Ns. Kidah Adzkaaunnisa


Kak, yang namanya perpisahan sangatlah tidak nyaman. Dari dulu aku selalu peka dengan perpisahan, seperti sangat tidak sanggup mengantar kepergian seseorang. Langkah-langkah kaki, koper yang berat, amanah yang terukir di jidat, seakan siap kau benturkan kapan saja jika kelak impianmu tak terwujud di seberang sana. Alasanmu sangatlah jelas, namun aku tak pernah bisa mentolerir, meski saja senyum selalu tersunggih, ingin rasanya saat itu aku lulus audisi menjadi aktris yang berperan di drama, menjalani casting dan berperan sebagai gadis yang menghalang taksi, menuyusulmu ke bandara, menarik kopermu disana, kemudian menggapai lenganmu, dan mengatakan aku tak siap untuk kau tinggalkan. Tentu saja untuk kesekian kali, tahun ke-4, semenjak tuhan menyulam cerita untuk kita.
Diittt…diitttt
Ponsel yang sejak aku menghempaskan tubuh di kasur, merasakan letih setelah menghantar panasnya cuaca, terlebih jika harus menginjak kampus yang hijaunya masih tumbuh satu persatu. Siang itu memang terik sekali. Rasanya ingin sekali masuk kulkas, namun itu hal terakhir yang tergambar setelah banyaknya pilihan selain tepar diatas ranjang memencet kipas angin. Ponsel itu masih bergetar, dengan langkah masih terhuyung dibasuh penat, kuputuskan bangun sejenak untuk menghentikan kebisingannya.
1 new message :08574342xxxx
“Hati yang paling lurus adalah hati yang selalu menerima. Didalamnya terdapat banyak ruangan, setiap orang yang singgah berhak untuk pergi, berhak pula untuk tinggal di dalamnya. Jika saja ia kelak pergi karena jenuh, kuncilah ruang itu rapat-rapat, antar ia hingga ke tempat yang aman, dan ambillah milikya sebagai kenangan. Jika ia kembali datang, sambutlah ia dengan senyum, anggap ia sebagai orang baru, dimana kau akan memperlakukannya dengan baik kapan saja.
Hmm, nomor baru. Tidak tercatat di kontak
Dengan gesit kuhempaskan kembali badanku, dengan ponsel touchcreeen yang sedang kuulek untuk mengetik pesan baru, tentu saja itu buat reply pesan “anggun” misterius tadi.
Maaf, dengan siapa yah?”. Terkirim.
Diittt…….diiiittttttt….
Yang hatinya paling lurus, Jemarin.:)
Kak, cerita kita berawal dari hal yang tidak unik. Adalah hal bodoh mengingat waktu itu aku hampir melupakan penat akibat pingkal yang renyah sekali. Namamu Jemarin. Baru pertama kali aku mengetahui ada nama seperti itu. Sejak itu kita sering message. Tidak dijejaring sosial, smartphone milikku, dan milikmu? Tentu aja aku tidak tahu. Itu seperti puzzle yang enggan kau pisah dengan ribuan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang selalu ku ujar. Kau selalu saja tersenyum dengan icon smile langganan messagemu.
Hingga hari itu, kita akhirnya bertemu.
“Kak, kenapa kakak pulang?”
Aku tidak menatapmu waktu itu, karena kita sama-sama hanyut menikmati hembusan laut di pinggir pantai. Sebentar lagi, senja akan membungkus laut menjadi merah. Gerombolan anak kecil masih senang kejar-kejaran sejak tadi, ada juga para pengunjung pantai di sebelah kami yang asyik menikmati panorama losari ini. Tidak tanggung-tanggung, losari selalu jadi pilihan paling tepat untuk mempertemukan mereka yang berkutat rindu. Disini, ada rekam hidup yang diceritakan ulang, ada barisan pengamen yang bernyanyi lagu sendiri. Apa saja, yang penting receh mereka dapatkan untuk sekedar dibawa pulang, ataupun berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Kak, apa kita juga sedang berbagi kebahagiaan disini? Hingga itu rasanya bertambah banyak, kemudian kita bawa pulang, atau kita sedang berbagi kesedihan? hingga itu berkurang, dan ruang hati kita yang paling lurus seperti katamu akan menerangkan lagi lampion-lampion senyum.
Kak, losari masih berombak, berisik sekali. Mengapa kau hanya terdiam sejak tadi?
“Kakak pulang bersama rindu.” Kau berujar datar.
“Rindu?” tanyaku.
“Iya Far, rindu. Rindu yang selalu kakak bendung. Hingga ia akhirnya tumpah. Dan segera kakak rapikan bersama kepakan barang. Kakak taruh dalam ruang hati kakak untuk dikunci rapat. Rindu pada ibu dan keluarga kakak di kampung, pada saudara-saudara kakak”, jawabnya.
“Kakak sudah membuka rindu-rindu itu?” aku bertanya lagi.
“Sudah Far. Kakak sudah membagikannya kepada yang berhak mendapatkannya.”
“Berhak?”. Aku yakin, baru saja aku hampir paham sekali mengenai apa yang sedang kau bicarakan.
“Kakak malu Far, malu sekali. Membuat rindu banyak-banyak membuat kakak gelisah. Kakak takut, jika kelak rindu itu kakak akan bawa kembali. Kakak tidak telah memberikannya. Kakak takut menyesal” kali ini kau sudah menoleh padaku.
Kak, sore itu senja tidak ikut membungkus hati kita. Kita pulang ke rumah masing-masing dengan tergugu. Kita pulang tidak membawa kebahagiaan kak, tapi harapan. Kau, tentu saja kau sangat takut membuat rindu untukku. Aku selalu ingat kau pernah berkata tak akan masuk ke hati seseorang yang masih lurus kak. Kau akan setia menunggu diluar tanpa mengetuknya. Kau tahu akan tiba suatu saat nanti pintu itu akan terbuka sendiri, tentu saja dibuka oleh pemiliknya. Apa itu berarti aku tidak telah membukanya untukmu? Aku? Kenapa pula harus aku? Bisa saja itu hati yang lain. Aku bahkan tidak yakin, hatiku masih lurus atau tidak.
