Ns. Kidah Adzkaaunnisa


Kak, yang namanya perpisahan sangatlah tidak nyaman. Dari dulu aku selalu peka dengan perpisahan, seperti sangat tidak sanggup mengantar kepergian seseorang. Langkah-langkah kaki, koper yang berat, amanah yang terukir di jidat, seakan siap kau benturkan kapan saja jika kelak impianmu tak terwujud di seberang sana. Alasanmu sangatlah jelas, namun aku tak pernah bisa mentolerir, meski saja senyum selalu tersunggih, ingin rasanya saat itu aku lulus audisi menjadi aktris yang berperan di drama, menjalani casting dan berperan sebagai gadis yang menghalang taksi, menuyusulmu ke bandara, menarik kopermu disana, kemudian menggapai lenganmu, dan mengatakan aku tak siap untuk kau tinggalkan. Tentu saja untuk kesekian kali, tahun ke-4, semenjak tuhan menyulam cerita untuk kita.
Diittt…diitttt
Ponsel yang sejak aku menghempaskan tubuh di kasur, merasakan letih setelah menghantar panasnya cuaca, terlebih jika harus menginjak kampus yang hijaunya masih tumbuh satu persatu. Siang itu memang terik sekali. Rasanya ingin sekali masuk kulkas, namun itu hal terakhir yang tergambar setelah banyaknya pilihan selain tepar diatas ranjang memencet kipas angin. Ponsel itu masih bergetar, dengan langkah masih terhuyung dibasuh penat, kuputuskan bangun sejenak untuk menghentikan kebisingannya.
1 new message :08574342xxxx
“Hati yang paling lurus adalah hati yang selalu menerima. Didalamnya terdapat banyak ruangan, setiap orang yang singgah berhak untuk pergi, berhak pula untuk tinggal di dalamnya. Jika saja ia kelak pergi karena jenuh, kuncilah ruang itu rapat-rapat, antar ia hingga ke tempat yang aman, dan ambillah milikya sebagai kenangan. Jika ia kembali datang, sambutlah ia dengan senyum, anggap ia sebagai orang baru, dimana kau akan memperlakukannya dengan baik kapan saja.
Hmm, nomor baru. Tidak tercatat di kontak
Dengan gesit kuhempaskan kembali badanku, dengan ponsel touchcreeen yang sedang kuulek untuk mengetik pesan baru, tentu saja itu buat reply pesan “anggun” misterius tadi.
Maaf, dengan siapa yah?”. Terkirim.
Diittt…….diiiittttttt….
Yang hatinya paling lurus, Jemarin.:)
Kak, cerita kita berawal dari hal yang tidak unik. Adalah hal bodoh mengingat waktu itu aku hampir melupakan penat akibat pingkal yang renyah sekali. Namamu Jemarin. Baru pertama kali aku mengetahui ada nama seperti itu. Sejak itu kita sering message. Tidak dijejaring sosial, smartphone milikku, dan milikmu? Tentu aja aku tidak tahu. Itu seperti puzzle yang enggan kau pisah dengan ribuan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang selalu ku ujar. Kau selalu saja tersenyum dengan icon smile langganan messagemu.
Hingga hari itu, kita akhirnya bertemu.
“Kak, kenapa kakak pulang?”
Aku tidak menatapmu waktu itu, karena kita sama-sama hanyut menikmati hembusan laut di pinggir pantai. Sebentar lagi, senja akan membungkus laut menjadi merah. Gerombolan anak kecil masih senang kejar-kejaran sejak tadi, ada juga para pengunjung pantai di sebelah kami yang asyik menikmati panorama losari ini. Tidak tanggung-tanggung, losari selalu jadi pilihan paling tepat untuk mempertemukan mereka yang berkutat rindu. Disini, ada rekam hidup yang diceritakan ulang, ada barisan pengamen yang bernyanyi lagu sendiri. Apa saja, yang penting receh mereka dapatkan untuk sekedar dibawa pulang, ataupun berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Kak, apa kita juga sedang berbagi kebahagiaan disini? Hingga itu rasanya bertambah banyak, kemudian kita bawa pulang, atau kita sedang berbagi kesedihan? hingga itu berkurang, dan ruang hati kita yang paling lurus seperti katamu akan menerangkan lagi lampion-lampion senyum.
