Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hmm,
kawan...saya ingin sedikit bercerita tentang kejadian yang menimpa saya baru-baru ini...

Yah, tak usahlah saya memperkenalkan diri, liat saja akun facebookku ini, maaf twitter gak punya (kalo FB saja dah banyak fansnya gini, gimana dengan twitter...qiqiqiqiqi)

 Seorang mahasiswi tamatan pondok 6 tahun yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri makassar mengambil disiplin ilmu KEPERAWATAN, angkatan 2009 dan sekarang tengah berada di tingkat 3....

oke, langsung saja...
sejak kelas 3 SMA di pondok, saya divonis memakai kacamata minus 1 dioptri....dan sewaktu itu kacamata yang saya pakai merupakan pemberian cuma-cuma dari pertamina sebagai wujud bantuan kepada sekolah-sekolah....

Saat menduduki semster 3, kacamata pemberian itu dan juga merupakan kenang2an dari pondok hilang tanpa bekas di suatu hari perkuliahan, dan itu membuat saya tidak bisa BEREKSPRESI...hehehe, maaf, saya gak bisa bilang itu adalah kesalahan saya...karena setiap setelah memakai kacamata, saya pasti akan menaruhnya di tempatnya (sudah terbilang kebiasaan jadi yakin), maklum....sya adalah seorang pasien gangguan mata yang suka melanggar nasihat dokter (disuruh pake kacamata terus tanpa lepas), saya ogah pemirsaaa...bukannya apa, sudah berapa kali saya mencoba menaati, namun kejadian mual di angkot n pusing beberapa hari sudah cukup membuat sya jera hanya karena mencoba memakai kacamata terus menerus....Intinya, kacamata itu hilang dan usahaku untuk mencarinya kemana-mana tak membuahkan hasil yang diharapkan...hfffttt.

Setelah itu, saya jadi sangat sulit dalam perkuliahan, apalagi jika tiba saatnya ujian yang memakai LCD....Sungguh membuat saya memicingkan mata bukan kepalang sehingga harus mengeluh ke papa buat diukurkan penggantinya, setelah harus dimarahi n dibilang cerobohlah, cueklah, gak pedulilah, sembrono, dsb...

waktu itu saya gak peduli apa katanya, yang jelas papa mau belikan kacamata meski harus dimarahi terlebih dahulu....whatever...yang jelas kata IYA sudah ada, hehehehe

alhamdulillah, setelah diukur kembali, kekuatan kacamataku bei srtambah menjadi minus 1,75 dioptri (resiko suka dilepas kata pegawai optik, hehehe)

dak apa2, pikirku,
yang penting gak sampai 2, atau 3.....hehehe

3 semester kulalui bersama kacamata bersama CAHAYA (kuberi nama supaya gak hilang lagi), indahnya dunia yang kulihat..jelas dari sudut dan titik serta jejas langkah mereka terhadap diriku.....dibasuh hujan, dikeringkan panas, dan diterbangkan angin.....aku tetap bersamanya dalam keadaan tersulit sekalipun, ia selalu berada dalam tasku yang lusuh, tak pernah keluar dari tempatnya kecuali dibutuhkan, dan kubersihkan setiap kali akan kupakai...

Namun, sepertinya pelayananku atas jasa CAHAYA kurang memuaskan baginya, sehingga ia sering main petak umpet beberapa kali, namun tetap dapat kutemukan...hingga kemarin sabtu ia bermain petak umpet besar-besaran....

CAHAYA tidak ada di tempatnya, saat aku mengikuti seminar herbal di unhas, ia menghilang.....
pastilah aku panik, siapaa juga yang tidak,,,,karena banyak peluang dia bisa bersembunyi...

bisa saja dia terpelanting di kelas, terkapar di jalan ke unhas, ataupun berada di genggaman orang yang mau menerorku.....Hfftt, malam itu aku sulit tidur, memejamkan mata rasanya susah, apalagi sampai berlaju ke pulau kapuk...karena kepikiran sama CAHAYA yang entah ada dimana....

Senin pagi, saya bergegas ke kampus kembali........kuperiksa setiap sudut kelas (setelah kemarinnya di rumah berkali-kali membongkar habis tas untuk menacri), kutanyai satu persatu mahasiwa yang lewat...dan cleaning service juga, tukang foto copy dan penjual roti,,,,semuanya menjawab TIDAK MELIHAT....

kutanyai satu-satu teman kelas, mulai dari yang hobi pulang duluan hingga belakangan, namun semuanya menjawab TIDAK MELIHAT...

kuatanyai seluruh orang rumah (kecuali ibu papa karena takut dimarahi lagi), dan terutama si bungsu...semua menjawab TIDAK MELIHAT...

Rasanya aku ingin jatuh, mungkin menangis tapi entah air mata juga taak mau keluar, sudah lelah mungkin....
dan akhirnya aku PASRAH....berusaha IKHLAS, dan mencari dana penggantinya SENDIRI....

pas selasa kemarin, saat hendak berencana sore harinya mau ke optik untuk ngukur ulang...saat perkuliahan di pagi hari, saya pergi seperti mayat hidup ke kampus...tak ada semangat sama sekali, dengan pikiran waktu ujian makin dekat dan CAHAYA yang entah dimana, pikiranku malah sudah hancur diinjak orang yang berlalu lalang.....

tapi entah kenapa ketika membuka tas dan melihat tempat CAHAYA, ada rasa ingin membukanya memastikan sekali lagi bahwa ia betul tak ada disana....kalian mau tahu apa yang saya liat setelah membuka tempatnya.....

