Kak, yang namanya
perpisahan sangatlah tidak nyaman. Dari dulu aku selalu peka dengan perpisahan,
seperti sangat tidak sanggup mengantar kepergian seseorang. Langkah-langkah
kaki, koper yang berat, amanah yang terukir di jidat, seakan siap kau benturkan
kapan saja jika kelak impianmu tak terwujud di seberang sana. Alasanmu
sangatlah jelas, namun aku tak pernah bisa mentolerir, meski saja senyum selalu
tersunggih, ingin rasanya saat itu aku lulus audisi menjadi aktris yang
berperan di drama, menjalani casting dan
berperan sebagai gadis yang menghalang taksi, menuyusulmu ke bandara, menarik
kopermu disana, kemudian menggapai lenganmu, dan mengatakan aku tak siap untuk
kau tinggalkan. Tentu saja untuk kesekian kali, tahun ke-4, semenjak tuhan
menyulam cerita untuk kita.
Diittt…diitttt
Ponsel yang sejak aku
menghempaskan tubuh di kasur, merasakan letih setelah menghantar panasnya
cuaca, terlebih jika harus menginjak kampus yang hijaunya masih tumbuh satu
persatu. Siang itu memang terik sekali. Rasanya ingin sekali masuk kulkas,
namun itu hal terakhir yang tergambar setelah banyaknya pilihan selain tepar
diatas ranjang memencet kipas angin. Ponsel itu masih bergetar, dengan langkah
masih terhuyung dibasuh penat, kuputuskan bangun sejenak untuk menghentikan
kebisingannya.
1
new message :08574342xxxx
“Hati
yang paling lurus adalah hati yang selalu menerima. Didalamnya terdapat banyak
ruangan, setiap orang yang singgah berhak untuk pergi, berhak pula untuk
tinggal di dalamnya. Jika saja ia kelak pergi karena jenuh, kuncilah ruang itu
rapat-rapat, antar ia hingga ke tempat yang aman, dan ambillah milikya sebagai
kenangan. Jika ia kembali datang, sambutlah ia dengan senyum, anggap ia sebagai
orang baru, dimana kau akan memperlakukannya dengan baik kapan saja.
Hmm, nomor baru. Tidak
tercatat di kontak
Dengan gesit
kuhempaskan kembali badanku, dengan ponsel touchcreeen
yang sedang kuulek untuk mengetik pesan baru, tentu saja itu buat reply pesan “anggun” misterius tadi.
“Maaf, dengan siapa yah?”. Terkirim.
Diittt…….diiiittttttt….
“Yang hatinya paling lurus, Jemarin.:)”
Kak, cerita kita
berawal dari hal yang tidak unik. Adalah hal bodoh mengingat waktu itu aku
hampir melupakan penat akibat pingkal yang renyah sekali. Namamu Jemarin. Baru
pertama kali aku mengetahui ada nama seperti itu. Sejak itu kita sering message. Tidak dijejaring sosial, smartphone milikku, dan milikmu? Tentu
aja aku tidak tahu. Itu seperti puzzle yang enggan kau pisah dengan ribuan
jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang selalu ku ujar. Kau selalu saja
tersenyum dengan icon smile langganan
messagemu.
Hingga hari itu, kita
akhirnya bertemu.
“Kak, kenapa kakak
pulang?”
Aku tidak menatapmu
waktu itu, karena kita sama-sama hanyut menikmati hembusan laut di pinggir
pantai. Sebentar lagi, senja akan membungkus laut menjadi merah. Gerombolan
anak kecil masih senang kejar-kejaran sejak tadi, ada juga para pengunjung
pantai di sebelah kami yang asyik menikmati panorama losari ini. Tidak
tanggung-tanggung, losari selalu jadi pilihan paling tepat untuk mempertemukan
mereka yang berkutat rindu. Disini, ada rekam hidup yang diceritakan ulang, ada
barisan pengamen yang bernyanyi lagu sendiri. Apa saja, yang penting receh
mereka dapatkan untuk sekedar dibawa pulang, ataupun berbagi kebahagiaan dengan
yang lain. Kak, apa kita juga sedang berbagi kebahagiaan disini? Hingga itu
rasanya bertambah banyak, kemudian kita bawa pulang, atau kita sedang berbagi
kesedihan? hingga itu berkurang, dan ruang hati kita yang paling lurus seperti
katamu akan menerangkan lagi lampion-lampion senyum.