Smartphone milikku yang terselip di bawah bantal tiba-tiba berbunyi nyaring. Ah, sepertinya aku merasa tak pernah menyetel alarm. Hari ini hari minggu. Sebisa mungkin aku ingin beristirahat di hari sepenting ini. Aku tidak akan segan-segan untuk tidak menaruh agenda di barisan waktunya. Hari minggu adalah hari untukku, untuk diriku sendiri, tanpa harus di campuri oleh urusan lain.
Kukucek-kucek mata. Segera aku bangun dengan balutan piyama hijau kesukaanku untuk melangkah ke kamar mandi. Aku mencuci muka dan berkumur-kumur. Lalu turun ke dapur mengambil segelas air. Lantai rumah kini terketuk nyaring oleh sandal berbulu lembut yang melekat di kakiku. Belum ada siapa-siapa yang bangun. Seisi rumah masih gelap. Kamar Ibu juga belum terbuka. Aku naik kembali ke lantai 2 tempat kamarku berada. Rumah ini senyap sekali ketika masih pagi buta seperti ini. Aku yakin ini belum sampai pukul 06.00 pagi. Lalu siapa yang membangunkanku?
Kupercepat langkah seok-seok dengan sandal berbulu lembut itu. Membuka pintu kamar. Menutup kembali. Plaaakkk. Aku tidak sengaja dengan hentakan pintu karena terburu-buru, ku angkat bantal tidurku, mencari smartphone yang terselip di bawahnya.
Pukul 05.30. tulisan waktunya besar sekali, ini memang aku yang mengaturnya.
Tapi,
1 new message. Ini bukan aku yang mengaturnya.
Gerakan jemariku tanpa di perintah segera menggeser layar smartphone,
Kakak pulang dulu. Kembali ke Yogya. Maaf tidak pamit secara langsung
Aku menarik nafas, dalam sekali.
Jangan resah dulu, masih ada satu kejutan lagi”
Ku scrool message itu sampai kebawah. Penasaran.
Sticker smile kesukaanku. Masih ada pesan di bawahnya,
Satu kejutan lagi”. Ketika itu pula bel rumah berbunyi.
Aku tergopoh-gopoh. Membuka pintu kamar. Membantingnya sekali lagi. Plaaak. Turun tangga kencang sekali. Hingga membuka pintu depan.
“Selamat pagi!” senyumnya mengambang.
Aku masih mematung, tanpa mengucap sepatah katapun. Apalagi menjawab sapaan gadis manis di depanku ini. Usianya mungkin sekitar 16 tahun, memakai pakaian sekolah dengan warna rok seltumit dan jilbab senada. Ia sepertinya tidak begitu kecewa melihat aku yang terdiam.
“Dengan mbak Farisah ?” ia kembali bertanya manis.
“I…iyaaa, dengan mbak siapa?” aku refleks saja membuka pertanyaan. Mestinya yang kulakukan saat ini adalah mengajaknya masuk rumah. Bahkan tatakramaku pun akan jadi ledekan pagi ini. Syukur saja tak ada orang lain selain kami. Aku dan si gadis senyum mengambang.
“Nama saya Zahrah. Saya…”
 Zahrah. Siapa pula itu? Aku rasanya hampir tak mengenal seseorang bernama Zahrah.
“Saya keponakannya Paman Jemarin”. Ia melanjutkan. Tentu saja sudah menghancurkan tanda Tanya besar di kepalaku.
“Silahkan masuk!” dan aku memulai ujian tatakrama. 10 poin pertama untuk mengajaknya masuk. Ia tiba-tiba saja bersuara lagi ketika aku beranjak membalik badan mengisyaratkan mengikuti.
“Maaf mbak, saya gak bisa lama, harus kesekolah soalnya”. Senyumnya mengambang lagi, kali ini diikuti dengan gerakan tangannya yang merogoh isi ransel yang sudah dia peluk rapi. Mengeluarkan sebuah bungkusan hitam.
“Ini ada titipan dari Paman Jemarin, paman berpesan untuk segera membawanya ke mbak Farisah. Paman sudah berangkat tadi pagi dengan pesawat pertama. Menitip maaf juga gak bisa memberi langsung. Saya pamit dulu”. Si senyum mengambang membalikkan badan, melangkah pelan-pelan keluar pagar. Menjauh. Ia sepertinya betul-betul takut terlambat ke sekolah
Kak, kau takut membuat rindu banyak-banyak. Tapi kau membuatkanku maaf banyak sekali. Apa ini juga kau ikat rapi dalam kepakan pakaianmu? kau lupa mengeluarkannya hingga melihatnya kembali dan merasa itu yang paling berhak untukku?
Aku sungguh tidak tahu kak, kali ini aku tidak bisa menebak hingga membuka bungkusan hitam itu. Isinya sebuah dompet smartphone batik. Ada rumah dan pohon yang berdekatan menempel di permukaannya. Kemudian matahari berpinggiran sulaman kuning menyinari kedua benda datar yang terjahit itu. Dan calon penghuni dompet itu, tentu saja smartphone yang tadi kutinggal ketika zahrah datang, berbunyi nyaring lagi. Aku takut itu kau, kak. Aku takut dompet smartphone ini adalah betul simbolis maafmu yang tak bisa membuat rindu untukku. Aku takut, seperti tak kuat mengomando jemari ini untuk menggesernya melihat pesanmu.
1 new message
“Farisah, apa kau suka sama titipan kakak dari zahrah? Maaf, kakak memang tidak bisa membuat rindu, buat apa juga kakak buat ketika itu sudah ada dalam hati kita masing-masing?kita tak perlu melisankannya, bukan? Kakak rasa, yang perlu kakak kepak adalah maaf. Ketika membuat rindu kita hanya berjalan lurus tapi tidak saling menyapa?Itu bukan karena kita, kau dan aku tak mau membuatnya bertemu, bukan? Aku rasa kita sama-sama saling menunggu hari baik untuk mengutarakannya. Farisah belajar yang baik, yah! Jangan buat kecewa orang tua. Dan segera menjadi sarjana. Amin”
Kak, piyama hijau lembut yang kukenakan menjadi transparan sekali oleh bulir bahagia yang tidak sanggup kubendung seperti kau membendung rindu. Ia tidak menggenang kak, tidak. Ia melebar untuk menjadi kering dan tidak nampak untuk menjadi gelap, supaya lampion-lampion senyum di hati kita lebih terang hingga pertemuan berikutnya.
Ns. Kidah Adzkaaunnisa


