Malam ini sambil
dengar bidadari surganyanya ustad jefri, hujan deras mengiring tanganku menulis
sebuah kisah yang pernah kusimak sendiri di sebuah radio dimana saya hampir
selalu menitikkan air mata ketika mengingatnya, betapa dia yang mengalami ini
sungguh sangat menyesal tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik bersama
orang-orang yang menyayanginya. Semoga kisah ini dapat menjadi permata berharga
bagi kita, terutama kita perempuan untuk mendapat pendamping yang baik. Amin.
Aku
mulai mengenal Zulfikar saat kami duduk bersama di bangku SMA,. SMA adalah
masa-masa paling mulia bagi insan seusia kami, dimana saat itu adalah puncak
pubertas seorang seumuran remaja sepertiku. Waktu itu kami sekelas, dia selalu
memperhatikanku dalam setiap gerak-gerik dan langkah, mengintip dari balik
tembok yang tak ia raba kotorannya, ataupun seolah-olah jatuh dan memanggil
seseorang agar dapat sekedar lewat dan melihatku. Karena tingkah lakunya yang
sering menatapku diam-diam dimana dapat kuketahui dengan lirikan ekor mataku
yang seakan-akan tak memperhatikannya. Akhirnya kesimpulanku memang benar, ia
menyukaiku dan suatu hari menyatakan cintanya untuk menjadi kekasih setia. Kami
pun mulai menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih yang tak terpisah oleh
badai. Dia sangat menyayangiku, dan suatu hari berjanji untuk sukses serta
datang melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya. Tentu saja aku
bahagia, aku merasa seperti ada yang menerobos kesendirianku selama ini oleh
kesetiaan dan senyumannya setiap hari.
Hingga
suatu hari datanglah hari itu, dimana orang tuaku tiba-tiba ingin menjodohkanku
dengan anak sahabat mereka dari masa muda. Ayah dan ibu sama sekali tak pernah
mendiskusikan hal ini kepadaku. Ia begitu saja menrima lamaran orang tua pemuda
itu. Aku menangis terisak-isak sambil berjuang bahwa aku sudah mempunyai calon
yang lebih baik. Namun orang tuaku berkata ia tak pernah begitu merestuiku
dengan zulfikar meski ia seringkali datang ke rumah ngobrol dengan ayah dan ibu.
Ibu pun tahu aku sudah berpacaran dengan zulfikar sejak lama, namun ia juga
bersikeras ia akan sangat malu jika saja membatalkan lamaran sahabatnya. Ia
mengatakan pemuda yang merupakan calon suamiku itu adalah orang yang baik dan
taat beragama. Ia juga tidak pernah berpacaran dengan wanita lain sebelum
melamar diriku. Sungguh aku tak dapat menerima semua ini, aku bahkan mogok
makan, tapi ibu datang ke kamarku membelai rambutku kemudian mengatakan untuk
memenuhi keinginannya kali ini saja.
Beberapa
hari zulfikar terus menghubungiku, namun tak satupun panggilannya aku jawab
dikarenakan hatiku yang masih kacau. Aku pun seperti tak sanggup berbicara dengannya untuk
menyakiti hatinya dengan mengatakan orang tuaku sudah menjodohkanku dengan
pemuda lain. Mengingat betapa aku juga sangat mencintainya dan entah apa yang
akan terjadi pada diriku jika saja kami tiba-tiba putus. Akupun keluar rumah
untuk mencari udara segar dan menghibur diri setelah beberapa hari mengurung
diri di kamar. Dari beberapa pembicaraan warga sekitar kompleks rumahku,
terungkaplah bahwa calon suamiku itu adalah orang yang sangat berbudi. Namanya
Ikhsan. Ia sangat patuh pada orang tuanya dan sekalipun tak pernah melirik
gadis-gadis disekitarnya untuk dijadikan pacar. Ketika pemuda-pemuda seusianya
lebih memilih untuk berkumpul di pos ronda pada malam minggu, ia tak pernah
ikut bergabung bersama mereka. Ia lebih suka pergi ke masjid 5 kali sehari
untuk menunaikan shalat berjamaah serta mengajar anak-anak TPA, ia juga seorang
guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Ketika berpapasan dengan para tetua
kompleks, ia akan menundukkan kepalanya serta bersalaman pada mereka dengan
penuh rasa hormat seperi hormatnya pada orang tuanya. Banyak pemuda-pemuda di
kompleks rumahku mengatakan ia adalah pemuda yang kurang pergaulan (kuper),
namun penilaian-penilaian seperti itu tak sekalipun ia hiraukan untuk mengubah
kebiasaan dan tingkah lakunya.