Kak, losari masih
berombak, berisik sekali. Mengapa kau hanya terdiam sejak tadi?
“Kakak pulang bersama
rindu.” Kau berujar datar.
“Rindu?” tanyaku.
“Iya Far, rindu. Rindu
yang selalu kakak bendung. Hingga ia akhirnya tumpah. Dan segera kakak rapikan
bersama kepakan barang. Kakak taruh dalam ruang hati kakak untuk dikunci rapat.
Rindu pada ibu dan keluarga kakak di kampung, pada saudara-saudara kakak”,
jawabnya.
“Kakak sudah membuka
rindu-rindu itu?” aku bertanya lagi.
“Sudah Far. Kakak sudah
membagikannya kepada yang berhak mendapatkannya.”
“Berhak?”. Aku yakin,
baru saja aku hampir paham sekali mengenai apa yang sedang kau bicarakan.
“Kakak malu Far, malu
sekali. Membuat rindu banyak-banyak membuat kakak gelisah. Kakak takut, jika
kelak rindu itu kakak akan bawa kembali. Kakak tidak telah memberikannya. Kakak
takut menyesal” kali ini kau sudah menoleh padaku.
Kak, sore itu senja
tidak ikut membungkus hati kita. Kita pulang ke rumah masing-masing dengan tergugu.
Kita pulang tidak membawa kebahagiaan kak, tapi harapan. Kau, tentu saja kau
sangat takut membuat rindu untukku. Aku selalu ingat kau pernah berkata tak
akan masuk ke hati seseorang yang masih lurus kak. Kau akan setia menunggu
diluar tanpa mengetuknya. Kau tahu akan tiba suatu saat nanti pintu itu akan
terbuka sendiri, tentu saja dibuka oleh pemiliknya. Apa itu berarti aku tidak
telah membukanya untukmu? Aku? Kenapa pula harus aku? Bisa saja itu hati yang
lain. Aku bahkan tidak yakin, hatiku masih lurus atau tidak.
Smartphone
milikku yang terselip di bawah bantal tiba-tiba berbunyi nyaring. Ah,
sepertinya aku merasa tak pernah menyetel alarm. Hari ini hari minggu. Sebisa
mungkin aku ingin beristirahat di hari sepenting ini. Aku tidak akan
segan-segan untuk tidak menaruh agenda di barisan waktunya. Hari minggu adalah
hari untukku, untuk diriku sendiri, tanpa harus di campuri oleh urusan lain.
Kukucek-kucek mata.
Segera aku bangun dengan balutan piyama hijau kesukaanku untuk melangkah ke
kamar mandi. Aku mencuci muka dan berkumur-kumur. Lalu turun ke dapur mengambil
segelas air. Lantai rumah kini terketuk nyaring oleh sandal berbulu lembut yang
melekat di kakiku. Belum ada siapa-siapa yang bangun. Seisi rumah masih gelap.
Kamar Ibu juga belum terbuka. Aku naik kembali ke lantai 2 tempat kamarku
berada. Rumah ini senyap sekali ketika masih pagi buta seperti ini. Aku yakin
ini belum sampai pukul 06.00 pagi. Lalu siapa yang membangunkanku?
Kupercepat langkah
seok-seok dengan sandal berbulu lembut itu. Membuka pintu kamar. Menutup
kembali. Plaaakkk. Aku tidak sengaja
dengan hentakan pintu karena terburu-buru, ku angkat bantal tidurku, mencari smartphone yang terselip di bawahnya.
Pukul 05.30. tulisan
waktunya besar sekali, ini memang aku yang mengaturnya.
Tapi,
1
new message. Ini bukan aku yang mengaturnya.
Gerakan jemariku tanpa
di perintah segera menggeser layar smartphone,
“Kakak pulang dulu. Kembali ke Yogya. Maaf tidak pamit secara langsung”
Aku menarik nafas,
dalam sekali.
“Jangan resah dulu, masih ada satu kejutan lagi”
Ku scrool message itu
sampai kebawah. Penasaran.
Sticker
smile kesukaanku. Masih
ada pesan di bawahnya,
“Satu kejutan lagi”. Ketika itu pula bel rumah berbunyi.
Aku tergopoh-gopoh.
Membuka pintu kamar. Membantingnya sekali lagi. Plaaak. Turun tangga kencang sekali. Hingga membuka pintu depan.