Malam ini sambil dengar bidadari surganyanya ustad jefri, hujan deras mengiring tanganku menulis sebuah kisah yang pernah kusimak sendiri di sebuah radio dimana saya hampir selalu menitikkan air mata ketika mengingatnya, betapa dia yang mengalami ini sungguh sangat menyesal tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik bersama orang-orang yang menyayanginya. Semoga kisah ini dapat menjadi permata berharga bagi kita, terutama kita perempuan untuk mendapat pendamping yang baik. Amin.

Aku mulai mengenal Zulfikar saat kami duduk bersama di bangku SMA,. SMA adalah masa-masa paling mulia bagi insan seusia kami, dimana saat itu adalah puncak pubertas seorang seumuran remaja sepertiku. Waktu itu kami sekelas, dia selalu memperhatikanku dalam setiap gerak-gerik dan langkah, mengintip dari balik tembok yang tak ia raba kotorannya, ataupun seolah-olah jatuh dan memanggil seseorang agar dapat sekedar lewat dan melihatku. Karena tingkah lakunya yang sering menatapku diam-diam dimana dapat kuketahui dengan lirikan ekor mataku yang seakan-akan tak memperhatikannya. Akhirnya kesimpulanku memang benar, ia menyukaiku dan suatu hari menyatakan cintanya untuk menjadi kekasih setia. Kami pun mulai menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih yang tak terpisah oleh badai. Dia sangat menyayangiku, dan suatu hari berjanji untuk sukses serta datang melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya. Tentu saja aku bahagia, aku merasa seperti ada yang menerobos kesendirianku selama ini oleh kesetiaan dan senyumannya setiap hari.
Hingga suatu hari datanglah hari itu, dimana orang tuaku tiba-tiba ingin menjodohkanku dengan anak sahabat mereka dari masa muda. Ayah dan ibu sama sekali tak pernah mendiskusikan hal ini kepadaku. Ia begitu saja menrima lamaran orang tua pemuda itu. Aku menangis terisak-isak sambil berjuang bahwa aku sudah mempunyai calon yang lebih baik. Namun orang tuaku berkata ia tak pernah begitu merestuiku dengan zulfikar meski ia seringkali datang ke rumah ngobrol dengan ayah dan ibu. Ibu pun tahu aku sudah berpacaran dengan zulfikar sejak lama, namun ia juga bersikeras ia akan sangat malu jika saja membatalkan lamaran sahabatnya. Ia mengatakan pemuda yang merupakan calon suamiku itu adalah orang yang baik dan taat beragama. Ia juga tidak pernah berpacaran dengan wanita lain sebelum melamar diriku. Sungguh aku tak dapat menerima semua ini, aku bahkan mogok makan, tapi ibu datang ke kamarku membelai rambutku kemudian mengatakan untuk memenuhi keinginannya kali ini saja.  
Beberapa hari zulfikar terus menghubungiku, namun tak satupun panggilannya aku jawab dikarenakan hatiku yang masih kacau. Aku pun  seperti tak sanggup berbicara dengannya untuk menyakiti hatinya dengan mengatakan orang tuaku sudah menjodohkanku dengan pemuda lain. Mengingat betapa aku juga sangat mencintainya dan entah apa yang akan terjadi pada diriku jika saja kami tiba-tiba putus. Akupun keluar rumah untuk mencari udara segar dan menghibur diri setelah beberapa hari mengurung diri di kamar. Dari beberapa pembicaraan warga sekitar kompleks rumahku, terungkaplah bahwa calon suamiku itu adalah orang yang sangat berbudi. Namanya Ikhsan. Ia sangat patuh pada orang tuanya dan sekalipun tak pernah melirik gadis-gadis disekitarnya untuk dijadikan pacar. Ketika pemuda-pemuda seusianya lebih memilih untuk berkumpul di pos ronda pada malam minggu, ia tak pernah ikut bergabung bersama mereka. Ia lebih suka pergi ke masjid 5 kali sehari untuk menunaikan shalat berjamaah serta mengajar anak-anak TPA, ia juga seorang guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Ketika berpapasan dengan para tetua kompleks, ia akan menundukkan kepalanya serta bersalaman pada mereka dengan penuh rasa hormat seperi hormatnya pada orang tuanya. Banyak pemuda-pemuda di kompleks rumahku mengatakan ia adalah pemuda yang kurang pergaulan (kuper), namun penilaian-penilaian seperti itu tak sekalipun ia hiraukan untuk mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya.
Aku merinding setengah mati mendengarkan cerita-cerita itu. Tak pernah kubayangkan seumur hidupku aku kelak akan berjodoh dengan seseorang yang kurang pergaulan, meskipun ia memiliki ketaatan agama yang baik serta rajin beribadah. Bahkan tak pernah terlontar kata dari mulutku untuk sekedar menyapanya ataupun dia yang menyapa duluan, meski ia tahu kami akan segera menikah, ia tak pernah mengajakku untuk menikmati waktu berdua dan saling mengenal lebih jauh. Makin hari, aku makin dirundung sesal dan air mata. Akupun terpaksa harus menceritakan semuanya pada zulfikar, awalnya ia tak mau merelakanku, namun air mataku yang tak pernah berhenti tumpah ketika berbicara dengannya dan rasa hormatnya pada orang tuaku membuatnya merelakanku dengan ikhsan meski sangat terpaksa. Zulfikar mengatakan, jika saja kelak kami memang berjodoh, maka kami akan dapat bertemu kembali pada waktu yang tepat.