CAHAYA ada disitu pemirsaa..ada dsitu, ditempatnya melekat rapi, ditempatnya dengan gaya seperti biasa saat saya menaruhnya....ditempat dimana ia terjaga dari tindisan, selipan, serta lekukan....

bukan main gembiranya saya saat itu, sampai berkali2 berucap hamdalah dan mencium cahaya, mencubit pipi....saking tidak yakinnnya, sya memakainya...memastikan itu bukan cuma siluetnya, atau halusinasi saya pribadi....

Namun, sebuah tanda tanya besar terpaku di kepala....

SIAPA yang menaruh CAHAYA kembali di TEMPATnya....

setelah sekian orang yang kutanya berani bersumpah atas nama tuhan yang maha mengetahui, bahwa ia sama sekali tak melihatnya.....

CAHAYA, bukannya ku tak bersyukur dengan kembalinya dirimu....tapi, dari genggaman siapa engkau, dan apa yang kau lakukan disana, padahal kau hanya PANTAS untukku, tidak PANTAS untuk orang lain....

Suatu hari, aku berharap CAHAYA bisa berbicara dan mengungkap semuanya walau di AKHIRAT kelak....

Ns. Kidah Adzkaaunnisa
Dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya...


BAGIKU, PERKENALAN BUKANLAH SEBUAH AWAL DARI PENGETAHUAN AKAN IDENTITAS MASING-MASING,
AKAN TETAPI DIMANA KITA MEMULAI SEBUAH TITIK UNTUK MELUKIS SEJARAH TENTANG "KITA" YANG KATAMU SPESIAL...

bagiku, seorang yang bahkan masih lugu untuk menyebut kata lelaki waktu itu,
kau bahkan tak membuatku malu-malu meski hanya sekedar menyampaikan dan membuatmu mendengar kisah-kisah lama...

dear, lelaki yang pernah mengangapku bagian dari hidupnya,
aku yakin sampai sekarang kaupun masih menganggapku bagian dari hidupmu,
namun hanya bagian dari masa lalu surammu yang penuh dengan tausiyah dan protektif yang tak berarti dariku,

sebenarnya aku ragu meyimpanmu dalam pintu hati terdalamku...
bahkan aku tak segan-segan membukanya bebas tanpa melarangmu untuk mengenal siapapun yang ingin kau kenal,
dengan jarak yang begitu jauh...
dan pertemuan 2 jam itu...

dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya,
kau tahu aku begitu sakit ketika aku sadar aku mencintaimu,
aku begitu ragu menjawab pesanmu ketika aku sadar aku tak menganggapmu lagi saudaraku...
aku merasa tertekan melihat postinganmu karena tak satupun jemariku ingin berhenti mengetik komntar untuknya,
aku ragu suatu saat perasaan itu hanya akan jadi sebatas impianku dalam seribu malam mimpi yang kulalui sendiri di kamar tidurku,

Dear, lelaki yang pernah menganggapku bagian dari hidupnya,
aku benci menjadi orang yang seperti ini,
menjadi seseorang yang begitu malu terhadap apa yang dirasakannya sendiri,
aku benci ketika mengetahui kita harus berpisah,
serta menganggap semuanya tak terjadi apa-apa...

dear,
aku takut suatu saat jika aku tak mampu lagi berbicara..
bahkan hanya sekedar menyampaikan pesan untuk menyapa,
kau akan pergi untuk mencari seorang yang lebih baik dariku,
aku bahkan takut meski itu hanya sebuah pesan selamat tinggal...

dear,
aku takut jika suatu saat kelak aku sudah tak bisa memberimu apa-apa,
kau akan menganggapku tak berarti lagi dalam hidup dan mimpimu,
jika suatu saat kelak aku marah dan emosi terhadapmu yang mengabaikanku meski hanya utnuk sebuah alasan yang jelas harus dimengerti,
aku bahkan tak bisa mengerti itu dan lebih memilih untuk menyalurkan rinduku padamu
dan kau akan menganggapku sebagai orang yang tak percaya denganmu,
serta menganggapku sebagai orang yang sering memmbanding-bandingkanmu dengan yang lain,

dear, lelaki yang sempat menyayangiku.....
tahukah kau saat kau bilang aku adalah yang terspesial di hidupmu..
saat itu wajahku merona merah dan mempercayai semua kata-katamu....
tapi mengapa aku tak melihat bukti itu hingga saat ini,
aku tak berani menganggap smua itu bohong karena aku takut kelak kau dianggap sebagai orang yang tak jujur...

