukan???
beberapa hari lalu, tepat selesai respon di rumah sakit, aku berjalan senang di pelataran rumah sakit disamping guntur yang berteriak di telingaku, angkot ada di seberang, aku tahu aku harus menyeberang untuk dapat pulang, kunikmati memakai baju seragam untuk yang terakhir kali, karena waktu dinas sudah selesai, seblum masuk gerbang, kaos kakiku terpaksa kulepas agar tidak melembabkan kakiku, aku berjalan dengan sepatu plastik yang kubawa di tas....untung saja sepatu plastik ini belum lusuh sama sekali ,,,,,
Guntur masih memekik keras, kupercepat langkah...kuharap dapat tiba di angkot sebelum hujan mengguyur, malangnya....hujan tak mau mengalah, ia tiba2 saja mengucur deras, padahal ia tak tahu kondisiku yang tak membawa pelindung apapun., meski hanya sekedar jaket untuk melindungi kepala, nihil sama sekali....
Aku bingung bukan kepalang, tasku saat ini tak bisa kujadikan korban basah, banyak laporan penting didalamnya, kerudungku yang tipis ditambah seragam putih pasti tak dapat berkomproni dengan air yang mengucur.....
Kuputuskan untuk lebih mengorbankan tas melindungi kepalaku, mudah2an saja map laporanku di dalam bisa membantu melindunginya, aku tak mungkin lari keseberang, kuputuskan berlindung di penjual buah....
Kulihat jalan masih ramai, angkot tak ada yang mau berhenti meski melihatku menanti....aku berteduh tepat disamping pohon jeruk kecil yang belum berbuah....
Kulihat beberapa penjenguk RS menyusulku berteduh disitu, namun tak lama kemudian, ia menyewa becak menjemputnya mengantar naik ke angkot, ku cek sakuku.....huah, malangnya....aku tak dapat mewarisi ide penjenguk yang tak sabar menunggu itu, uangku hanya untuk membeli roti diseberang dan angkot pulang, terpaksa aku ditinggal sendiri...
Mataku tertuju pada pohon., daun....daun jeruk kecil....aku suka sekali daun, dia berawarna hijau tua, jika tiba saatnya layu ia akan menguning, luar biasa daun ini, meskipun hujan dan angin kencang membiasnya.....ia merunduk dan kembali tegak, tak perduli hujan begitu dan makin deras, dan tak perduli dengan aku yang juga berteduh disampingnya.....
Mentalku kalah telak dengan daun, aku yang membenci hujan yang selalu menghalangi aktivitas dan membas
ahi seragamku, tidak demikian dengan daun, ia sadar,,,suatu hari akan tiba waktunya untuk jatuh ketika mulai rapuh dan menguning, ia tak perduli dengan ancaman hujan, badai, petir yang memekak, ataupun angin puting makassar, ia tak perduli dengan sogokan dan suapan mereka, malahan daun dengan cerdas menipunya, pura-pura menunduk dan kembali tegak ketika hujan sampai menerobos aspal
begitulah kau, kau seperti hujan, dan aku mengibaratkan diriku daun...kau juga seperti pasien anak yang kurawat di rumah sakit, pasien yang egois,,,tak perduli apa, siapa, dan apa tujuan kami datang kekamarnya....asal dia melihat yang berpakaian putih, ia akan langsung menangis keras, membangunkan anak2 lain yang juga ikut2an membenci kami...padahal kami datang hanya untuk memperbaiki sepreinya, membersihkan mejanya, ataupun memberinya obat intra vena, kami hanya datang untuk mengganti cairannya, tapi mereka tetap menangis keras, dan melihat anaknya menangis tentu saja seorang ibu yang menjaganya tak akan tinggal diam, dia akan mengawasi kami jangan sampai salah tusuk, dan meminta dengan keras agar anaknya di lepas infusnya....padahal kami tahu, kami juga pernah anak2 dan kami akan selalu menjaga perasaan mereka, anak-anak....
Kau, bahkan lebih egois dari anak2 dan hujan sekalipun, sekalipun aku seperti daun yang pura-pura merunduk dan kembali tegak, meskipun berusaha keras untuk menjalin hubungan baik denganmu, menjaga perasaanmu, bahkan kugadaikan perasaanku untuk membeli perasaanmu, kau tetap begitu, dingin seperti biasa, dan tak dapat menjawab apa2...
aku sudah bilang, aku bukan edward cullen yang dapat membaca pikiran orang, namun kau bilang aku bella swan yang pikirannya terlalu jauh dan tak dapat dibaca, bilang saja satu kata, jawab saja satu kata, maka aku akan mengerti....