Kak, losari masih berombak, berisik sekali. Mengapa kau hanya terdiam sejak tadi?
“Kakak pulang bersama rindu.” Kau berujar datar.
“Rindu?” tanyaku.
“Iya Far, rindu. Rindu yang selalu kakak bendung. Hingga ia akhirnya tumpah. Dan segera kakak rapikan bersama kepakan barang. Kakak taruh dalam ruang hati kakak untuk dikunci rapat. Rindu pada ibu dan keluarga kakak di kampung, pada saudara-saudara kakak”, jawabnya.
“Kakak sudah membuka rindu-rindu itu?” aku bertanya lagi.
“Sudah Far. Kakak sudah membagikannya kepada yang berhak mendapatkannya.”
“Berhak?”. Aku yakin, baru saja aku hampir paham sekali mengenai apa yang sedang kau bicarakan.
“Kakak malu Far, malu sekali. Membuat rindu banyak-banyak membuat kakak gelisah. Kakak takut, jika kelak rindu itu kakak akan bawa kembali. Kakak tidak telah memberikannya. Kakak takut menyesal” kali ini kau sudah menoleh padaku.
Kak, sore itu senja tidak ikut membungkus hati kita. Kita pulang ke rumah masing-masing dengan tergugu. Kita pulang tidak membawa kebahagiaan kak, tapi harapan. Kau, tentu saja kau sangat takut membuat rindu untukku. Aku selalu ingat kau pernah berkata tak akan masuk ke hati seseorang yang masih lurus kak. Kau akan setia menunggu diluar tanpa mengetuknya. Kau tahu akan tiba suatu saat nanti pintu itu akan terbuka sendiri, tentu saja dibuka oleh pemiliknya. Apa itu berarti aku tidak telah membukanya untukmu? Aku? Kenapa pula harus aku? Bisa saja itu hati yang lain. Aku bahkan tidak yakin, hatiku masih lurus atau tidak.
Smartphone milikku yang terselip di bawah bantal tiba-tiba berbunyi nyaring. Ah, sepertinya aku merasa tak pernah menyetel alarm. Hari ini hari minggu. Sebisa mungkin aku ingin beristirahat di hari sepenting ini. Aku tidak akan segan-segan untuk tidak menaruh agenda di barisan waktunya. Hari minggu adalah hari untukku, untuk diriku sendiri, tanpa harus di campuri oleh urusan lain.
Kukucek-kucek mata. Segera aku bangun dengan balutan piyama hijau kesukaanku untuk melangkah ke kamar mandi. Aku mencuci muka dan berkumur-kumur. Lalu turun ke dapur mengambil segelas air. Lantai rumah kini terketuk nyaring oleh sandal berbulu lembut yang melekat di kakiku. Belum ada siapa-siapa yang bangun. Seisi rumah masih gelap. Kamar Ibu juga belum terbuka. Aku naik kembali ke lantai 2 tempat kamarku berada. Rumah ini senyap sekali ketika masih pagi buta seperti ini. Aku yakin ini belum sampai pukul 06.00 pagi. Lalu siapa yang membangunkanku?
Kupercepat langkah seok-seok dengan sandal berbulu lembut itu. Membuka pintu kamar. Menutup kembali. Plaaakkk. Aku tidak sengaja dengan hentakan pintu karena terburu-buru, ku angkat bantal tidurku, mencari smartphone yang terselip di bawahnya.
Pukul 05.30. tulisan waktunya besar sekali, ini memang aku yang mengaturnya.
Tapi,
1 new message. Ini bukan aku yang mengaturnya.
Gerakan jemariku tanpa di perintah segera menggeser layar smartphone,
Kakak pulang dulu. Kembali ke Yogya. Maaf tidak pamit secara langsung
Aku menarik nafas, dalam sekali.
Jangan resah dulu, masih ada satu kejutan lagi”
Ku scrool message itu sampai kebawah. Penasaran.
Sticker smile kesukaanku. Masih ada pesan di bawahnya,
Satu kejutan lagi”. Ketika itu pula bel rumah berbunyi.
Aku tergopoh-gopoh. Membuka pintu kamar. Membantingnya sekali lagi. Plaaak. Turun tangga kencang sekali. Hingga membuka pintu depan.