Pernikahanku pun berlangsung. Mataku yang bengkak kini tertutupi oleh tebalnya make-up yang merapat di wajahku. Semua orang yang hadir di resepsi kami sangat berbahagia, kecuali aku. Pesta itupun berakhir. Dan malam inilah yang sangat dinantikan oleh semua pengantin baru, Malam pertama bersama orang yang dicintainya. Tapi itu sepertinya tak berlaku bagiku. Karena kamar pengantin yang ku tempati saat ini terasa seperti kuburan yang lekas akan menelanku hidup-hidup. Mas Ikhsan pun masuk ke dalam kamar, kemudian mengganti pakaiannya di kamar mandi. Aku yang masih duduk di tepi ranjang sendiri heran mengapa Mas Ikhsan tak pernah menyapaku setelah pesta dan memilih berganti di ruang tertutup padahal kami telah resmi menjadi sepasang suami isteri. Tapi sapaan itu kemudian terlontar dari mulutnya ketika keluar dari kamar mandi untuk menyuruhku tidur dan istirahat. Ia pun keluar kamar bercengkerama bersama keluargaku.
Aku yang juga kelelahan, akhirnya juga tertidur pulas di ranjang pengantin kami setelah membersihkan diri. Pada saat seperdua malam, aku terbangun dan tak melihat seorangpun tidur disampingku. Aku melihat Mas Ikhsan tidur di atas karpet tipis di samping tempat tidur. Mengapa Mas Ikhsan tidak tidur denganku di ranjang pengantin kami? Meskipun aku tak menyukai pernikahan ini, bagaimanapun aku sudah menjadi istrinya yang wajib ia beri nafkah batin di malam pertama kami, dan ia telah menjadi suamiku yang semestinya menjalani kewajibannya. Namun kutepiskan semua prasangka buruk dengan mengira bahwa Mas Ikhsan mungkin juga sangat kelelahan sehingga tak sempat membangunkanku agar dapat tidur disampingku.
Akupun melanjutkan tidur dan terbangun ketika ayam mulai bersahut. Aku menatap sekeliling kamar dan tidak melihat Mas Ikhsan didalamnya. Akupun mencuci muka dan merapikan diri kemudian membenahi kamar. Mas Ikhsan kemudian mengetuk pintu dan kupersilahkan ia masuk. Ia menorehkan senyum lebar terhadapku sambil bertanya,
“Dik nadyah sudah sholat subuh?”, akupun menjawab aku baru saja akan mengambil air wudhu. Ia mengangguk kemudian beranjak keluar kamar. Aku menunaikan sholat subuh ketika pagi hampir merambat membungkus kota dan mengurus kelengkapan Mas Ikhsan untuk berangkat mengajar ke sekolah. Aku membuatkannya sarapan kemudian mencium tangannya ketika berangkat. Meski aku masih kesal dengan pernikahan ini, aku tak melupakan kewajibanku sebagai isteri yang harus mengurus dan berbakti pada Mas Ikhsan. Tak sekalipun rundung sesal karena telah menikah dengannya kutunjukkan. Aku hanya diam-diam menangis di kamar ketika ia berangkat kerja, kemudian mengelap air mataku ketika ia datang. Kualasi wajahku dengan bedak agar tak tampak telah menangis sepanjang hari. Aku masih saja selalu teringat kenangan-kenanganku bersama zulfikar, dan mengingat betapa kebahagiaan akan membungkus kami jika saja pernikahan ini tidak terjadi.
Malam-malam berikutnya sikap Mas Ikhsan masih saja sama, ia tak pernah tidur disampingku melainkan diatas karpet tipis di atas lantai. Aku hanya ingat ketika terbangun di tengah malam, selimut sudah membungkus tubuhku, dan Mas Ikhsan tidur di atas lantai. Mungkin saja Mas Ikhsan yang menyelimutiku lalu ia tidur di tempat lain yang hanya ada sebuah bantal sebagai penyangga kepalanya. Lambat laun, aku makin tidak percaya dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Mas Ikhsan adalah seorang yang taat beragama. Jika saja itu memang benar, ia tidak mungkin lupa memberikan nafkah batin untukku setelah 3 bulan pernikahan kami. Akupun mulai melupakan kenanganku bersama Zulfikar.
Mas ikhsan selalu mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan rumah tangga, ia juga memberiku sebagian gajinya setiap bulan untuk keperluan pribadiku. Mas Ikhsan telah memberiku nafkah lahir, tapi ia tidak pernah menjadikanku isterinya. Apa aku ini hanya boneka untuknya? Yang setiap hari bisa ia pandang namun tak ia sentuh, atau Mas Ikhsan impoten? Aku semakin berpikir yang tidak-tidak dari hari ke hari. hingga suatu hari Mas Ikhsan pulang hampir larut, dan aku sengaja tak tidur duluan untuk menantinya pulang. Baru saja aku akan bertanya mengenai sikapnya yang aneh padaku selama pernikahan kami, ia kemudian mengeluh letih dan ingin beristirahat. Kuajak ia beristirahat di tempat tidur, namun Mas Ikhsan menolak kemudian menyuruhku untuk tidur dan tidak begadang lagi menunggunya agar aku tidak sakit.
Aku terjaga sepanjang malam itu, ketika kemudian kurasakan Mas Ikhsan mengingau di atas karpet dan menghampirinya. Segera kuambil selimut yang biasa ia pakaikan untukku untuk membungkus tubuhnya yang Cuma dibalut piyama tipis ketika ia mulai menggigil. Air mataku mulai tumpah melihat kondisi Mas Ikhsan. Aku menyesal selama ini hanya memikirkan perasaanku sendiri dan menghabiskan banyak waktu untuk merenungi kenangan-kenanganku bersama Zulfikar, seseorang yang bukan suamiku dan malah tidak menghiraukan Mas Ikhsan, seorang lelaki yang berjanji di hadapan Allah untuk menjagaku dan menjadi pendamping hidupku. Segera kuambilkan obat demam untuk Mas Ikhsan kemudian membuatkannya bubur agar ia bisa makan kemudian minum obat. Mas Ikhsan heran melihat aku yang panik dan bersedih melihat kondisinya. Aku mulai mengangkat jemariku untuk meraba ubun-ubunnya, suatu hal yang pertama baru aku lakukan setelah pernikahan kami untuk merasakan suhu tubuhnya. Namun ia segera menepisnya sambil bertanya,