Apa susahnya ngomong, memang tidak susah......kau memberi ijin bicara, namun kau sama sekali tak memberi kesempatan untukku bilang satu kata.....kau, seperti anak2...yang tetap memberiku ijin untuk memberinya obat, tapi tetap menangis karena kesal melihatku.....
Kenapa?aku harus menasihatimu, menjelaskan supaya kau paham, dan kau kembali menarik diri karena merasa bersalah, dan jawabannya kembali satu, kau diam dan aku tak dapat jawaban apa2.....
Lalu menurut hujan, apa yang harus dilakukan...agar ia tak kembali melihat daun yang pura2 merunduk dan kembali tegak????
tapi hujan memang egois...ia akan tetap membasahi daun, karena kepatuhannya padaa ilahi, karena ia mengira, daun seperti biasa, akan tetap mengerti dengan hujan yang memang tabiatnya seperti itu....
Jika hujan terus turun di usia daun yang makin tua, maka hujan juga kelamaan akan menyerah, ia jatuh tersungkur, diterpa kendaraan dan terbang entah kemana, ikut menjadi debu yang diinjak....
dan itu juga sama, seperti kau membunuhku perlahan tapi pasti....tapi, tenang saja, aku tak menolak, tapi malah meyarankanmu sebagai hujan untuk lebih mengucur dengan deras agar aku langsung jatuh,....
Sayang sekali, aku berharap daun membenci hujan sepertiku membencinya,,,,daun dengan segala kerendahan hatinya tak pernah mengaku membenci hujan, tak pernah mewasiatkan pada seribu daun muda berikutnya untuk menganiaya hujan karena telah membunuh nenek moyangnya, tapi ia malah menyarankan untuk tetap berdiri tegar dan tegak, mengahadapi hujan, menjadikaannya saahabaat sehati, sampai waktunya untuk menguning dengan hujan yang kembali membunuhnya.....
Dan Aku, juga belajar menjadi daun, karena aku mencintai ilahi yang menurunkan hujan.....
tapi aku memodifikasi menjadi daun yang basah tak pernah membenci hujan....
Tahukah kau hujan?pasti kau tahu, karena sekarang sedang musim hujan, maka kau akan menjadi korban basahnya ketika kau tak punya senjata seperti payung besar, jas hujan, ataupun mentel tebal yang melindungimu...
Hujan, kau tahu dia begitu egois bukan? dia pernah hampir membuatku terlambat dinas di rumah sakit berapa minggu lalu hanya untuk menunggunya reda, dia...Hujan, tak perduli kau punya urusan apa, tak perduli kau seorang presiden, atau pejabat TERAS yang suka duduk di teras....(hahahaha), tak perduli kau adalah selebritis korupsi wisma atlet seperti M.Nazaruddin dan Anggelina Sondakh, tak perduli kau adalah pengantin baru ussy dan andhika, dia akan tetap membasahimu ketika dia diperintah untuk turun, dia sangat patuh, bukan???
beberapa hari lalu, tepat selesai respon di rumah sakit, aku berjalan senang di pelataran rumah sakit disamping guntur yang berteriak di telingaku, angkot ada di seberang, aku tahu aku harus menyeberang untuk dapat pulang, kunikmati memakai baju seragam untuk yang terakhir kali, karena waktu dinas sudah selesai, seblum masuk gerbang, kaos kakiku terpaksa kulepas agar tidak melembabkan kakiku, aku berjalan dengan sepatu plastik yang kubawa di tas....untung saja sepatu plastik ini belum lusuh sama sekali ,,,,,
Guntur masih memekik keras, kupercepat langkah...kuharap dapat tiba di angkot sebelum hujan mengguyur, malangnya....hujan tak mau mengalah, ia tiba2 saja mengucur deras, padahal ia tak tahu kondisiku yang tak membawa pelindung apapun., meski hanya sekedar jaket untuk melindungi kepala, nihil sama sekali....
Aku bingung bukan kepalang, tasku saat ini tak bisa kujadikan korban basah, banyak laporan penting didalamnya, kerudungku yang tipis ditambah seragam putih pasti tak dapat berkomproni dengan air yang mengucur.....
Kuputuskan untuk lebih mengorbankan tas melindungi kepalaku, mudah2an saja map laporanku di dalam bisa membantu melindunginya, aku tak mungkin lari keseberang, kuputuskan berlindung di penjual buah....
Kulihat jalan masih ramai, angkot tak ada yang mau berhenti meski melihatku menanti....aku berteduh tepat disamping pohon jeruk kecil yang belum berbuah....
Kulihat beberapa penjenguk RS menyusulku berteduh disitu, namun tak lama kemudian, ia menyewa becak menjemputnya mengantar naik ke angkot, ku cek sakuku.....huah, malangnya....aku tak dapat mewarisi ide penjenguk yang tak sabar menunggu itu, uangku hanya untuk membeli roti diseberang dan angkot pulang, terpaksa aku ditinggal sendiri...