dear, lelaki yang pernah menganggapku sebagai bagian hidupnya,,,
kau tahu setiap kata yang kukeluarkan begitu selektif agar kelak kau tak merasa kecewa terhadpnya,
agar kelak aku terbiasa untuk menghargai dan menghormatimu,
namun kenapa kata-kata kasar dariku begitu drastis keluar dari bibir tipisku untukmu saat aku tahu kau telah berubah,
meski itu hanya beberapa kata unuk mengingatkan.,
kau tahu saat mengeluarkan kata-kata itu hatiku sungguh resah dan gelisah,
dan perasaan menyesal menghantuiku sepanjang malam...
ingin rasanya aku menarik kata-kata itu,
dan meminta maaf padamu takkan mengulanginya lagi,

namun entah kenapa setelah itu aku sering sekali lagi berkata kasar padamu,
hingga berulang-ulang kali....

tapi kata-kata tak percaya itu,
aku bahkan tak menyangka itu sanggup keluar dari mulutmu

Dear, lelaki yang pernah menyayangiku....
maafkan aku jika untukmu aku salah...
aku memang kasar,
dan aku memang tak akan pernah mengerti...
maka dalam ketidakmengrtianku,
tolong jangan tinggalkan aku,
dan buat aku paham berada di dekatmu....
Ns. Kidah Adzkaaunnisa
hei kau....iya kau,,siapa lagi..bukan yang dismpingmu, aku memanggilmu bodoh
hei kau, kau yang bernama pesimis...tidak bisakah kau????
ENYAH saja dari muka bumi, terutama dari hadapanku sekarang????
iya, sekarang ....tunggu apalagi, kau selalu datang tapi tak diundang???tahukah kau???mendidih adrenalinku mrndengar namamu, dan seenaknya kau masuk dalam hidupku meronta-ronta....
kumohon pergilah, jangan kau sesakkan dadaku disini, jangan kau tambah volume cairan keringat jerih payahku dengan air mata,,,
aku sungguh TAK SUDI, meski hanya sekedar mengenalmu....
Ns. Kidah Adzkaaunnisa
Aku hanya ingin menulis, menulis apapun yang kuinginkan, yang berdawai menghasilkan melodi obsesi di otakku, menulis apapun yang kumau, menulis tanpa harus terikat oleh aksara apapun, diksi ataupun sastra, serta istilah-istilah planet, dan menulis hanya untuk memenuhi tuntutan adrenalin yang semakin mendidih...

Aku Cuma mau menulis, menulis tentang mereka, tentang apa yang kubaca, kualami dan kurasakan. Menulis sesuatu yang membuatku bahagia dan tersenyum, menulis untuk menghidupi hidup yang terasa makin mencekik, menulis untuk kebutuhan pribadi...

Aku punya banyak kisah, kisah yang sangat ingin kujadikan melodi-melodi inspirasi, not not penyemangat, aku Cuma mau menulis, menulis hidup ini. Menulis untuk mereka yang akan membaca tulisanku, dan aku memang hanya ingin menulis.
Kau tahu, dengan menulis...aku merasa tidak pernah sendiri, aku bahagia melihat huruf yang menari-nari, aku senang melihat rantai-rantai kalimat yang kudelegasikan untuk berbicara, dan aku tidak ingin terikat oleh peraturan apapun.
Aku memang sudah gila, gila akan suatu tulisan yang selalu membuatku sesak nafas karena tak bisa menghasilkan karya seperti itu. Aku sering berjanji pada diriku, entah detik kemudian, menit ataupun jam dan hari yang berganti kelak, aku akan mempelajari, dan menghasilkan sebuah karya besar yang menggugah banyak orang. Aku hanya ingin dikenang lewat tulisanku, dan aku sungguh sangat ingin menulis lagi.

Tapi ketika isi kepala yang sudah di ciptakan secara dramatis untuk berpikir dan mengeja kata-kata ini tak dapat berkompromi, seketika semua itu seperti terkikis, bagai kejamnya sebuah buldoser yang memotong pohon mangga di pesantrenku, bagai air dari pipa yang habis di kamar mandi asramaku sehingga membuat tangan dan kaki ini kerja bakti, semuanya seperti tersumbat begitu saja, tak ada solusi, tak ada jawaban, dan yang tinggal hanyalah tatapan sayu mataku, dan jemari yang seolah tak punya kontraksi....

Bagaimana aku bisa menulis, aku sungguh kelimpungan, sehingga terasa seperti tertindih bongkahan batu desa keluargaku di gandrang batu, Jeneponto. Atau seperti gersangnya aspal di perapatan kampusku samata, atau setidaknya seperti gulungan pasir kasar di daerah peliharaan kuda, Jeneponto.

Ini seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan inspirasi, atau muse dalam menciptakan sebuah lagu. Aku takut, suatu kelak...rasa malasku ini akan menggunung, dan aku tak mampu mengingat satu katapun untuk diabadikan dalam sebuah rantai tulisan

Aku, meninggalkan blog, novel serta artikel yang setengah jadi. Aku membiarkan semua milikku, karyaku itu menjadi berjamur, tak berpenghuni, serta menjadi mimik kalimat memuakkan, aku tak tahu bagaimana melanjutkannya, karena aku sungguh kehabisan ide, rasa malasku yang menjadi-jadi. Malahan aku Cuma bisa membaca karya-karya masyhur orang lain, tanpa sedikitpun merasa berpotensi, berpeluang, untuk menulis karya seperti itu.