“Kenapa dik nadyah belum tidur?, nanti dik nadyah sakit kalau begadang” ia berujar terpatah-patah.
Aku makin tak kuasa menahan diri, kujelaskan semuanya pada Mas Ikhsan mengenai kegelisahanku selama ini akan tingkah lakunya yang aneh padaku dan mengapa Ia tidak pernah menunaikan kewajibannya terhadapku semenjak malam pernikahan kami.
Ia kemudian mulai mengelus pipiku yang sejak tadi menjadi tebing air mata sambil tersenyum, ini baru pertama kalinya ia menyentuhku. Ia pun kemudian berujar pelan,
“Aku tak ingin menyakitimu dik. Kau adalah bidadari terindah yang diberi Allah padaku hingga tak sekalipun aku berniat menyakitimu untuk menjadi isteriku yang kuberi nafkah batin”.
Aku makin tak sanggup menahan tangisku, bukankah seorang suami wajib memberi nafkah lahir dan batin pada istrinya. Aku menjelaskan dengan pengetahuanku yang terbatas bahwa itu sama sekali tak menyakitiku karena aku telah resmi menjadi pengantinnya 3 bulan yang lalu.
Mas Ikhsan pun menjawab kegelisahanku,
“Adik tahu bagaimana ketika ada seorang wanita yang diperkosa ? adik tahu perasaannya? mungkin mas bukanlah seorang perempuan, tapi mas bisa merasakan bahwa perempuan yang diperlakukan tidak wajar oleh laki-laki tidak bertanggung jawab merasa sangat bersedih dan menderita. Ia akan merasa bahwa perlakuan lelaki yang memerkosanya telah menyakitinya dan menodai kesuciannya.”
“Pada saat ayah dan ibu mas datang ke rumah dik nadyah melamar adik untuk mas, mas sudah merasakan suatu kejanggalan. Karena pada waktu itu mas hanya menunggu di luar dan melihat adik turun dari boncengan seorang lelaki yang sangat adik cintai dan adik harapkan untuk menjadi pendamping hidup adik. Mas merasa sangat bersalah menghancurkan hubungan orang lain yang saling mencintai untuk kemudian Mas ambil agar dapat dijadikan kebahagiaan hidup Mas. Jika saja Mas mengetahui terlebih dahulu sebelum orang tua mas datang ke rumah adik, maka mas tidak akan menyetujui orang tua mas melanjutkan rencananya. Namun karena Mas sangat menyayangi orang tua Mas dan tidak ingin membuatnya malu di depan keluarga adik, dan juga di hadapan Allah yang memerintahkan untuk menyegerakan menikah agar mendapat kebaikan dan menjalani Sunnah Nabi, maka Mas Membiarkan orang tua mas melanjutkan pelamaran itu dengan rundung sesal di hati Mas. Pada malam resepsi kita, mas bisa merasakan bahwa adiklah satu-satunya orang yang tidak berbahagia, hingga malam pertama yang semestinya menjadi kebahagiaan bagi semua pengantin, mas urung berikan padamu agar tidak menyakitimu. Mas tidak ingin menodaimu sebagai layaknya orang yang diperkosa, yang hanya menyukai sebelah tangan tanpa memperdulikan perasaanmu. Adik adalah bidadari mas, maka Mas akan menunggu hingga hari dimana adik membuka pintu hati adik kepada Mas agar dapat mengetuk dindingnya dengan halus”. Karena Bidadari adalah seorang yang pantas dimuliakan, hingga Mas ingin melakukannya hingga akhir hayat Mas.
Malam itu, aku terisak habis mendengar semua pengakuan Mas Ikhsan, malam itu pula, dengan keadaan yang lemah dan bahagia, ia menjadikanku isterinya, bukan lagi boneka yang ia simpan untuk dipandang sebagai penghias rumah. Malam itu, adalah malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami. Aku sangat bersyukur bersuamikan Mas Ikhsan, kenangan-kenangan yang dulunya sangat sulit terhapus bersama Zulfikar, kini sirna oleh ketulusan dan kesetiaan Mas Ikhsan. Hingga Aku tak pernah menyangka, bahwa malam itu juga nikmat pernikahan suci yang kami rasakan, segera berakhir dengan Allah yang lebih mencintai Mas Ikhsan. Paginya Mas Ikhsan dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan setelah kupasangkan kemejanya dan mengikatkan rim di pinggangnya. Dokter mengatakan bahwa Mas Ikhsan terkena radang paru-paru, dan itu juga yang membuat Allah memanggilnya. Sungguh, semua hal itu membuatku menyesal telah menyia-nyiakan waktu untuk bersama Mas Ikhsan, dan air mataku tak pernah tumpah setiap kali melihat nisan Mas Ikhsan di makamnya yang kini dibungkus tanah.
Dan Mas Ikhsan tidak meninggalkanku dengan tangan hampa, ia menyelipkan berbagai jubah panjang dan kerudung Sholat di dalam lemari dari hasil gajinya setiap bulan. Aku tahu semua itu dilakukannya agar dapat menjadikanku muslimah yang sempurna dengan balutan pakaian yang tertutup
Tahun demi tahun setelah kepergian Mas Ikhsan, aku hidup bersama Nadirah, oleh-oleh yang Mas Ikhsan berikan dan Allah titipkan padaku untuk dibesarkan dengan kasih sayang. Suatu hari Nadirah bertanya seperti apa bapaknya dahulu. Aku hanya menjawab jika saja aku harus mengulang hidupku kembali, maka aku tak akan membiarkan bapaknya menunggu untuk dapat menyayangiku.
Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hmm,
kawan...saya ingin sedikit bercerita tentang kejadian yang menimpa saya baru-baru ini...