Aku
merinding setengah mati mendengarkan cerita-cerita itu. Tak pernah kubayangkan
seumur hidupku aku kelak akan berjodoh dengan seseorang yang kurang pergaulan,
meskipun ia memiliki ketaatan agama yang baik serta rajin beribadah. Bahkan tak
pernah terlontar kata dari mulutku untuk sekedar menyapanya ataupun dia yang
menyapa duluan, meski ia tahu kami akan segera menikah, ia tak pernah
mengajakku untuk menikmati waktu berdua dan saling mengenal lebih jauh. Makin
hari, aku makin dirundung sesal dan air mata. Akupun terpaksa harus
menceritakan semuanya pada zulfikar, awalnya ia tak mau merelakanku, namun air
mataku yang tak pernah berhenti tumpah ketika berbicara dengannya dan rasa
hormatnya pada orang tuaku membuatnya merelakanku dengan ikhsan meski sangat
terpaksa. Zulfikar mengatakan, jika saja kelak kami memang berjodoh, maka kami
akan dapat bertemu kembali pada waktu yang tepat.
Pernikahanku
pun berlangsung. Mataku yang bengkak kini tertutupi oleh tebalnya make-up yang
merapat di wajahku. Semua orang yang hadir di resepsi kami sangat berbahagia,
kecuali aku. Pesta itupun berakhir. Dan malam inilah yang sangat dinantikan
oleh semua pengantin baru, Malam pertama bersama orang yang dicintainya. Tapi
itu sepertinya tak berlaku bagiku. Karena kamar pengantin yang ku tempati saat
ini terasa seperti kuburan yang lekas akan menelanku hidup-hidup. Mas Ikhsan
pun masuk ke dalam kamar, kemudian mengganti pakaiannya di kamar mandi. Aku
yang masih duduk di tepi ranjang sendiri heran mengapa Mas Ikhsan tak pernah
menyapaku setelah pesta dan memilih berganti di ruang tertutup padahal kami
telah resmi menjadi sepasang suami isteri. Tapi sapaan itu kemudian terlontar
dari mulutnya ketika keluar dari kamar mandi untuk menyuruhku tidur dan
istirahat. Ia pun keluar kamar bercengkerama bersama keluargaku.
Aku
yang juga kelelahan, akhirnya juga tertidur pulas di ranjang pengantin kami
setelah membersihkan diri. Pada saat seperdua malam, aku terbangun dan tak
melihat seorangpun tidur disampingku. Aku melihat Mas Ikhsan tidur di atas
karpet tipis di samping tempat tidur. Mengapa Mas Ikhsan tidak tidur denganku
di ranjang pengantin kami? Meskipun aku tak menyukai pernikahan ini,
bagaimanapun aku sudah menjadi istrinya yang wajib ia beri nafkah batin di
malam pertama kami, dan ia telah menjadi suamiku yang semestinya menjalani
kewajibannya. Namun kutepiskan semua prasangka buruk dengan mengira bahwa Mas
Ikhsan mungkin juga sangat kelelahan sehingga tak sempat membangunkanku agar
dapat tidur disampingku.
Akupun
melanjutkan tidur dan terbangun ketika ayam mulai bersahut. Aku menatap
sekeliling kamar dan tidak melihat Mas Ikhsan didalamnya. Akupun mencuci muka
dan merapikan diri kemudian membenahi kamar. Mas Ikhsan kemudian mengetuk pintu
dan kupersilahkan ia masuk. Ia menorehkan senyum lebar terhadapku sambil
bertanya,
“Dik
nadyah sudah sholat subuh?”, akupun menjawab aku baru saja akan mengambil air
wudhu. Ia mengangguk kemudian beranjak keluar kamar. Aku menunaikan sholat
subuh ketika pagi hampir merambat membungkus kota dan mengurus kelengkapan Mas
Ikhsan untuk berangkat mengajar ke sekolah. Aku membuatkannya sarapan kemudian
mencium tangannya ketika berangkat. Meski aku masih kesal dengan pernikahan
ini, aku tak melupakan kewajibanku sebagai isteri yang harus mengurus dan
berbakti pada Mas Ikhsan. Tak sekalipun rundung sesal karena telah menikah
dengannya kutunjukkan. Aku hanya diam-diam menangis di kamar ketika ia
berangkat kerja, kemudian mengelap air mataku ketika ia datang. Kualasi wajahku
dengan bedak agar tak tampak telah menangis sepanjang hari. Aku masih saja
selalu teringat kenangan-kenanganku bersama zulfikar, dan mengingat betapa kebahagiaan
akan membungkus kami jika saja pernikahan ini tidak terjadi.