Ada satu titik dalam kehidupan kita, dimana semuanya terasa membosankan, memuakkan. Disuguhkan makanan dari surga pun kau akan berpaling, tenggorokan terasa haus, namun minum air segalon pun bukan solusi mujarab. Saat dimana semua terasa hambar, sisa memandang pelan dan lamat serta perlahan awan-awan kamar yang mulai berpulau-pulau, hape kau utak-atik berharap itu dapat berbunyi meski hanya sekedar alarm. Angry bird pun benar-benar akan menjadi burung yang marah, namun bukan karena ingin menghancurkan bongkahan batu ataupun bangunan, tapi melihatmu menekan-nekan keyboard tak henti-henti. Sampai kau merasa seperti menjadi binatang buas, mau hiu, paus, harimau, singa liar..terserah apa bahasamu, kau sadar kau sudah lebih kejam dari seekor monster lepas dari kandang


Dengan itu kau perlahan-lahan melangkah keluar rumah, membawa kamera beberapa megapikselmu, setidaknya kau dapat memotret beberapa pemandangan menakjubkan, namun yang kau dapati Cuma sesaknya jalan, hunusnya kendaraan klakson sana-sini, pusat perbelanjaan yang seperti isinya tak akan habis meski dijamahi seribu orang dalam sejam, kau tahu semua itu terasa membosankan, dan kau mulai mengasingkan diri dalam sebuah Gramedia, ataupun toko pakaian dan sepatu, atau kau akan memilih ke supermarket mencari snack atau minuman kesukaanmu, setelah melihat harganya yang akan segera menguras kantongmu, kau diam-diam umpet-umpetan keluar dari sana, mencari tempat yang bisa menurunkan tensimu saat itu juga, kau dapati sebuah kursi hijau tua panjang dekat sebuah pohon ilustrasi di dalam sebuah mal, kau duduk disitu, memandang lamat-lamat mobil yaris yang terparkir megah, sebagai bahan pajangan untuk sales yang mencari nafkah. Kau mengkhayalkan suatu saat, kau mengendarai mobil itu sambil memakai kacamata hitam mengantar anakmu ke sekolah, atau kau memarkirnya di gedung perusahaanmu, dibawah naungan seorang supir berjas yang siap kau panggil kapan saja.

Atau kau lebih memilih diam dirumah, kembali menatap awan-awab kamar yang menguning karena pulau hujan, buku dan kitab tebal kuliah yang terparkir di rak bukumu, novel-novel berserakan penuh garis lipatan yang kau sisipkan di bawah bantalmu, kau rapikan lemari yang tidak terbongkar, kau lap rak bukumu yang tidak berdebu, dan kau akan mengucir rambutmu yang sedari tadi sudah terkucir, dan kau berdehem pelan, duduk di pinggir ranjang sambil menarik nafas panjang. Lamat-lamat tanganmu mengambil gitar lalu memetik senarnya pelan karena tak satupun nada yang kau tahu, lama-lama kau memetiknya dan itu kembali akan terasa membosankan. Kau letakkan gitar kasar, dan kau akan mulai resah...

Hidup di dunia ini, sebagai manusia...yang katanya sempurna dari makhluk lain, apa sebenarnya yang dicari, apa sebenarnya yang diinginkan, dan apa sebenarnya yang ingin diwujudkan, dan ketika semua itu telah tercapai, apa lagi yang akan kau lakukan...

Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita tidak pernah tahu dan betul-betul sadar apa yang akan terjadi esok hari. Mengapa waktu yang diberikan untuk kita hari ini begitu dimanfaatkan untuk hal yang berbau hura-hura, apa karena hanya ingin menikmati masa muda...ataupun hanya sekedar pelampiasan biadab belaka.

Dan kau tahu, dari cerita kecil tentang kehidupan itulah yang memaksaku mengabadikannya dalam sebuah catatan publik ataupun pribadi, karena aku sungguh khawatir, jika saja serentetan kejadian dalam hidupku tak dapat aku simpan untuk dikenang esok hari. Namun survei membuktikan, ternyata aku juga manusia...