Yah, tak usahlah saya memperkenalkan diri, liat saja akun facebookku ini, maaf twitter gak punya (kalo FB saja dah banyak fansnya gini, gimana dengan twitter...qiqiqiqiqi)

 Seorang mahasiswi tamatan pondok 6 tahun yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri makassar mengambil disiplin ilmu KEPERAWATAN, angkatan 2009 dan sekarang tengah berada di tingkat 3....

oke, langsung saja...
sejak kelas 3 SMA di pondok, saya divonis memakai kacamata minus 1 dioptri....dan sewaktu itu kacamata yang saya pakai merupakan pemberian cuma-cuma dari pertamina sebagai wujud bantuan kepada sekolah-sekolah....

Saat menduduki semster 3, kacamata pemberian itu dan juga merupakan kenang2an dari pondok hilang tanpa bekas di suatu hari perkuliahan, dan itu membuat saya tidak bisa BEREKSPRESI...hehehe, maaf, saya gak bisa bilang itu adalah kesalahan saya...karena setiap setelah memakai kacamata, saya pasti akan menaruhnya di tempatnya (sudah terbilang kebiasaan jadi yakin), maklum....sya adalah seorang pasien gangguan mata yang suka melanggar nasihat dokter (disuruh pake kacamata terus tanpa lepas), saya ogah pemirsaaa...bukannya apa, sudah berapa kali saya mencoba menaati, namun kejadian mual di angkot n pusing beberapa hari sudah cukup membuat sya jera hanya karena mencoba memakai kacamata terus menerus....Intinya, kacamata itu hilang dan usahaku untuk mencarinya kemana-mana tak membuahkan hasil yang diharapkan...hfffttt.