“Selamat pagi!”
senyumnya mengambang.
Aku masih mematung,
tanpa mengucap sepatah katapun. Apalagi menjawab sapaan gadis manis di depanku
ini. Usianya mungkin sekitar 16 tahun, memakai pakaian sekolah dengan warna rok
seltumit dan jilbab senada. Ia sepertinya tidak begitu kecewa melihat aku yang
terdiam.
“Dengan mbak Farisah ?”
ia kembali bertanya manis.
“I…iyaaa, dengan mbak siapa?”
aku refleks saja membuka pertanyaan. Mestinya yang kulakukan saat ini adalah
mengajaknya masuk rumah. Bahkan tatakramaku pun akan jadi ledekan pagi ini.
Syukur saja tak ada orang lain selain kami. Aku dan si gadis senyum mengambang.
“Nama saya Zahrah.
Saya…”
Zahrah. Siapa pula itu? Aku rasanya hampir tak
mengenal seseorang bernama Zahrah.
“Saya keponakannya Paman
Jemarin”. Ia melanjutkan. Tentu saja sudah menghancurkan tanda Tanya besar di
kepalaku.
“Silahkan masuk!” dan
aku memulai ujian tatakrama. 10 poin pertama untuk mengajaknya masuk. Ia
tiba-tiba saja bersuara lagi ketika aku beranjak membalik badan mengisyaratkan
mengikuti.
“Maaf mbak, saya gak
bisa lama, harus kesekolah soalnya”. Senyumnya mengambang lagi, kali ini
diikuti dengan gerakan tangannya yang merogoh isi ransel yang sudah dia peluk
rapi. Mengeluarkan sebuah bungkusan hitam.
“Ini ada titipan dari
Paman Jemarin, paman berpesan untuk segera membawanya ke mbak Farisah. Paman
sudah berangkat tadi pagi dengan pesawat pertama. Menitip maaf juga gak bisa
memberi langsung. Saya pamit dulu”. Si senyum mengambang membalikkan badan,
melangkah pelan-pelan keluar pagar. Menjauh. Ia sepertinya betul-betul takut
terlambat ke sekolah
Kak, kau takut membuat
rindu banyak-banyak. Tapi kau membuatkanku maaf banyak sekali. Apa ini juga kau
ikat rapi dalam kepakan pakaianmu? kau lupa mengeluarkannya hingga melihatnya
kembali dan merasa itu yang paling berhak untukku?
Aku sungguh tidak tahu
kak, kali ini aku tidak bisa menebak hingga membuka bungkusan hitam itu. Isinya
sebuah dompet smartphone batik. Ada
rumah dan pohon yang berdekatan menempel di permukaannya. Kemudian matahari
berpinggiran sulaman kuning menyinari kedua benda datar yang terjahit itu. Dan
calon penghuni dompet itu, tentu saja smartphone
yang tadi kutinggal ketika zahrah datang, berbunyi nyaring lagi. Aku takut itu
kau, kak. Aku takut dompet smartphone ini
adalah betul simbolis maafmu yang tak bisa membuat rindu untukku. Aku takut,
seperti tak kuat mengomando jemari ini untuk menggesernya melihat pesanmu.
1
new message
“Farisah,
apa kau suka sama titipan kakak dari zahrah? Maaf, kakak memang tidak bisa
membuat rindu, buat apa juga kakak buat ketika itu sudah ada dalam hati kita
masing-masing?kita tak perlu melisankannya, bukan? Kakak rasa, yang perlu kakak
kepak adalah maaf. Ketika membuat rindu kita hanya berjalan lurus tapi tidak
saling menyapa?Itu bukan karena kita, kau dan aku tak mau membuatnya bertemu,
bukan? Aku rasa kita sama-sama saling menunggu hari baik untuk mengutarakannya.
Farisah belajar yang baik, yah! Jangan buat kecewa orang tua. Dan segera
menjadi sarjana. Amin”
Kak, piyama hijau
lembut yang kukenakan menjadi transparan sekali oleh bulir bahagia yang tidak
sanggup kubendung seperti kau membendung rindu. Ia tidak menggenang kak, tidak.
Ia melebar untuk menjadi kering dan tidak nampak untuk menjadi gelap, supaya
lampion-lampion senyum di hati kita lebih terang hingga pertemuan berikutnya.