Malam-malam
berikutnya sikap Mas Ikhsan masih saja sama, ia tak pernah tidur disampingku
melainkan diatas karpet tipis di atas lantai. Aku hanya ingat ketika terbangun
di tengah malam, selimut sudah membungkus tubuhku, dan Mas Ikhsan tidur di atas
lantai. Mungkin saja Mas Ikhsan yang menyelimutiku lalu ia tidur di tempat lain
yang hanya ada sebuah bantal sebagai penyangga kepalanya. Lambat laun, aku
makin tidak percaya dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Mas Ikhsan adalah
seorang yang taat beragama. Jika saja itu memang benar, ia tidak mungkin lupa
memberikan nafkah batin untukku setelah 3 bulan pernikahan kami. Akupun mulai
melupakan kenanganku bersama Zulfikar.
Mas
ikhsan selalu mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan rumah tangga, ia juga
memberiku sebagian gajinya setiap bulan untuk keperluan pribadiku. Mas Ikhsan
telah memberiku nafkah lahir, tapi ia tidak pernah menjadikanku isterinya. Apa
aku ini hanya boneka untuknya? Yang setiap hari bisa ia pandang namun tak ia sentuh,
atau Mas Ikhsan impoten? Aku semakin berpikir yang tidak-tidak dari hari ke
hari. hingga suatu hari Mas Ikhsan pulang hampir larut, dan aku sengaja tak
tidur duluan untuk menantinya pulang. Baru saja aku akan bertanya mengenai
sikapnya yang aneh padaku selama pernikahan kami, ia kemudian mengeluh letih
dan ingin beristirahat. Kuajak ia beristirahat di tempat tidur, namun Mas
Ikhsan menolak kemudian menyuruhku untuk tidur dan tidak begadang lagi
menunggunya agar aku tidak sakit.
Aku
terjaga sepanjang malam itu, ketika kemudian kurasakan Mas Ikhsan mengingau di
atas karpet dan menghampirinya. Segera kuambil selimut yang biasa ia pakaikan
untukku untuk membungkus tubuhnya yang Cuma dibalut piyama tipis ketika ia mulai
menggigil. Air mataku mulai tumpah melihat kondisi Mas Ikhsan. Aku menyesal
selama ini hanya memikirkan perasaanku sendiri dan menghabiskan banyak waktu
untuk merenungi kenangan-kenanganku bersama Zulfikar, seseorang yang bukan
suamiku dan malah tidak menghiraukan Mas Ikhsan, seorang lelaki yang berjanji
di hadapan Allah untuk menjagaku dan menjadi pendamping hidupku. Segera kuambilkan
obat demam untuk Mas Ikhsan kemudian membuatkannya bubur agar ia bisa makan
kemudian minum obat. Mas Ikhsan heran melihat aku yang panik dan bersedih
melihat kondisinya. Aku mulai mengangkat jemariku untuk meraba ubun-ubunnya,
suatu hal yang pertama baru aku lakukan setelah pernikahan kami untuk merasakan
suhu tubuhnya. Namun ia segera menepisnya sambil bertanya,
“Kenapa
dik nadyah belum tidur?, nanti dik nadyah sakit kalau begadang” ia berujar
terpatah-patah.
Aku
makin tak kuasa menahan diri, kujelaskan semuanya pada Mas Ikhsan mengenai
kegelisahanku selama ini akan tingkah lakunya yang aneh padaku dan mengapa Ia
tidak pernah menunaikan kewajibannya terhadapku semenjak malam pernikahan kami.
Ia
kemudian mulai mengelus pipiku yang sejak tadi menjadi tebing air mata sambil
tersenyum, ini baru pertama kalinya ia menyentuhku. Ia pun kemudian berujar
pelan,
“Aku
tak ingin menyakitimu dik. Kau adalah bidadari terindah yang diberi Allah
padaku hingga tak sekalipun aku berniat menyakitimu untuk menjadi isteriku yang
kuberi nafkah batin”.
Aku
makin tak sanggup menahan tangisku, bukankah seorang suami wajib memberi nafkah
lahir dan batin pada istrinya. Aku menjelaskan dengan pengetahuanku yang
terbatas bahwa itu sama sekali tak menyakitiku karena aku telah resmi menjadi
pengantinnya 3 bulan yang lalu.