(Akidah, 9-9-12 at 21.19)
Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hujan di luar masih sangat deras. Malam ini tepat malam terakhir dari liburan idul adha selama seminggu. Itu sudah bisa dikategorikan libur panjang bagi kami, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan yang bisa dikatakan miskin libur. Namun, hal itu bukanlah suatu hal yang dapat memudarkan semangat untuk kembali masuk kuliah. Buktinya saja, hari ini entah sudah beberapa pesan singkat yang masuk di HP butut kesayanganku, sesuatu yang menjadi pemberian bapak 2 tahun lalu…yah, tak bisa dipungkiri, pesan singkat itu hanya untuk menanyakan tentang kepastian perkuliahan besok. Memang benar, aku sebagai mahasiswi yang berasal dari Makassar yang menjadi daerah berdirinya UIN Alauddin harus selalu membiasakan diri dengan berbagai pesan singkat seperti itu. Sepertinya teman-teman masih malas kembali ke Makassar, kebiasaan seperti ini juga terbentuk dari kebiasan dosen sendiri, dosen yang notabene super sibuk sampai harus mengorbankan kami, mahasiswanya jika saja pada kuliah-kuliah perdana mereka tidak masuk.
Guntur menggelegar, namun ini tidak boleh membuyarkan rencanaku untuk nongkrong di warnet dekat rumah. Memang benar, dan tidak terlepas dari kebiasaan anak seusiaku, cuma ingin menambah postingan FB dan mencari info-info kuliah dari grup yang sudah ada. Kupakai jaket “warnet” ku yang mulai kumal serta kerudung pasang yang masih setia tergantung di pojok kamar. Melihat aku bersiap-siap, ibu yang asyik menonton sinetron kesukaannya akhirnya buka suara,
“Nurul, mau kemana nak??”
Ibuku sepertinya sudah hafal betul semua kebiasaanku, melihat aku memakai jaket “Warnet” serta kerudungnya akan membuatnya menebak bahwa malam ini aku pasti berencana untuk menghabiskan malam dingin ini di tempat itu, ditambah lagi dengan aku yang tidak menghiraukan pertanyaannya karena sibuk mencari flashdisk yang entah kutaruh dimana terakhir kali.
“Mau ke warnet lagi?”, ibuku bertanya tapi tatapannya tetap ada TV
“Iye bu, mau cari tugas”, jawabku singkat
“Jangan lama-lama rul, udah jam setengah 9, nanti hujan tambah deras”, ujar ibu khawatir
Aku sudah hafal pesan ibu ini, ia tak pernah lelah berpesan seperti ini setiap kali ia melihatku akan keluar rumah pada malam hari. Aku tidak menjawab, segera kucari payung lipat favoritku, aku pun berlalu.
Jarak warnet dari rumahku sangat dekat, mungkin hanya jarak 3 rumah saja. Aku emang tidak seberuntung mahasiswa lainnya yang punya laptop ataupun modem sendiri, then, whereever, mereka bisa internetan dimana saja. Bagiku, asal aku sudah dapat sedikit menyisihkan uang belanja harian pemberian bapak untuk internetan di warnet, itu sudah cukup membuatku senang bukan kepalang. Perangkat komputer biasa di rumah saja sudah cukup membuatku bersyukur memilikinya, karena dengan itu, aku dapat menyelesaikan tugas kuliah seperti teman-teman yang lain. Jadi, semuanya bukan halangan sama sekali untuk belajar.
Aku sudah duduk depan monitor, kuambil tempat paling strategis, dekat kipas angin. Hehehe, meski hujan membuat semuanya dingin, namun kegerahan di warnet cukup tidak bisa berkompromi dan membuatku tidak nyaman, tempat ini juga jauh dari polusi asap rokok anak-anak muda yang juga memakai fasilitas warnet ini di ujung sana yang biasanya hampir membuat dadaku sesak. Kubuka facebook, ternyata sudah banyak notify baru yang belum kulihat. Keasyikan membaca notify, aku hampir tak sadar sejak tadi sudah ada chat yang belum terjawab, hehehe..ternyata dari jenk fika, teman sekelas kuliah di keperawatan.
“Maaf sodari!” balasku lama
“Dak apa-apaji kawand, BTW jadi kuliah besok??”
Aduh, lagi-lagi pertanyaan yang sama untuk sekian kalinya harus kujawab, entah berapa kali sudah aku  mendapat pertanyaan yang sama hari ini.
“Datang saja jenk, kan gak ada ruginya”, balasku
“Sudah ada jadwal keluar yah?”, ia kembali bertanya.
“Sepertinya belum, entahlah! Saya juga belum pernah ke kampus”, jawabku meyakinkan.
“Kalo begitu, jam berapa mau datang besok jenk?”, ia bertanya balik
“Jam 8”, kujawab seperti ini karena memang pada semester sebelumnya, jadwal kuliahku dimulai dari jam 8 pagi tepat, kali ini sudah masuk semester 2, mungkin saja jadwalnya masih sama.
Cepat amat, jam 9 saja!”, sarannya di chat.
“Mmm, biar jam 8 saja, hitung-hitung mewanti-wanti”, ujarku membalas chatnya terakhir kali sebelum dia off. Temanku ini biasa disapa fika, lengkapnya Nurfika Arwiyanti. Ia biasa ku panggil “jenk”, mungkin saja ini karena dirinya betul-betul unik. Hehehe.
Setelah Fika off, aku juga segera beranjak, tak terasa sudah pukul 10 malam, orang-orang di warnet juga sudah mulai berkurang. Hujan sudah berhenti, tapi rintik kecil masih terdengar, mudah-mudahan di luar tidak banjir, harapku dalam hati.
Kututup penjelajahan mayaku malam mini dengan sebuah status “ Semoga semuanya baik-baik saja”, mudah-mudahan ini bisa menjadi doa yang baik untuk aktifitasku berikutnya. Amin.