Mataku tertuju pada pohon., daun....daun jeruk kecil....aku suka sekali daun, dia berawarna hijau tua, jika tiba saatnya layu ia akan menguning, luar biasa daun ini, meskipun hujan dan angin kencang membiasnya.....ia merunduk dan kembali tegak, tak perduli hujan begitu dan makin deras, dan tak perduli dengan aku yang juga berteduh disampingnya.....
Mentalku kalah telak dengan daun, aku yang membenci hujan yang selalu menghalangi aktivitas dan membas
ahi seragamku, tidak demikian dengan daun, ia sadar,,,suatu hari akan tiba waktunya untuk jatuh ketika mulai rapuh dan menguning, ia tak perduli dengan ancaman hujan, badai, petir yang memekak, ataupun angin puting makassar, ia tak perduli dengan sogokan dan suapan mereka, malahan daun dengan cerdas menipunya, pura-pura menunduk dan kembali tegak ketika hujan sampai menerobos aspal
begitulah kau, kau seperti hujan, dan aku mengibaratkan diriku daun...kau juga seperti pasien anak yang kurawat di rumah sakit, pasien yang egois,,,tak perduli apa, siapa, dan apa tujuan kami datang kekamarnya....asal dia melihat yang berpakaian putih, ia akan langsung menangis keras, membangunkan anak2 lain yang juga ikut2an membenci kami...padahal kami datang hanya untuk memperbaiki sepreinya, membersihkan mejanya, ataupun memberinya obat intra vena, kami hanya datang untuk mengganti cairannya, tapi mereka tetap menangis keras, dan melihat anaknya menangis tentu saja seorang ibu yang menjaganya tak akan tinggal diam, dia akan mengawasi kami jangan sampai salah tusuk, dan meminta dengan keras agar anaknya di lepas infusnya....padahal kami tahu, kami juga pernah anak2 dan kami akan selalu menjaga perasaan mereka, anak-anak....
Kau, bahkan lebih egois dari anak2 dan hujan sekalipun, sekalipun aku seperti daun yang pura-pura merunduk dan kembali tegak, meskipun berusaha keras untuk menjalin hubungan baik denganmu, menjaga perasaanmu, bahkan kugadaikan perasaanku untuk membeli perasaanmu, kau tetap begitu, dingin seperti biasa, dan tak dapat menjawab apa2...
aku sudah bilang, aku bukan edward cullen yang dapat membaca pikiran orang, namun kau bilang aku bella swan yang pikirannya terlalu jauh dan tak dapat dibaca, bilang saja satu kata, jawab saja satu kata, maka aku akan mengerti....
Apa susahnya ngomong, memang tidak susah......kau memberi ijin bicara, namun kau sama sekali tak memberi kesempatan untukku bilang satu kata.....kau, seperti anak2...yang tetap memberiku ijin untuk memberinya obat, tapi tetap menangis karena kesal melihatku.....
Kenapa?aku harus menasihatimu, menjelaskan supaya kau paham, dan kau kembali menarik diri karena merasa bersalah, dan jawabannya kembali satu, kau diam dan aku tak dapat jawaban apa2.....
Lalu menurut hujan, apa yang harus dilakukan...agar ia tak kembali melihat daun yang pura2 merunduk dan kembali tegak????
tapi hujan memang egois...ia akan tetap membasahi daun, karena kepatuhannya padaa ilahi, karena ia mengira, daun seperti biasa, akan tetap mengerti dengan hujan yang memang tabiatnya seperti itu....
Jika hujan terus turun di usia daun yang makin tua, maka hujan juga kelamaan akan menyerah, ia jatuh tersungkur, diterpa kendaraan dan terbang entah kemana, ikut menjadi debu yang diinjak....
dan itu juga sama, seperti kau membunuhku perlahan tapi pasti....tapi, tenang saja, aku tak menolak, tapi malah meyarankanmu sebagai hujan untuk lebih mengucur dengan deras agar aku langsung jatuh,....
Sayang sekali, aku berharap daun membenci hujan sepertiku membencinya,,,,daun dengan segala kerendahan hatinya tak pernah mengaku membenci hujan, tak pernah mewasiatkan pada seribu daun muda berikutnya untuk menganiaya hujan karena telah membunuh nenek moyangnya, tapi ia malah menyarankan untuk tetap berdiri tegar dan tegak, mengahadapi hujan, menjadikaannya saahabaat sehati, sampai waktunya untuk menguning dengan hujan yang kembali membunuhnya.....
Dan Aku, juga belajar menjadi daun, karena aku mencintai ilahi yang menurunkan hujan.....




Posting Komentar