Mas
Ikhsan pun menjawab kegelisahanku,
“Adik
tahu bagaimana ketika ada seorang wanita yang diperkosa ? adik tahu
perasaannya? mungkin mas bukanlah seorang perempuan, tapi mas bisa merasakan
bahwa perempuan yang diperlakukan tidak wajar oleh laki-laki tidak bertanggung
jawab merasa sangat bersedih dan menderita. Ia akan merasa bahwa perlakuan
lelaki yang memerkosanya telah menyakitinya dan menodai kesuciannya.”
“Pada
saat ayah dan ibu mas datang ke rumah dik nadyah melamar adik untuk mas, mas
sudah merasakan suatu kejanggalan. Karena pada waktu itu mas hanya menunggu di
luar dan melihat adik turun dari boncengan seorang lelaki yang sangat adik
cintai dan adik harapkan untuk menjadi pendamping hidup adik. Mas merasa sangat
bersalah menghancurkan hubungan orang lain yang saling mencintai untuk kemudian
Mas ambil agar dapat dijadikan kebahagiaan hidup Mas. Jika saja Mas mengetahui
terlebih dahulu sebelum orang tua mas datang ke rumah adik, maka mas tidak akan
menyetujui orang tua mas melanjutkan rencananya. Namun karena Mas sangat
menyayangi orang tua Mas dan tidak ingin membuatnya malu di depan keluarga
adik, dan juga di hadapan Allah yang memerintahkan untuk menyegerakan menikah
agar mendapat kebaikan dan menjalani Sunnah Nabi, maka Mas Membiarkan orang tua
mas melanjutkan pelamaran itu dengan rundung sesal di hati Mas. Pada malam
resepsi kita, mas bisa merasakan bahwa adiklah satu-satunya orang yang tidak
berbahagia, hingga malam pertama yang semestinya menjadi kebahagiaan bagi semua
pengantin, mas urung berikan padamu agar tidak menyakitimu. Mas tidak ingin
menodaimu sebagai layaknya orang yang diperkosa, yang hanya menyukai sebelah
tangan tanpa memperdulikan perasaanmu. Adik adalah bidadari mas, maka Mas akan
menunggu hingga hari dimana adik membuka pintu hati adik kepada Mas agar dapat
mengetuk dindingnya dengan halus”. Karena Bidadari adalah seorang yang pantas
dimuliakan, hingga Mas ingin melakukannya hingga akhir hayat Mas.
Malam
itu, aku terisak habis mendengar semua pengakuan Mas Ikhsan, malam itu pula,
dengan keadaan yang lemah dan bahagia, ia menjadikanku isterinya, bukan lagi
boneka yang ia simpan untuk dipandang sebagai penghias rumah. Malam itu, adalah
malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami. Aku sangat bersyukur
bersuamikan Mas Ikhsan, kenangan-kenangan yang dulunya sangat sulit terhapus
bersama Zulfikar, kini sirna oleh ketulusan dan kesetiaan Mas Ikhsan. Hingga
Aku tak pernah menyangka, bahwa malam itu juga nikmat pernikahan suci yang kami
rasakan, segera berakhir dengan Allah yang lebih mencintai Mas Ikhsan. Paginya
Mas Ikhsan dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan setelah
kupasangkan kemejanya dan mengikatkan rim di pinggangnya. Dokter mengatakan
bahwa Mas Ikhsan terkena radang paru-paru, dan itu juga yang membuat Allah
memanggilnya. Sungguh, semua hal itu membuatku menyesal telah menyia-nyiakan
waktu untuk bersama Mas Ikhsan, dan air mataku tak pernah tumpah setiap kali
melihat nisan Mas Ikhsan di makamnya yang kini dibungkus tanah.
Dan
Mas Ikhsan tidak meninggalkanku dengan tangan hampa, ia menyelipkan berbagai
jubah panjang dan kerudung Sholat di dalam lemari dari hasil gajinya setiap
bulan. Aku tahu semua itu dilakukannya agar dapat menjadikanku muslimah yang
sempurna dengan balutan pakaian yang tertutup
Tahun
demi tahun setelah kepergian Mas Ikhsan, aku hidup bersama Nadirah, oleh-oleh
yang Mas Ikhsan berikan dan Allah titipkan padaku untuk dibesarkan dengan kasih
sayang. Suatu hari Nadirah bertanya seperti apa bapaknya dahulu. Aku hanya
menjawab jika saja aku harus mengulang hidupku kembali, maka aku tak akan
membiarkan bapaknya menunggu untuk dapat menyayangiku.



Posting Komentar