Setelah itu, saya jadi sangat sulit dalam perkuliahan, apalagi jika tiba saatnya ujian yang memakai LCD....Sungguh membuat saya memicingkan mata bukan kepalang sehingga harus mengeluh ke papa buat diukurkan penggantinya, setelah harus dimarahi n dibilang cerobohlah, cueklah, gak pedulilah, sembrono, dsb...

waktu itu saya gak peduli apa katanya, yang jelas papa mau belikan kacamata meski harus dimarahi terlebih dahulu....whatever...yang jelas kata IYA sudah ada, hehehehe

alhamdulillah, setelah diukur kembali, kekuatan kacamataku bei srtambah menjadi minus 1,75 dioptri (resiko suka dilepas kata pegawai optik, hehehe)

dak apa2, pikirku,
yang penting gak sampai 2, atau 3.....hehehe

3 semester kulalui bersama kacamata bersama CAHAYA (kuberi nama supaya gak hilang lagi), indahnya dunia yang kulihat..jelas dari sudut dan titik serta jejas langkah mereka terhadap diriku.....dibasuh hujan, dikeringkan panas, dan diterbangkan angin.....aku tetap bersamanya dalam keadaan tersulit sekalipun, ia selalu berada dalam tasku yang lusuh, tak pernah keluar dari tempatnya kecuali dibutuhkan, dan kubersihkan setiap kali akan kupakai...

Namun, sepertinya pelayananku atas jasa CAHAYA kurang memuaskan baginya, sehingga ia sering main petak umpet beberapa kali, namun tetap dapat kutemukan...hingga kemarin sabtu ia bermain petak umpet besar-besaran....

CAHAYA tidak ada di tempatnya, saat aku mengikuti seminar herbal di unhas, ia menghilang.....
pastilah aku panik, siapaa juga yang tidak,,,,karena banyak peluang dia bisa bersembunyi...

bisa saja dia terpelanting di kelas, terkapar di jalan ke unhas, ataupun berada di genggaman orang yang mau menerorku.....Hfftt, malam itu aku sulit tidur, memejamkan mata rasanya susah, apalagi sampai berlaju ke pulau kapuk...karena kepikiran sama CAHAYA yang entah ada dimana....

Senin pagi, saya bergegas ke kampus kembali........kuperiksa setiap sudut kelas (setelah kemarinnya di rumah berkali-kali membongkar habis tas untuk menacri), kutanyai satu persatu mahasiwa yang lewat...dan cleaning service juga, tukang foto copy dan penjual roti,,,,semuanya menjawab TIDAK MELIHAT....

kutanyai satu-satu teman kelas, mulai dari yang hobi pulang duluan hingga belakangan, namun semuanya menjawab TIDAK MELIHAT...

kuatanyai seluruh orang rumah (kecuali ibu papa karena takut dimarahi lagi), dan terutama si bungsu...semua menjawab TIDAK MELIHAT...

Rasanya aku ingin jatuh, mungkin menangis tapi entah air mata juga taak mau keluar, sudah lelah mungkin....
dan akhirnya aku PASRAH....berusaha IKHLAS, dan mencari dana penggantinya SENDIRI....

pas selasa kemarin, saat hendak berencana sore harinya mau ke optik untuk ngukur ulang...saat perkuliahan di pagi hari, saya pergi seperti mayat hidup ke kampus...tak ada semangat sama sekali, dengan pikiran waktu ujian makin dekat dan CAHAYA yang entah dimana, pikiranku malah sudah hancur diinjak orang yang berlalu lalang.....

tapi entah kenapa ketika membuka tas dan melihat tempat CAHAYA, ada rasa ingin membukanya memastikan sekali lagi bahwa ia betul tak ada disana....kalian mau tahu apa yang saya liat setelah membuka tempatnya.....

CAHAYA ada disitu pemirsaa..ada dsitu, ditempatnya melekat rapi, ditempatnya dengan gaya seperti biasa saat saya menaruhnya....ditempat dimana ia terjaga dari tindisan, selipan, serta lekukan....

bukan main gembiranya saya saat itu, sampai berkali2 berucap hamdalah dan mencium cahaya, mencubit pipi....saking tidak yakinnnya, sya memakainya...memastikan itu bukan cuma siluetnya, atau halusinasi saya pribadi....

Namun, sebuah tanda tanya besar terpaku di kepala....

SIAPA yang menaruh CAHAYA kembali di TEMPATnya....

setelah sekian orang yang kutanya berani bersumpah atas nama tuhan yang maha mengetahui, bahwa ia sama sekali tak melihatnya.....

CAHAYA, bukannya ku tak bersyukur dengan kembalinya dirimu....tapi, dari genggaman siapa engkau, dan apa yang kau lakukan disana, padahal kau hanya PANTAS untukku, tidak PANTAS untuk orang lain....

Suatu hari, aku berharap CAHAYA bisa berbicara dan mengungkap semuanya walau di AKHIRAT kelak....