******
Dengan diantar kakak, aku berangkat ke kampus tepat pukul 07.15, pagi-pagi benar aku sudah sampai di sana. Kampus masih sepi. Memang benar, suasana libur masih jadi parasit di kalangan mahasiswa, meski semuanya sudah tahu, hari ini adalah kuliah perdana semester genap. Satu persatu motor melintasiku, ternyata bebarapa mahasiswa di fakultas lain juga sudah mulai menampakkan batang hidungnya, tapi lain halnya dengan fakultas yang ada di depanku sekarang , aku mulai merinding jika pada akhirnya aku harus mengetahui bahwa aku masih sendiri di fakultas ini.
Pukul 07.45, kuambil langkah pelan ke arah fakultas. Kualihkan pandanganku ke arah parkiran, sudah ada sebuah motor disana. Hfft…aku lega karena akhirnya tahu aku tak sendiri.
Suasana sepi ini makin mencekam saja, sipakah gerangan pemilik sepeda motor misterius itu. Aneh. Aku tetap memberanikan diri untuk masuk sampai depan ruang jurusanku sendiri, keperawatan. Tak ada seorangpun beraktivitas di dalamnya, namun yang lebih ironis roster semester genap sudah melekat rapi di jendela. Ternyata benar, jadwal kuliah keperawatan semester 2 masih sama, jam 08.00. Belum sempat hilang keterkejutanku, tiba-tiba sebuah suara menyelinap tegas di telingaku,
“Mahasiwa semester berapa?”, sorotan matanya tajam, seolah hendak menerkam diriku yang berdiri terpaku di tempat itu.
“Se..se…se…semester 2 keperawatan bu”, aku tiba-tiba gugup setengah mati.
“Dimana temannya yang lain?”, ia sama sekali tak mengedipkan mata, terus menatap ke arahku yang sudah mulai pucat.
“Mmm, ma..ma…masih di jalan bu”. Tuhan!!kali ini aku harus berbohong, apa jadinya jika aku bilang rata-rata temanku masih di daerahnya masing-masing, mungkin saja aku akan habis digilas amarah di tempat ini.
“Kalo gitu cepat hubungi, jam 08.00 saya sudah mau masuk kelas, lewat 15 menit saya sudah tidak hitung di kehadiran”.
MAMPUS, ini seperti durian runtuh yang sipa menerkam kepala siapa saja yang ada dibawahnya, mungkin bagiku baik-baik saja, tapi bagi yang lain, mana bisa secepat kilat ada di tempat ini. Sepertinya di adalah dosen jam pertama di kelasku, tanpa banyak omong, kuambil segera HP milikku.
First, ketua tingkat…..
OMG, mengapa pada saat-saat genting seperti ini sinyal malah tak bisa di ajak kompromi, tanpa pamit pada ibu itu, aku berlari keluar mencari sinyal. Alhamdulillah dapat.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi, the number…..
Ahhh.. sepertinya aku tak dapat menuda beberapa saat lagi. Kucoba hubungi teman yang lain, tanpa ku tahu siapa sudah yang kuhubungi, aku hanya berkata,
“Kawan, cepatko! adami dosen, alfa yang terlambat”, ujarku cepat. Pulsaku hampir habis, segera ku sms yang lain sebisaku.
Aku kembali masuk, aku yakin urat-urat cemas masih nampak di wajahku, bagaiamana ini?
“Sudah ada temannya?” pertanyaan ibu itu mengiringi bunyi langkah sepatu miliknya, menghampiriku yang kembali pucat.
“Sudah saya telfon, bu!”. Urat cemas, tolong! Kali ini jangan nampak dulu…harapku dalam hati.
“Kalo begitu, kita masuk kelas saja, kalau sudah datang temannya, biar saja terlambat”. Ibu itu membalikkan badan, ku ikuti dia dari belakang, bagaimana jadinya kalo cuma aku sendiri yang diajar.
Kali ini aku betul-betul hanya berdua dengan dosen itu, ia mulai menjelaskan kontrak-kontrak kuliah yang membuatku seakan tercekik.
Tok.tok.tok.
“Ya…masuk”, si ibu dosen menjawab ketus
2 orang terdakwa jam 9 masuk perlahan-lahan, ibu dosen berhenti menjelaskan kontrak.
“Sekarang jam berapa?” ibu dosen kembali bertanya, tapi kali ini aku bersyukur, sorotan tajam itu tidak ke arahku, tapi ke arah para terdakwa di belakangku.
“08.15 bu”, terdakwa juga menjawab gugup.
Ibu dosen tidak merespon, ia kembali menjelaskan kontrak. Aku kembali lega.
“Nurul, nurul….”, Lia, terdakwa jam 9 pertama, memanggilku dari belakang.
“Apa?”, ujarku membalikkan badan.
“Ada pulpenmu?”. Lia bertanya polos. Seakan tak sadar si dosen killer tengah menjelaskan di depannya.
Anak ini sudah terlambat, tidak bawa pulpen pula. Hfffttt.
“Pulpenku saja kudapat di lantai tadi”, kuakui aku juga lupa membawa pulpen, tapi sepertinya aku masih lebih beruntung dari anak ini. Nama temanku yang satu ini Syahrulia, ia akrab di sapa Lia, ia salah satunya yang mengirim pesan singkat di HPku kemarin akan datang hari ini jam 9.
Beberapa menit berlalu, akhirnya pulsaku habis tak sia-sia. Satu persatu terdakwa jam 9 yang lain mulai berdatangan, ada yang datang sambil memasang senyum termanisnya, Mia contohnya, ada juga yang pucat seperti diriku, ada yang santai saja seakan tak ada yang salah pada dirinya, dan terakhir…Jenk Fika, terdakwa jam 9 terkahir masuk setelah mengetuk pintu sambil jalan mengisyaratkan malu-malu, “Kidah..makasih nah!Ampunma….”, wkwkwkwk. Kali ini aku ingin sekali tertawa di dalam hati, melihat tingkah aneh semua temanku yang terlambat hari ini.
Dasar Mahasiswa jam 9.