“Selamat pagi!” senyumnya mengambang.
Aku masih mematung, tanpa mengucap sepatah katapun. Apalagi menjawab sapaan gadis manis di depanku ini. Usianya mungkin sekitar 16 tahun, memakai pakaian sekolah dengan warna rok seltumit dan jilbab senada. Ia sepertinya tidak begitu kecewa melihat aku yang terdiam.
“Dengan mbak Farisah ?” ia kembali bertanya manis.
“I…iyaaa, dengan mbak siapa?” aku refleks saja membuka pertanyaan. Mestinya yang kulakukan saat ini adalah mengajaknya masuk rumah. Bahkan tatakramaku pun akan jadi ledekan pagi ini. Syukur saja tak ada orang lain selain kami. Aku dan si gadis senyum mengambang.
“Nama saya Zahrah. Saya…”
 Zahrah. Siapa pula itu? Aku rasanya hampir tak mengenal seseorang bernama Zahrah.
“Saya keponakannya Paman Jemarin”. Ia melanjutkan. Tentu saja sudah menghancurkan tanda Tanya besar di kepalaku.
“Silahkan masuk!” dan aku memulai ujian tatakrama. 10 poin pertama untuk mengajaknya masuk. Ia tiba-tiba saja bersuara lagi ketika aku beranjak membalik badan mengisyaratkan mengikuti.
“Maaf mbak, saya gak bisa lama, harus kesekolah soalnya”. Senyumnya mengambang lagi, kali ini diikuti dengan gerakan tangannya yang merogoh isi ransel yang sudah dia peluk rapi. Mengeluarkan sebuah bungkusan hitam.
“Ini ada titipan dari Paman Jemarin, paman berpesan untuk segera membawanya ke mbak Farisah. Paman sudah berangkat tadi pagi dengan pesawat pertama. Menitip maaf juga gak bisa memberi langsung. Saya pamit dulu”. Si senyum mengambang membalikkan badan, melangkah pelan-pelan keluar pagar. Menjauh. Ia sepertinya betul-betul takut terlambat ke sekolah
Kak, kau takut membuat rindu banyak-banyak. Tapi kau membuatkanku maaf banyak sekali. Apa ini juga kau ikat rapi dalam kepakan pakaianmu? kau lupa mengeluarkannya hingga melihatnya kembali dan merasa itu yang paling berhak untukku?
Aku sungguh tidak tahu kak, kali ini aku tidak bisa menebak hingga membuka bungkusan hitam itu. Isinya sebuah dompet smartphone batik. Ada rumah dan pohon yang berdekatan menempel di permukaannya. Kemudian matahari berpinggiran sulaman kuning menyinari kedua benda datar yang terjahit itu. Dan calon penghuni dompet itu, tentu saja smartphone yang tadi kutinggal ketika zahrah datang, berbunyi nyaring lagi. Aku takut itu kau, kak. Aku takut dompet smartphone ini adalah betul simbolis maafmu yang tak bisa membuat rindu untukku. Aku takut, seperti tak kuat mengomando jemari ini untuk menggesernya melihat pesanmu.
1 new message
“Farisah, apa kau suka sama titipan kakak dari zahrah? Maaf, kakak memang tidak bisa membuat rindu, buat apa juga kakak buat ketika itu sudah ada dalam hati kita masing-masing?kita tak perlu melisankannya, bukan? Kakak rasa, yang perlu kakak kepak adalah maaf. Ketika membuat rindu kita hanya berjalan lurus tapi tidak saling menyapa?Itu bukan karena kita, kau dan aku tak mau membuatnya bertemu, bukan? Aku rasa kita sama-sama saling menunggu hari baik untuk mengutarakannya. Farisah belajar yang baik, yah! Jangan buat kecewa orang tua. Dan segera menjadi sarjana. Amin”
Kak, piyama hijau lembut yang kukenakan menjadi transparan sekali oleh bulir bahagia yang tidak sanggup kubendung seperti kau membendung rindu. Ia tidak menggenang kak, tidak. Ia melebar untuk menjadi kering dan tidak nampak untuk menjadi gelap, supaya lampion-lampion senyum di hati kita lebih terang hingga pertemuan berikutnya.
0 Responses

Posting Komentar