Ns. Kidah Adzkaaunnisa
Dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya...


BAGIKU, PERKENALAN BUKANLAH SEBUAH AWAL DARI PENGETAHUAN AKAN IDENTITAS MASING-MASING,
AKAN TETAPI DIMANA KITA MEMULAI SEBUAH TITIK UNTUK MELUKIS SEJARAH TENTANG "KITA" YANG KATAMU SPESIAL...

bagiku, seorang yang bahkan masih lugu untuk menyebut kata lelaki waktu itu,
kau bahkan tak membuatku malu-malu meski hanya sekedar menyampaikan dan membuatmu mendengar kisah-kisah lama...

dear, lelaki yang pernah mengangapku bagian dari hidupnya,
aku yakin sampai sekarang kaupun masih menganggapku bagian dari hidupmu,
namun hanya bagian dari masa lalu surammu yang penuh dengan tausiyah dan protektif yang tak berarti dariku,

sebenarnya aku ragu meyimpanmu dalam pintu hati terdalamku...
bahkan aku tak segan-segan membukanya bebas tanpa melarangmu untuk mengenal siapapun yang ingin kau kenal,
dengan jarak yang begitu jauh...
dan pertemuan 2 jam itu...

dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya,
kau tahu aku begitu sakit ketika aku sadar aku mencintaimu,
aku begitu ragu menjawab pesanmu ketika aku sadar aku tak menganggapmu lagi saudaraku...
aku merasa tertekan melihat postinganmu karena tak satupun jemariku ingin berhenti mengetik komntar untuknya,
aku ragu suatu saat perasaan itu hanya akan jadi sebatas impianku dalam seribu malam mimpi yang kulalui sendiri di kamar tidurku,

Dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya,
aku benci menjadi orang yang seperti ini,
menjadi seseorang yang begitu malu terhadap apa yang dirasakannya sendiri,
aku benci ketika mengetahui kita harus berpisah,
serta menganggap semuanya tak terjadi apa-apa...

dear,
aku takut suatu saat jika aku tak mampu lagi berbicara..
bahkan hanya sekedar menyampaikan pesan untuk menyapa,
kau akan pergi untuk mencari seorang yang lebih baik dariku,
aku bahkan takut meski itu hanya sebuah pesan selamat tinggal...

dear,
aku takut jika suatu saat kelak aku sudah tak bisa memberimu apa-apa,
kau akan menganggapku tak berarti lagi dalam hidup dan mimpimu,
jika suatu saat kelak aku marah dan emosi terhadapmu yang mengabaikanku meski hanya utnuk sebuah alasan yang jelas harus dimengerti,
aku bahkan tak bisa mengerti itu dan lebih memilih untuk menyalurkan rinduku padamu
dan kau akan menganggapku sebagai orang yang tak percaya denganmu,
serta menganggapku sebagai orang yang sering memmbanding-bandingkanmu dengan yang lain,

dear, lelaki yang sempat menyayangiku.....
tahukah kau saat kau bilang aku adalah yang terspesial di hidupmu..
saat itu wajahku merona merah dan mempercayai semua kata-katamu....
tapi mengapa aku tak melihat bukti itu hingga saat ini,
aku tak berani menganggap smua itu bohong karena aku takut kelak kau dianggap sebagai orang yang tak jujur...

dear, lelaki yang pernah menganggapku sebagai bagian hidupnya,,,
kau tahu setiap kata yang kukeluarkan begitu selektif agar kelak kau tak merasa kecewa terhadpnya,
agar kelak aku terbiasa untuk menghargai dan menghormatimu,
namun kenapa kata-kata kasar dariku begitu drastis keluar dari bibir tipisku untukmu saat aku tahu kau telah berubah,
meski itu hanya beberapa kata unuk mengingatkan.,
kau tahu saat mengeluarkan kata-kata itu hatiku sungguh resah dan gelisah,
dan perasaan menyesal menghantuiku sepanjang malam...
ingin rasanya aku menarik kata-kata itu,
dan meminta maaf padamu takkan mengulanginya lagi,

namun entah kenapa setelah itu aku sering sekali lagi berkata kasar padamu,
hingga berulang-ulang kali....

tapi kata-kata tak percaya itu,
aku bahkan tak menyangka itu sanggup keluar dari mulutmu

Dear, lelaki yang pernah menyayangiku....
maafkan aku jika untukmu aku salah...
aku memang kasar,
dan aku memang tak akan pernah mengerti...
maka dalam ketidakmengrtianku,
tolong jangan tinggalkan aku,
dan buat aku paham berada di dekatmu....
Ns. Kidah Adzkaaunnisa
hei kau....iya kau,,siapa lagi..bukan yang dismpingmu, aku memanggilmu bodoh
hei kau, kau yang bernama pesimis...tidak bisakah kau????
ENYAH saja dari muka bumi, terutama dari hadapanku sekarang????
iya, sekarang ....tunggu apalagi, kau selalu datang tapi tak diundang???tahukah kau???mendidih adrenalinku mrndengar namamu, dan seenaknya kau masuk dalam hidupku meronta-ronta....
kumohon pergilah, jangan kau sesakkan dadaku disini, jangan kau tambah volume cairan keringat jerih payahku dengan air mata,,,
aku sungguh TAK SUDI, meski hanya sekedar mengenalmu....