(Cerpen ini terinspiratif dari peristiwa tragis yang menimpa saya dan teman-teman kuliah sewaktu semester 2, tahun 2010 silam, kemudian direnovasi dalam bingkai cerpen serta catatan pribadi di FB saya, diikutkan dalam lomba cipta cerpen tahun 2011 yang dalam porseni yang diadakan oleh BEM FIKES UIN 2010-2011)
Ns. Kidah Adzkaaunnisa

Hujan masih turun, butiran-butirannya membasahi tanah dan gundukan pasir meski curam, sisa-sisanya masih Nampak semburat dijejak-jejak alas kaki para pejuang islam di kota ini. Nampaknya jejak-jejak itu masih akan terus merogoh dalamnya tanah sekitar 2 cm ke bawah sampai beberapa waktu ke depan semenjak aku menginjakkan kaki di Negara ini atas nama kemanusiaan, aku telah menjadi saksi yang sengaja bisu melihat sebuah kemajuan peradaban yang luar biasa, namun entah karena apa, peradaban itu hancur lebur hanya karena sebuah perselisihan sepele, katanya. Ahh, sudahlah, aku juga tak mau ambil pusing, toh! Aku kesini hanya karena mengemban sebuah amanah dan misi dari negaraku,
“diah, hal akalti ukhti?”[1].
Lamunanku akan buliran hujan dibuyarkan oleh suara lembut temanku,yah!kupikir suara ini menyamai halusnya suara hujan sedari tadi.
Uh, afwan ukhti, lam! Lam akul[2]
Aku menatap temanku, yang menemaniku bicara sedari tadi, mungkin kerutan di wajahnya bukan menampakkan tanda tanya mengapa aku belum makan, tapi kenapa sedari tadi aku terus merenung tanpa maksud disini.
Nama Negara ini adalah Andalusia. Setahuku, agama yang pesat dan mempunyai peradaban yang maju disini adalah Islam. Aku sendiri, aku berasal dari baghdad, sebuah Negara yang juga mayoritas islam, tapi aku atheis[3], karena sampai saat ini dalam syaraf-sayaraf kabel aliran darah yang menjalar di cerebrum[4] dan cerebellumku [5], aku tidak memahami apa maksud agama, yang katanya sebuah tiang kehidupan, pengarah hidup, tujuan hidup. Tetapi entah kenapa aku masih keras kepala meyakini bahwa tanpa agama pun, kita akan tetap hidup karena kita punya akal.

