Ns. Kidah Adzkaaunnisa
Kampus, 25 Oktober 2011

Hmm,
Sekitar 9 tahun yang lalu....
Saat umurku beranjak 11 tahun...
Aku masih duduk di bangku manja SD yang membuatku setiap hari girang bermain lompat tali bersama teman sepermainanku dahulu....
Waktu itu aku belum mengenal air mata dalah sebuah saksi bisu dan tanda ketulusan...
Aku hanya tahu air mata adalah imbas dari luka di lututku yang berdarah karena lompat-lompat...
Aku hanya ingat air mata adalah imbas dari sholat subuhku yang kurang cukup rakaatnya karena tak bisa menahan kantuk karena habis-habisan dimarahi bapak...
Aku hanya tau air mata adalah imbas atas nilai-nilai raporku yang jelek dan karena tulisan indahku yang disuruh ulang terus menerus....

Tapi waktu itu, entah bulan berapa...akupun sudah tak ingat tanggalnya...
Aku pulang dari sekolah dengan dahi setengah merah, setengahnya lagi hitam..
Ibu menyambutku dengan senyum merona....

Aku tak tahu apa yang sedang membuatnya begitu gembira....
"Nurul, bagaimanji pelajaranmu disekolah nak??, bagus2ji nilai tugasmu??"
"Iye, bagusji..."
"Senangjeko lagi kalo punya adik baru??"ibuku sudah tak sabar membagi kebahagiaannya...
"Hamilki ibu???"
"mmmm....."

Jujur kawand, waktu itu..aku kurang begitu senang bila adikku harus bertmabah lagi, karena adikku yang sebelumnya msih kecil-kecil dan nakal, merepotkan pulaa....selain itu, akupun harus berbagi segala sesuatu dengan mereka, tidak semerdeka ketika aku masih 2 orang dengan kakakqu sewaktu mengajarinya bicara dengan aku yang lebih duluan darinya....

 "Pasti kelak laki-laki"
Aku sudah bisa menduganya kawand, karena aku adalah orang yang harusnya bersyukur karena persaudaraanku selang-seling..jadi aku bisa menduga kuat bahwa kelak adikku laki-laki...
Ibu masih dengan meronanya...aku hanya tersenyum tipis...

9 bulan berlalu...
Aku sampai bersama bapak beserta ketiga saudaraku yang lain dirumah bersalin nur ihsan dengan ibuku yang sudah merintih, ya Allah....aemoga semuanya baik-baik saja...

Waktu itu malam, sekitar pukul 9, aku sudah berabjak kerumah saki, namun semangat menantikan kelahiran adik baru ini harus terhapus begitu saja dengan ucapan bidan pasrah itu....
"Maaf bu, persalinannya tidak bisa di lakukan disini..ibu harus dirujuk ke sungguminasa, alat kami kurang lengkap"

Bersegera kami semua menggiring ibu kerumah sakit rujukan itu...
Sudah pukul 12 malam,
Ibu masih di ruang bersalin....
Aku tak bisa mendengar rintihannya....

Tiba2 dokter keluar, dengan stetoskop yang menggantung di lehernya, dan masker serta handscoon yang masih terpasang di wajah dan tangannya...
Ia membawa sebuah surat beberapa lembar.....

***To Be Continue.....
0 Responses

Posting Komentar