uh, kazalik!Izan, hayya nazhab ma’an lil akli ilal matbakh, ukhti!”[6]
 Ana ashif, ukhti!faltatafaddhali awwalan!”[7]
Kutampakkan senyum manis pada sahabatku ini untuk menolak halus ajakan makannya, ia adalah seorang muslimah, dan dia adalah guru sebuah madrasah di Andalusia, aku menemuinya di bis saat akan mencari flat untuk kutinggali di Negara ini. Dia asli Andalusia, namanya Sarimah Binti Al-Khadeed.
uh, laba’sa ukhti!, izan, ana awwalan[8]
Ia segera beranjak, satu hal dari sarimah, setiap ia akan bepergian keluar flat, dia menggunakan secarik kain untuk menutupi kepala hingga dadanya, sarimah pernah bilang itu adalah “jilbab”, hijab untuk wanita.
Sarimah berlalu. Aku sendiri kehilangan selera makan sejak tadi, mungkin karena hujan yang membuat cuaca makin dingin, hingga rasa lapar tak hinggap di perutku.
Hujan reda, namun bulir air masih membasahi tanah, aku bergegas keluar flat, kupakai jaketku yang sudah agak kusam sambil mengucir rambutku seperti biasa, hanya satu tujuanku saat ini. Perpustakaan.
Perpustakaan letaknya tak jauh dari flatku, aku sengaja mengambil flat di dekatnya, agar aku bisa sering berkunjung ke tempat itu, disana banyak sekali referensi kesehatan yang bagus dan aktual. Suasananya sangat tenang dan bersahaja.
Di jalan, ketika hampir sampai ke perpustakaan,
Bruuuukkkk…..
Serentetan buku-buku jatuh bertebaran dihadapanku. Astaga, ternyata tanpa melihat ke depan aku telah menabrak seseorang yang membawa buku-buku ini. Aku  bergegas menunduk dan merapikan buku-buku yang jatuh itu.
ana ashif jiddan, la anzuruka amami, akhi![9].
laba’sa
Aku kembali berdiri, memberikan buku-buku padanya, sejenak ia menatapku tajam, kembali menunduk, kemudian berlalu setelah sebelumnya telah berucap “syukran[10] padaku meski kedengaran samar dan malu-malu.
afwan!”[11] lirihku.
Aku rasa dia baru disini, mungkin saja pegawai perpusatakaan yang baru,. Wajahnya bercahaya, Nampak teduh dan tenang, mungkin saja di seorang agamawan.
Ahh! Kenapa aku jadi mendeskripsikannya seperti ini, aku sampai lupa tujuan awalku kesini.
 tisma’i…[12], saya akan meminjam buku-buku ini!”
Ahh! Dia lagi, lelaki tadi. Ternyata dia memang pegawai baru disini.
hal anta andulisiyi?” [13]sapaku membuka pembicaraan.
Ia menatapku heran. Tiba-tiba saja ia menjawab,
can you speak English please[14]?”
Ohh, rupanya ia tak menguasai bahasa arab, pantas saja ketika bertabrakan denganku tadi, ia hanya mengucapkan beberapa kata.
oh, yes! I can...” sigapku. Untung saja, sebelum aku dikirim ke negeri ini, aku diwajibkan untuk meguasai beberapa bahasa .
Are you andalusian?” tanyaku lagi
Not, I’m Indonesian” ujarnya tersenyum tipis.
Ternyata dia adalah orang Indonesia, setahuku orang Indonesia juga mayoritas islam, mungkin dia diantaranya.
and you?” ia bertanya balik.
I come from Baghdad” ujarku pelan.
Ia kembali menunduk.
Hening.
My name is Ardiah” ujarku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan padanya.
Ia kembali menatapku heran, apakah ada yang salah pada diriku, ia tak juga ia membalas uluran tanganku sampai akhirnya ia mengatupkan kedua belah tangannya.
My name is Mohammed Yusuf, and you can call me yusuf!”
afwan, didalam islam, diharamkan bagi seorang pria untuk menyentuh wanita selain muhrimnya, dan saya tak dapat membalas uluran tangan anda” lanjutnya dengan English yang fasih.
“Nevermind![15]”, sanggahku. Aku sedikit malu, ternyata islam mepunyai beberapa aturan tertutup seperti ini.
******
            “Ardiaaaahhhh…..”
Dibalik pintu, sarmiah terlihat sangat panik histeris, nafasnya tersengal-sengal.
limadza sarmiah?[16]
“Zihabul’Aan..zihabul’an…!” [17]
“Walakin limadza, ukhti???” [18]
“Zihabul’an ma’aniy, bisur’ah!”[19]
Sarmiah memegang tanganku erat, ia menarikku turun keluar flat.
Apa yang telah terjadi, apa yang sedang aku saksikan saat ini. Ribuan manusia membawa senjata perang, apakah akan terjadi pertumpahan darah lagi?
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Alllaaaaahu Akbaaarrrr…”
Teriakan takbir menjuru, Tidak! Tidak!
Yusuf!yusuf! dimana dia sekarang, apakah dia ada diantara ribuan orang itu, apakah dia ikut berperang?? Aku melepas tangan sarmiah, menerobos lari diantara kawanan tentara bersenjata. Pusatku hanya satu! Yusuf..
“Yusuf!!”
Mataku tertuju pada seorang pemuda dihadapanku sekarang.
“Yusuuufff! What are you doing now, please! don’t!” aku tergesa menghampiri yusuf.
“Ardiaaahhh…”
“Yusuuuff! Please! Don’t!” ujarku memohon. Air mataku mengalir.
“Demi Allah dan RasulNya, aku tak akan pernah melepas jihad ini”
“Demi Allah dan RasulNya, demi Allah dan RasulNyaaa….”
Hatiku serasa terkoyak, yusuf sama sekali tak mendengar pintaku.
“Yusuf, please! Jangan kau korbankan dirimu untuk hal seperti ini!, ikutlah aku! Ikutlah aku! Ikutlah aku ke Baghdad, disana mayoritas muslim, kau bisa hidup dengan damai, tanpa pertempuran, tanpa pertumpahan darah” isakku.
“Demi Allah dan RasulNya!!Aku akan tetap berada disini, diah!”
Aku menjauh dari yusuf, karena dia tahu aku non muslim.
Asssyyyha…du..allaaa…ilaaaha’…illlaLllah.., wa Asssyyyha…du…an..na Muhammmadarrrr….Rasuuulullah
Dan alam pun menjadi saksi.


[1] Sudah makan?
[2] Maaf, saya belum makan
[3] Tidak beragama
[4] Otak besar
[5] Otak kecil
[6] Kalau begitu, mari makan bersama!
[7] Maaf! Kamu duluan saja!
[8] Tidak apa-apa! Saya duluan
[9] Maaf, saya tak melihatmu di depanku!
[10] Terima kasih
[11] Sama-sama
[12] Permisi
[13] Apakah kamu orang Andalusia?
[14] Bisakah kamu berbahasa inggris?
[15] Tidak apa-apa!
[16] Apa yang terjadi?
[17] Kita pergi sekarang
[18] Tapi, kenapa?
[19] Pergilah bersamaku sekarang, cepatlah!

(Cerpen ini diikut sertakan dalam lomba "Cipta essai dan cerpen" yang diadakan oleh sinovia (Lembaga Pers FK Unhas, 2010. Dan alhamdulillah, tidak masuk nominasi apapun)